Jakarta, www.istiqlal.or.id — Penulis sekaligus sutradara ternama Habiburrahman El Shirazy atau yang akrab disapa Kang Abik, hadir mengupas tuntas makna literasi, seni, dan film sebagai sarana membangun peradaban serta memperkuat dakwah Islam di era digital, dalam acara talkshow Ngaji Rasa dan Imajinasi: Mendekatkan Gen Z pada Nilai-Nilai Islam melalui Literasi dan Sinema Islam, di Perpustakaan Istiqlal, Jakarta, Sabtu (25/10/2025).
Dalam kesempatan itu, Kang Abik dengan gaya khasnya yang lugas dan inspiratif, menekankan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi fondasi dari peradaban dan kemajuan bangsa.
“Literasi itu budaya ilmu, Allah mengajarkan manusia dengan perantaraan bacaan dan tulisan. Karena itu, tidak ada alat transfer ilmu yang lebih dahsyat daripada membaca dan menulis,” ujar Kang Abik di hadapan para peserta.
Kang Abik menjelaskan bahwa dasar perintah membaca dalam Islam tercantum pada wahyu pertama, Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan. Menurutnya, umat Islam harus menjadikan ilmu sebagai budaya hidup agar tidak mudah tersesat dalam berpikir maupun bertindak.
Kang Abik menyoroti budaya bangsa yang maju yang menjunjung tinggi literasi. Ia mencontohkan perbandingan antara Indonesia dan Singapura, di mana tingkat literasi masyarakat menjadi salah satu faktor penentu kemajuan.
“Kalau ingin maju, syaratnya literasi. Negara dengan literasi tinggi akan memimpin. Yang membaca lebih dulu, akan menemukan lebih dulu,” tegasnya.
Penulis novel legendaris Ayat-Ayat Cinta itu mengingatkan agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga kreator ide dan inovasi. Sebagaimana yang diungkapkanulama besar Mesir, Syekh Muhammad Al-Ghazali, “Ambillah ide sebelum ide orang lain mengambilmu.” Menurut Kang Abik, generasi muda harus aktif menciptakan gagasan, bukan sekadar mengikuti arus tren global.
Literasi sebagai media dakwah, menurut Kang Abik juga berkaitan erat dengan peran seni dan film. Islam, kata dia, adalah agama yang selaras dengan fitrah manusia, termasuk fitrah mencintai keindahan.
“Fitrahnya manusia itu suka keindahan. Maka Islam tidak menolak seni, selama seni itu membawa kepada kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah,” jelasnya.
Adapun seni, jelas Kang Abik dapat menjadi masalah ketika dijadikan sarana maksiat atau melalaikan ibadah. Sebaliknya, ketika seni menggerakkan jiwa menuju kebaikan, maka ia menjadi bagian dari ibadah. Kang Abik mencontohkan bagaimana lagu-lagu religius atau syair-syair bernilai dakwah mampu menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Sebagai penulis dan sutradara, Kang Abik berbagi pengalaman bagaimana karya-karyanya, mulai dari Ayat-Ayat Cinta hingga Ketika Cinta Bertasbih, menjadi media dakwah yang efektif dan mampu menjangkau jutaan orang. Ia menuturkan bahwa satu film Islami yang berkualitas, nilainya bisa setara dengan seribu buku dakwah.
“Ayat-Ayat Cinta butuh empat tahun untuk mencapai sejuta pembaca, tapi versi filmnya bisa ditonton empat juta orang hanya dalam dua bulan,” paparnya disambut tepuk tangan peserta.
Menjawab pertanyaan peserta tentang alasan dirinya memilih tema cinta dalam banyak karya, Kang Abik menjelaskan bahwa cinta adalah kebutuhan dasar manusia dan jalan menuju kedekatan dengan Allah.
“Manusia itu ingin mencintai dan dicintai. Dalam Islam, derajat tertinggi ibadah adalah cinta kepada Allah. Maka berbicara tentang cinta adalah berbicara tentang fitrah manusia,” ungkapnya.
Menurutnya, kisah cinta yang digambarkan dalam novel dan filmnya bukan sekadar romantika duniawi, tetapi sarana untuk menanamkan nilai-nilai tauhid, kesetiaan, dan akhlak mulia. Ia menambahkan, banyak ayat Al-Qur’an yang disampaikan dalam bentuk kisah, karena kisah lebih mudah menyentuh hati pembaca.
Tips Berkarya pada Bidang Sastra dan Film
Kang Abik juga berbagi tips menulis kepada peserta yang ingin menekuni dunia sastra dan film. Menurutnya, kunci utama dalam menulis adalah ketelitian dan kejujuran dalam menggambarkan realitas.
“Sastra adalah detail dan keindahan. Tulislah dengan riset yang kuat, dengan kejujuran, dan niat yang baik. Kalau karya itu lahir dari hati, maka akan sampai ke hati,” pesannya.
Kang Abik mengingatkan agar para penulis muda tidak takut memulai dari hal kecil. “Kalau kamu menulis tentang kampungmu sendiri, tulislah dengan cinta dan kedalaman. Dari situ pembaca akan merasakan kejujuran karya kita,” tambahnya.
Menutup sesi, Kang Abik mengajak peserta untuk memanfaatkan media digital secara kreatif. Karena platform seperti TikTok dan media sosial lainnya bisa menjadi sarana efektif untuk berdakwah jika diisi dengan konten positif dan bernilai edukasi.
“Jangan hanya bilang ‘haram’ lalu menjauh. Dunia digital sudah ada di depan mata kita. Maka tugas kita adalah memberi alternatif yang baik,” jelas Kang Abik.
Menurutnya, dakwah di era sekarang menuntut cara penyampaian yang sesuai zaman, tanpa meninggalkan nilai syariat. “Kalau kemungkaran menyebar lewat media sosial, maka kebaikan juga harus disebarkan lewat media itu,” tandasnya menutup sesi dengan penuh semangat. (VISCHA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.