Oleh : Dr. KH. Samsul Ma’arif, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah SWT mengingatkan kita lima kali sehari tentang waktu. Shalat yang menjadi spiritualitas dapat dilihat dari sikapnya yang efektif menggunakan waktu. Ia tidak mau waktunya berlalu sia-sia, karena ia yakin bahwa waktu adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia.
Shalat adalah kebersihan. Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam Qur'an Surat al-Syams [91]: 9 sampai 10, Allah subhanahu wata'ala berfirman, yang artinya:
Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya.” (QS. al-Syams [91]: 9 sampai 10)
Dengan kata lain, siapa yang shalatnya menjadi nilai spiritual maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih. Hal inilah yang menjadikan manusia mulia dihadapan Allah subhanahu wata'ala karena nilai ketakwaaanya itu. Salah satu ciri orang yang bertakwa ialah mereka yang menegakkan shalat. Allah SWT menyebutnya dalam firman-Nya di QS. al-Baqarah/2 ayat 3, artinya:
Artinya: "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. al-Baqarah/2 ayat 3)
Hal di atas penting kita perhatikan bahwa kegiatan salat itu disebut dalam Al-Qur’an bukan dengan kalimat “mengerjakan shalat” melainkan “menegakkan shalat” (iqamah al-shalah).
Ada berbagai derivasi dari kata iqamah itu, seperti yuqimuna alshalah, aqamu al-shalah, aqimu al-shalah dalam beberapa bentuk kata kerja, yang idenya ialah bahwa shalat itu tidak cukup dikerjakan tetapi ditegakkan. Perintah itu bukan berbunyi “kerjakanlah shalat” atau “bersalatlah kamu”, tetapi “tegakkanlah shalat”.

Menegakkan salat ialah mengerjakan shalat dengan sebenar-benarnya dan menepati atau memenuhi konsekuensi-konsekuensinya sebagai orang yang shalat. Paling tidak, tuntutan yang diharapkan akan dipenuhi orang yang shalat itu diisyaratkan di dalam penutup shalat itu sendiri.
Shalat dimulai dengan takbirah al-ihram, artinya takbir (kalimat Allahu Akbar) yang mengharamkan segala pekerjaan yang bersifat horizontal atau sesama manusia. Sebab dengan Allahu Akbar, kita menyatakan diri sedang membuka hubungan dengan Tuhan yang dimensinya vertikal, yang sangat pribadi dan personal, tidak bisa diketahui dan diintervensi oleh orang lain.
Tetapi shalat itu harus diakhiri dengan salam, yaitu membaca “al-salamu ‘alaikum wa rahmah Allah”. Idenya ialah bahwa shalat harus menghasilkan pernyataan baik kepada sesama manusia dengan menyampaikan do’a keselamatan. Itu adalah konsekuensi dari shalat. Karena itu, shalat seharusnya menghasilkan budi pekerti luhur.
Orang yang melakukan shalat tetapi tidak mempunyai budi pekerti luhur, tidak ramah kepada manusia, dan sebagainya, maka menurut surat al-Ma'un justru bisa lebih celaka. Surat Al-Ma'un dimulai dengan suatu pertanyaan retorik, Allah SWT berfirman yang artinya:
Artinya: “Adakah kau lihat orang yang mendustakan agama? Dialah yang mengusir anak yatim (dengan kasar). Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yang alpa dalam salat mereka” (QS. al-Ma'un /107: 1-5).
Yang dimaksud di sini bukan lupa dalam arti shalat itu terlewat karena asyik bekerja atau hal-hal lain. Lupa melakukan sesuatu karena betul-betul lupa itu justru tidak apa-apa. Malahan ada do’a di dalam al-Qur’an, yaitu “Ya Allah, janganlah menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan” (QS. al-Baqarah/2: 286).
Ada sebuah hadits yang menggambarkan bahwa kalau kita berdo’a seperti itu maka Allah SWT menjawab, “Engkau telah berbuat, Engkau telah berbuat (tidak apa-apa lupa)”. Jadi yang dimaksud “Yang alpa dalam salat mereka” ialah orang yang shalat setiap hari tetapi tingkah lakunya seperti orang tidak shalat, atau shalatnya hanya untuk riya’ atau pamrih, dalam istilah sosiologi disebut sebagai rule expectation.
Seperti seorang yang sudah haji melakukan shalat karena orang berharap (expect) dia shalat. Jadi dia shalat atau beribadat atas dasar rule expectation. Maka menegakkan shalat itu serius sekali. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa shalat itu tiang agama.
“Barang siapa menegakkan salat maka dia menegakkan agama, dan barangsiapa meninggalkan salat maka dia menghancurkan agama."
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Maun [107] ayat 1 sampai 3, yang artinya:
Artinya : “Adakah kaulihat orang yang mendustakan hari kiamat (bohong dalam beragama? Dialah orang yang mengusir anak yatim (dengan kasar) (tidak peduli dengan nasib anak yatim), dan tidak mendorong memberi makan (tidak pernah dengan sungguh-sungguh memikirkan nasib) orang miskin” (QS. al-Maa'un/107: 1 - 3).
Ini adalah indikator kepalsuan beragama. Dalam bahasa kontemporer, indikator kepalsuan beragama adalah kalau orang tidak mempunyai solidaritas sosial, social concern, tidak peduli dengan masyarakat dan sebagainya.
.jpg)
Jamaah sidang shalat jumat yang dimuliakan Allah SWT
Shalat dan bentuk ibadah-ibadah lainnya dalam Islam pada dasarnya adalah ritus. Orang tidak boleh berhenti kepada ritus itu sendiri, tetapi penghayatannya, sebab ritus itu sesungguhnya hanya simbolisasi. Ketika orang shalat melakukan rukuk, berdiri, sujud; dan seluruh aktivitas dalam shalat, itu sebetulnya simbolisasi ketundukan manusia kepada Rabbnya, dan itu nature manusia. Orang modern akan sulit sekali menekuk lututnya, karena terbiasa duduk di kursi.
Maka ketika Malcom X menjadi Muslim dan kemudian mulai shalat, dia membuat suatu statement yang sangat menarik. Katanya, yang paling sulit bagi manusia hidup ternyata ialah menekuk lutut yang merupakan bagian dari anatominya sendiri, karena dia tidak biasa menekuk lutut. Tetapi kalau kita berhenti pada menekuk lutut pada waktu ruku atau sujud tanpa menghayatinya, tidak akan mempunyai fungsi apa-apa. Itulah yang diperingatkan Allah dalam al-Qur'an Surat al-Ma'un ayat 4 sampai 6 yang artinya, “Maka celakalah orang-orang yang salat. Yang alpa dalam shalat mereka. Yang hanya ingin dilihat (orang).”
Orang tidak boleh beragama secara simbol. Tetapi tidak berarti bahwa simbol tidak penting. Simbol tetap penting karena dapat menyederhanakan persoalan. Uang, misalnya, adalah simbol. Orang yang bepergian tidak takut kelaparan kalau ia membawa uang. Ketika lapar dia masuk warung, dia tukar uang itu dengan nasi. Jadi uang itu sendiri nilainya instrumental yang punya nilai intrinsik adalah nasinya.
Demikian juga shalat, yang sebetulnya untuk mendidik manusia kepada arah yang lain. Kalau orang beragama berhenti hanya dalam shalat itu sendiri tanpa menangkap maknanya, itu sama saja dia ke luar kota membawa uang banyak tetapi pada waktu lapar dia makan uang itu, tidak masuk warung. Banyak sekali orang beragama hanya berhenti sampai di situ.
Seringkali kita bertanya pada diri kita “Mengapa shalat, yang sesungguhnya baik dan bermanfaat itu, tidak merubah kehidupan kita? Mengapa shalat tidak memperbaiki moral kita, juga tidak mengubah kita ke dalam suatu kekuatan yang diabdikan untuk Allah? Dan mengapa kita terus hidup dalam keadaan memalukan dan kalah?"
Dalam hal ini jawaban yang sering kita dapatkan adalah, karena kita tidak melakukan shalat secara teratur atau tidak sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.