Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), mengadakan Mudzakarah Tematik Revitalisasi dan Optimalisasi Fungsi Masjid Sebagai Sarana Pendidikan Kader ulama, pada Kamis (28/1/2021). Acara yang diselenggarakan secara daring ini, menjelaskan bahwa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), merupakan bagian dari misi New Istiqlal menjadikan masjid sebagai pusat pengkaderan ulama, dan tempat memberdayakan umat.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar MA, dalam sambutannya mengatakan bahwa diselenggarakannya PKUMI juga ditujukan untuk melahirkan ulama dan pemimpin yang hebat, berakhlak mulia, berilmu dan berkarya melalui masjid. Sebagaimana tokoh-tokoh muslim terdahulu.
"Kita lihat betapa banyak ilmuan besar berkiprah dan berkarya di masjid. Kita (melalui PKUMI) akan melahirkan tokoh-tokoh seperti Jabir bin Hayn (the father of cemistry), Ibnu Sina (the father of farmatology), Al Jazari yang membuat baling-baling agar air bisa mengalir ke masjid, supaya orang-orang tua yang sebelumnya wudhu di sungai yang curam bisa berwudhu dengan mudah di masjid," ujar KH. Nasaruddin Umar.
Kemudian, KH. Nasaruddin Umar melanjutkan, tokoh selanjutnya yang diharapkan lahir dari PKUMI ialah seperti Ibn Haitam (the father of modern optics), Al Khawarismi seorang ahli aritmatika, Al Razi (the father of modern hospital). Al Biruni yang ahli di bidang geometri, Al Fazari (the father of modern astrolobe, astronout), yang membuat percobaan terbang di menara masjid.
"Ibn Rusyd, yang pagi hari menjadi dokter spesialis bedah, siang hari menjadi filsuf, sore hari dia menulis buku bidyatul mujtahid, dan malam dia menjadi sufi. Kemudian Al ghazali yang menulis ihya ulumuddin di atas menara masjid, Ibn Arabi, dan Al Farabi," jelas KH Nasaruddin Umar.
Kemudian, dengan inspirasi tokoh-tokoh Islam yang besar dan berkembang di masjid, KH. Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa nantinya diharapkan Istiqlal bisa meniru perwujudan masjid pada zaman Nabi Muhammad SAW. "Itulah keunikan jika kita menjadikan masjid sebagai tempat pengkaderan ulama, itu sangat tepat. Karena masjid itu rumah Allah, saya ingin betul bersama-sama kita menjadikan Istiqlal ini, sebagai perwujudan masjid Nabi Muhammad pada zaman dahulu kala."
Dengan menjadikan masjid sebagai tempat pemberdayaan umat, KH Nasaruddin Umar juga menjelaskan bahwa nantinya di Istiqlal akan diadakan pedalaman wawasan di dalam masjid tentang studi yang akan dilakukan, yaitu dialog lintas agama. "Tokoh agama kita fasiliasi di Istiqlal, karena kita tahu bahwa Istiqlal adalah rumah ibadah untuk semua umat Islam, tapi kita mencontoh masjid nabi, umat agama lain bisa hadir ke masjid untuk berdialog."
Menurut KH. Nasaruddin Umar, dialog antar agama yang nantinya bisa dilakukan di Istiqlal ialah, karena kedekatan antara umat beragama itu juga merupakan cirikhas bangsa Indonesia yang mahal dilakukan oleh negara lain.
Selain itu, Istiqlal nantinya juga akan mencoba menggagas epistimologi keilmuan yang mengakomodasikan antara ilmu hushuli dan hudhuri. "Dengan begitu ada tiga perubahan baru di Istiqlal, secara fisik, peradaban baru sebagai kiblat dunia Islam ada di Istiqlal, di Indonesia. Saya yakin teman-teman melihat kemungkinan itu, yang penting kita kompak."
PKUMI sendiri saat ini, sudah menerima peserta sebanyak 30 peserta untuk level s2, dan masih dibuka pendaftaran kader ulama perempuan sampai tanggal 30 Januari 2021.
Kemudian PKUMI yang juga bekerjasama dengan Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak, tidak membuat lembaga pendidikan ini hanya diikuti oleh peserta laki-laki, melainkan perempuan juga bisa mengikutinya. Per 28 Januari ini, diketahui bahwa jumlah peserta perempuan yang sudah mendaftar ialah sebanyak 30 orang.
"Mungkin kita di Istiqlal adalah yang pertama secara resmi di Indonesia membuat lembaga kader ulama perempuan. Bekerjasama dengan Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak, ada beberapa negara yang mengikutsertakan warga negaranya ke pendidikan kader ulama ini, seperti Kedutaan Amerika, Inggris, Afganistan, Denmark, dan sejumlah negara lain," papar KH Nasaruddin Umar.
Selanjutnya melanjutkan pernyataan KH Nasaruddin Umar mengenai masjid memberdayakan masyarakat, Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D mengatakan, bahwa hal itu merupakan kesempatan yang sangat bagus, dan bisa menjadi tantangan bagi diri kita sendiri untuk kembali menghidupkan masjid setelah sebelumnya fungsinya tereduksi.
"Memang saat ini (di perkotaan) sebagian fungsi masjid sudah dialokasikan ke institusi dan lokasi lain. Hanya di masyarakat tradisional, masjid memiliki banyak fungsi," ujar Prof Nadirsyah.
Kemudian, Prof Nadirsyah mengatakan bahwasannya, dahulu saat Abahnya membangun masjid, masjid dijadikan sebagai tempat posyandu, sehingga bayi bisa ditimbang disuntik di masjid. "Hal itu terjadi karena masyarakat tidak memiliki lokasi lain. jadi pada masyarakat tradisional, masjid menjadi tempat berkumpul segala sesuatu, persis seperti Madinah 15 abad yang lampau."
Kemudian, Prof Nadirsyah mengatakan, bahwa hal yang terjadi ketika sudah menjadi masyarakat kota ialah fungsi masjid sudah direduksi, hanya untuk tempat ibadah. "Itupun di luar jam sholat, masjid dikunci, dan juga pada hari raya, masjid besar itu tidak dirayakan."
Kemudian, dengan tujuan didirikannya New Istiqlal, Prof Nadirsyah mengatakan bahwa ini merupakan hal yang tepat untuk kembali menghidupkan masjid dengan fasilitas yang beragam manfaat.
"Momentum ini harus kita ambil karena sudah saatnya kta kembali ke masjid, dan masjid ini menjadi rumah bersama seluruh umat Islam (apapun latar belakangnya), selama tidak membawa politik praktis seperti yang disampaikan Imam Besar, maka masyarakat bisa menimba ilmu di masjid," papar Prof Nadirsyah.
Disisi lain, Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti M.Ed. juga menyetujui bahwasannya masjid memang seharusnya bisa menjadi pusat semua kegiatan. "Termasuk yang disebut KH Nasarudin Umar, bahwa menara masjid bisa menjadi upaya melihat kesejahteraan rakyat, ini sebuah informasi yang menarik bahwa menara bukan hanya sebagai tempat berkumandangnya adzan, tapi juga bisa menjadi upaya melihat kesejahteraan rakyat."
Selanjutnya, Prof Abdul Mu'ti mengatakan, apapun spirit yang ada dan nilai yang terkandung didalamnya, bahwa masjid itu menjadi pusat dari semua kegiatan. "Meski bukan berarti semua kegiatan harus dilaksanakan di masjid. Tapi semua kegiatan itu (diusahakan) koordinasinya ada di masjid."
Kemudian, Dr. Hj. Badriyah Fayumi, Lc. MA. juga menyampaikan, bahwa diadakannya pusat pengkaderan ulama perempuan di masjid Istiqlal ini, memang sudah menjadi suatu keharusan. "Istiqlal dengan adanya pengkaderan ulama ini juga bisa menjadi pusat keilmuan Islam Indonesia untuk dunia."
Kemudian Indonesia juga sudah memiliki banyak modal dari segi sosial, konstitusional, dan politik kebangsaan dan keumatan, yang sangat menjanjikan untuk bisa mewujudkan kembali spirit masjid untuk perempuan, dan masjid ramah perempuan.
"Masjid yang menjadi jantung peradaban umat Islam, dimana perempuan ialah satu dari dua sayap peradaban itu sendiri," jelas Dr Badriyah.
Sesuai dengan judulnya, bahwa merevitalisasi dan optimalisasi fungsi masjid sebagai sarana pendidikan kader ulama, Dr Badriyah berharap bahwa diselenggarakan PKUMI dapat menggaungkan peran ini sampai pada tingkat internasional, dan pengaruhnya akan mengakar sampai ke tingkat lokal.
Kemudian, Dr Badriyah juga mengatakan, bahwa jika kita melihat pada sejarahnya, kaum perempuan sebetulnya sudah memiliki role model, yaitu kaum perempuan Anshar, yang sangat menunjukkan proaktifnya untuk menimba ilmu-ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah. "Para sahabiyah Anshar itu mereka tidak terhalangi rasa malu untuk tafaqquh fiddin dan memakmurkan masjid Rasulullah dengan inisiatif-inisiatif yang sangat proaktif."
Kemudian, guna berlangsungnya pengkaderan ulama perempuan ini, Dr Badriyah menjelaskan bahwa kaum perempuan harus memiliki keteguhan dan keistiqomahan, untuk mewujudkan suatu perubahan dan menjaga sebuah perubahan yang lebih baik.
"Ketika ada pemikiran tentang dijadikannya Istiqlal sebagai pusat pengkaderan ulama perempuan, saya pikir pada aspek historis sudah sangat tuntas. Pada aspek kepemimpinan KH Nasaruddin Umar yang merupakan seorang ulama, akademisi dan aktivis. Kemudian juga prasyarat lain dari para ulama perempuan di Indonesia, yang bisa dikatakan punya geliat luar biasa, dan bahkan sudah menjadi referensi bagi dunia. Sinergi ini akan sangat baik," papar Dr Badriyah.
Selain itu, Dr Badriyah juga menyampaikan beberapa usulannya mengenai pengkaderan ulama perempuan di Istiqlal, bahwasannya kader ulama perempuan di Istiqlal akan menjadi pusat belajar dengan berbagai macam karakter. "Dimana ulamanya nanti bisa punya halaqoh, kajian-kajian yang dilakukan secara offline dan online, dan menjadi tempat perjumpaan dari berbagai kalangan dan latar belakang pemikiran, dan mencoba menyamakan metode dan gerak langkah yang bisa kita lakukan."
Kemudian hal-hal yang dilakukan Istiqlal ini diharapkan bisa ditangkap dan dijadikan role model bagi masjid-masjid lain di Indonesia ataupun negara lain.
Selain itu, Dr Badriyah juga menyampaikan, kemampuan hebat yang diakui banyak negara dan belum bisa dilakukan banyak negara lain, ialah bahwasannya Indonesia, terutama perempuannya, bisa menjadi garuda perdamaian. "Karena itu, wadah-wadah yang mampu untuk menyatukan perbedaan itu menjadi alat sangat penting, dan PUP di Istiqlal saya rasa akan sangat bagus untuk memainkan peran itu."
Kemudian untuk menambah pengetahuan jamaah, diketahui bahwa dengan didirikannya pendidikan kader ulama di Istiqlal, dan sudah dikenalkannya program ini kepada masyarakat sejak Juli 2020, BPMI memaparkan bahwa PKUMI ini bertujuan untuk menjadi lembaga pendidikan ilama bertaraf internasional, melahirkan ulama yang menguasai keilmuan Islam klasik dan kontemporer, berpandangan moderat, berakhlak mulia, dan siap menjadi rujukan ummat Islam lokal, nasional maupun internasional.
Kemudian, BPMI menyiapkan kurikulum yang mengadopsi pendekatan Outcome Base Education (OBE). Yaitu kurikulum yang terdiri dari materi, tenaga pengajar dan metode pembelajaran dirancang untuk mencapai outcame yang ingin dicapai.
Selain menerima materi pembelajaran pengkaderan ulama sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan, nantinya para mahasiswa yang terpilih juga akan mengikuti pendidikan kader ulama di Istiqlal juga akan mengikuti Program Strata 2 (S2), bekerjasama dengan Perguruan Tinggi Ilmu alQur?an Jakarta.
Disisi lain, guna memaksimalkan kualitas pendidikan kader ulama di Istiqlal, BPMI juga sudah menyiapkan tenaga pengajar, yang terdiri dari ulama, akademisi, dan pakar dari Indonesia, Timur Tengah dan Barat, diantaranya sebagai berikut.
Dari Indonesia, terdapat sembilan tenaga pendidik pendidikan kader ulama masjid Istiqlal, diantaranya Prof. Dr. Quraish Shihab, MA., Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.,Prof. Dr. Agil Husein al-Munawwar, MA., Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., Dr. Muchlis Hanafi, MA., KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, Dr. Abdul Rauf Amin, MA., Dr. Abdul Moqsith Gazali, MA., dan Dr. Saifuddin Zuhri, M.Ag.
Kemudian terdapat enam tenaga pendidik yang berasal dari negara timur tengah, diantaranya Prof. Dr. Syeikh Osama al-Sayyid (Mesir), Prof. Dr. Syeikh Amru Wardani (Mesir), Syeikh Taufiq Ramadhan al-Buthi (Suriah), Syeikh Ahmad Hasun (suriah), Dr. Ahmad al-Raisuni (Maroko), dan Dr. Abdel Aziz Abbaci (al-Jazair).
Selanjutnya, terdapat tiga tenaga pendidik yang berasal dari negara barat, diantaranya Prof. Khaled Abou al-Fadhl (Amerika Serikat), Prof. Martin Van Bruinessen (Belanda), dan Syeikh Salim al-Ulwan (Australia).
Bersama dengan tenaga pengajar yang juga merupakan tokoh ulama dan akademisi dari dalam dan luar negeri tersebut, nantinya terdapat 74 SkS dengan 18 mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa PKUMI selama tiga semester, diantaranya sebagai berikut.
Pada semester satu dan dua, terdapat 12 mata kuliah, yaitu Ulumul Tafsir, Ulumul Hadist, Ilmu UshulFiqh, Ilmu Fiqh, lmu Tasawwuf, lmu Kalam Klasik dan Kontemporer, Sirah Nabawiyyah, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Kemudian mata kuliah yang hanya dipelajari di semester satu adalah Perbandingan Mazhab Fiqh, dan Tafsir Ahkam. Sedangkan mata kuliah yang hanya dipelajari di semester dua adalah Qawaidh Fiqhiyyah wa Ushuliyyah.
Selanjutnya, khusus di semester tiga, mahasiswa akan mempelajari enam mata kuliah, diantaranya Pemikiran Islam Kontemporer, Pendekatan Kajian Islam, Metodologi Takhrij Hadist, Maqashid Syariah dan Metode Istimbat Hukum Islam, Qadhaya Fiqhiyyah, Muashirah, dan Islam di Asia Tenggara.
Kemudian, selain mengikuti materi perkuliahan dalam Pengkaderan Ulama yang bertempat di Masjid Istiqlal, mahasiswa juga akan mengikuti perkuliahan S2 Jurusan Tafsir di Istitut PTIQ Jakarta, dengan jumlah empat semester. Adapun mata kuliah yang akan dipelajari adalah sebagai berikut.
Pada semester satu, mahasiswa akan mempelajari lima mata kuliah, diantaranya Ulumul Qur'an, Sejarah Pemikiran Islam, Sejarah Peradaban Islam, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.
Selanjutnya, pada semester dua, mahasiswa akan mempelajari lima mata kuliah, diantaranya Pendekatan dalam Pengkajian Islam, Filsafat Ilmu, Ilmu Qiraat, Metodologi Penelitian Tafsir, dan Sejarah dan Pemikiran Tafsir di Indonesia.
Kemudian, pada semester tiga, berikut lima mata kuliah yang akan dipelajari, diantaranya Hadits Wa 'Ulumuh, Kajian Literatur tentang Al-Qur'an, Hermeneutika Tafsir, Komprehensif, dan Seminar Proposal.
Dilanjut pada semester empat, mahasiswa akan menempuh tesis yang selanjutnya akan diujikan dan ditentukan kelulusan mahasiswa tersebut dari PKUMI.
Dengan mata kuliah yang memerlukan pemahaman yang baik dan mendalam, pihak BPMI juga menentukan kriteria peserta yang bisa mendaftarkan diri pada program PKUMI, diantaranya merupakan lulusan S1 Kajian Keislaman, memiliki hafalan al-Qur?an Minimal 5 Juz, memiliki kemampuan menguasai Kitab Turats (Klasik), menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, memiliki wawasan pemikiran keislaman, dan diutamakan peserta merupakan perwakilan Provinsi atau Kabupaten Seluruh Indonesia.
Dengan persiapan yang sudah matang tersebut, dan jadwal proses pendaftaran yang sudah tersusun, program pendidikan ini nantinya akan resmi diselenggarakan pada Februari 2021.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.