Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Istighosah: Ujian Kegelapan Hati dan Syahwat dalam Perspektif Al Hikam

Admin 14 Jan 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. KH. Bukhari Sail Attahiri, Lc., M.A. 

Melanjutkan pembahasan Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari  yang disampaikan pada malam Jumat di Masjid Istiqlal, oleh  Dr. KH. Bukhari Sail Attahiri, Lc., M.A. dengan tema “Rubamā warada ‘alaykal zulmu li yu‘arrifaka qadramā manna bihi ‘alaik”

KH. Bukhari menjelaskan bahwa zulm tidak selalu bermakna sebagai keburukan semata, tetapi dapat dimaknai sebagai ujian. Ujian ini bisa berupa godaan syahwat, kelalaian, maupun terjerumus dalam kemaksiatan. Dalam pandangan Ibnu Atha’illah, kondisi tersebut kerap hadir sebagai ujian dari Allah SWT untuk mengukur sejauh mana kualitas iman dan takwa seorang hamba. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”, (QS. Al-Baqarah: 155).

“Kadang-kadang kita dihadapkan pada situasi yang sangat sulit, seolah-olah kita dipaksa untuk bermaksiat. Di situlah sebenarnya Allah sedang menguji kita,” ujar Dr. Bukhari di hadapan jemaah.

Ia menegaskan bahwa ujian tersebut seringkali berkaitan dengan syahwat dan hawa nafsu. Syahwat, menurutnya, tidak terbatas pada dorongan biologis semata, tetapi mencangkup berbagai keinginan duniawi seperti ambisi berlebihan terhadap harta, kekuasaan, dan keinginan untuk meraih kesenangan secara instan. 

Keinginan untuk cepat kaya, memiliki banyak harta, atau mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas, lanjutnya, kerap membuat manusia lupa kepada Allah SWT. Ketika hawa nafsu lebih dominan, seseorang berisiko terjerumus dalam kemaksiatan yang justru menjauhkan dirinya dari nilai-nilai keimanan. 

Selain ujian, kajian ini juga menekankan pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT. Banyak nikmat yang sering kali tidak disadari karena telah menjadi bagian dari keseharian, seperti kesehatan, waktu luang, kesempatan beribadah, hingga keberadaan orang tua. Nikmat-nikmat tersebut baru benar-benar terasa nilainya ketika telah diambil oleh Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Melalui kajian ini, ujian dan nikmat adalah dua hal yang saling berkaitan. Ujian hadir untuk menyadarkan manusia akan nikmat Allah, sementara rasa syukur menjaga hati agar tetap dekat dengan-Nya. Dengan sikap inilah seorang hamba dapat terus berada dalam bimbingan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (VISCHA/ HUMAS dan Media Masjid Istiqlal) 



 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.