Foto: Dok. Media Istiqlal

Peranan Akidah Bagi Ketahanan Nasional

Admin 11 Oct 2021 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. Tengku Amri Fatmi Anziz, Lc, MA


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis bangsa yang berisikan keuletan dan ketangguhan dalam menghadapi serta mengatasi segala bentuk ancaman, gangguan atau hambatan dari dalam dan dari luar negeri.

Kemudian bagaimana iman, akidah dan keyakinan Islam menjadi pengaruh dalam hal ketahanan nasional tersebut? 

Pertama, kita akan melihat bagaimana fungsi daripada akidah pada pribadi seorang muslim. 

Kalau seandainya kita berjumpa dengan seseorang yang tidak kita kenal, maka kita tidak tahu cara harus bersikap dan memperlakukannya. Namun pada saat dia menyatakan bahwasanya dirinya adalah seorang muslim. Dalam kondisi ini, kita langsung menyadari bahwa dia berafiliasi dan bersaudara dengan jutaan manusia dan jutaan muslimin yang lain.

Ketika seseorang mengaku bahwa dirinya seorang muslim, maka dia jelas pola pikirnya, pola hidupnya, dan pola tindakannya. Karena seorang muslim tidak bisa sembarangan apabila dia memiliki iman dan akidah. 

Keimanan dan akidahnya seorang mukmin sudah diuji dalam sejarah dan kebenarannya, bahwasanya dia akan tunduk pada Zat yang Maha Agung, Allah subhanahu wata'ala.

Maka setiap keyakinan seseorang, belum tentu langsung dijadikan sebuah akidah, kecuali pada saat keyakinan tersebut sudah melandasi tindakan seseorang.

Oleh karenanya dalam bahasa Arab, keyakinan dikatakan sebagai akidah saat seseorang meyakini dan merasakan sesuatu sampai ke tahap menggerakkan segenap perasaannya dan mampu mengarahkan tindakannya. Akidah bagi muslim adalah penggerak internal atas segala tindakannya.

Dalam terminologi Islam, akidah juga disebut dengan iman. Iman yang secara bahasa bermakna membenarkan, yaitu membenarkan segala yang dibawakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengakuinya dengan sepenuh hati sebagai pedoman hidup.

Orang yang telah membenarkan ini disebut Mukmin. Keyakinan dalam diri seseorang kadang boleh jadi salah atau benar, maka iman adalah akidah yang diyakini seseorang tanpa ragu yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah, dibawakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah terbukti dan teruji kebenarannya.

Islam merupakan nama terhadap agama yang terdiri dari unsur keyakinan akidah-iman, ajaran ibadah, akhlak dan muamalah yang sempurna bersumber dari al-Quran dan Sunnah berhubungan dengan semua sisi kehidupan manusia dunia sampai akhirat.

Fungsi Akidah pada Individu

Pada saat kita berjumpa seorang yang tidak kita kenal, dia menyebut dirinya sebagai seorang muslim, mukmin yang berkomitmen dengan ajaran Islam, maka tersingkap rahasia siapa dia, apa keyakinannya, bagaimana ibadahnya, apa yang tidak ia lakukan dan apa yang wajib ia lakukan, bagaimana akhlaknya, apa komitmen dan tujuan hidupnya, ia memiliki pedoman hidup yang telah teruji kebenaran dan efektifitasnya dalam sejarah. 

Dia berafiliasi dan bergabung dengan ratusan juta saudaranya yang lain di negeri ini memiliki kesamaan ajaran dan pedoman hidup. Dia bukan allien, tapi pribadi yang bisa menyatu bersaudara dengan jutaan bahkan dua miliar penduduk bumi.

Adapun orang yang tidak meyakini akidah agama, maka inilah orang misterius yang tidak memiliki pedoman hidup. Hal keji dan nista menurut ratusan juta orang beragama bagi dia bisa jadi hal disukai. Visi-misi hidupnya bisa bertolak belakang dengan ratusan juta orang yang tinggal dalam negara ini. 

Tanpa akidah tanpa agama, tidak ada jaminan pola hidup, pola pikir dan pola tindakan. Tanpa pedoman, cenderung onar. Akidah dan Iman juga menjadikan seseorang bertindak tidak lagi atas dasar kepentingan/maslahat sempit dan sementara.

Tidak lagi berbuat demi tujuan keuntungan pribadi, tapi ia akan bertindak dan berlaku atas dasar kebenaran yang dituntut Allah subhanahu wata'ala dan kapentingan kebanyakan manusia.

Inilah prinsip pengorbanan. Prinsip siap berkorban adalah nilai akhlak tinggi yang hanya diajarkan dalam agama yang benar. Ini dasar kepahlawanan yang telah mengasas terwujudnya negeri ini. Dalam sejarah semua agama diketemukan prinsip pengorbanan dengan sesuatu yang berharga yang dimiliki manusia demi memuja sesuatu yang tinggi dan agung. 

Prinsip ini bertolak belakang dengan prinsip keuntungan, manfaat, dan kepentingan yang terdapat pada hewan. Karena maslahat dan kepentingan adalah motif tindakan hewani. Dalam kehidupan manusia keuntungan, kepentingan dan manfaat adalah dasar prinsip politik, ekonomi. Adapun pengorbanan adalah prinsip dasar agama dan akhlak.

Berbuat baik demi pihak lain walau menyusahkan diri adalah pancaran keyakinan kuat terhadap hal yang mulia yang tidak dilakukan oleh hewan. 

Perbedaan tindakan manusiawi dengan hewan terletak pada kemampuan melakukan tindakan atas dasar keyakinan sesuatu yang agung di luar batas maslahat dan kepentingan sementara.

Apa untungnya bagi Teungku Chik Di Tiro, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teungku Chik Di Tunong, lama berjuang dan menderita tanpa mengenyam kemerdekaan dari Belanda sedikit pun? Namun tetap tidak menyerah pada Belanda sampai nafas terakhir! 

Kalau Cuma maslahat hidup bagi mereka dan kepentingan diri semata, bekerja sama dengan penjajah jauh lebih menguntungkan diri mereka dari melawan sampai nafas terakhir. 

Tapi, mereka punya akidah, iman, dan siap berkorban demi akidah itu, dan rumusan ini tidak bisa dijabar dengan angka matematis. Bahwa kepahlawanan adalah sisi unik kemanusiaan yang beritikad beriman. Inilah yang ditegaskan Allah dalam AlQuran, artinya sebagai berikut.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujuraat[49]: 15).


Akidah dan Pondasi Persatuan Bangsa

Fungsi akidah dalam agama juga adalah mengokohkan pondasi komunal (jamaah) dengan merajut hati para pengikutnya dengan ikatan cinta dan kasih sayang yang tidak bisa ditandingi dengan ikatan suku, bahasa, tetangga atau sekedar kepentingan bersama. 

Ikatan persaudaraan, akidah, kebersamaan pandangan dalam nilai-nilai agung, mampu merubah perbedaan menjadi satu. Kesatuan sisi ruhani manusia mampu merajut ikatan kuat dan dawam antara pribadi yang berbeda suku dan bahasa, berjauhan, serta berbeda kepentingan mereka.

Kita banyak menyaksikan negara yang berpegang hanya pada prinsip 'kepentingan bersama' sebagai prinsip dasar berbangsa, akhirnya harus meminta bantuan pada prinsip-prinasip dasar ajaran agama seperti 'saling membantu bersama dalam kebaikan' dan 'tolong menolong dalam melawan permusuhan'. 

Filosof Azhar, Syeikh Dirraz menyatakan : "Sesungguhnya nasionalisme yang tidak bertopang pada dasar akhlak dan agama adalah benteng miring yang hampir rubuh."

Al-Quran mengisahkan cerita orang yang hidup dengan agamanya ia akan siap berbuat bukan lagi atas dasar kepentingan dirinya. Tapi demi kepentingan orang lain, orang banyak, sesuai tuntunan akidahnya walau kadang ia sendiri lebih berhajat.

Begitu yang terjadi dengan kaum Anshar di Madinah yang diceritakan Allah dalam QS. Al-Hasyr [59]: 9, artinya sebagai berikut.

"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orangorang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr [59]: 9)

Darimana hal itu bisa terjadi? Kekuatan keyakinan akidah. Imam Al-Qurthuby menjelaskan ayat ini : "Memprioritaskan orang lain dari diri sendiri dan kepentingan duniawi demi kemuliaan agama itu muncul dari kekuatan yakin (quwwatul yaqin), dan rasa cinta yang kuat dan kesabaran atas kepayahan.

Ayat di atas juga mengisyaratkan Iman itu bisa menjadi pengasas tanah air yang menentramkan, ini terbukti di Madinah. Dalam menjelaskan ayat tersebut, Imam Al-Razi menyatakan bahwa para sahabat dari Anshar telah menjadikan Iman sebagai tempat menetap bagi mereka dan tanah air (wathan) karena mereka telah menguasai iman dan sudah istiqamah di jalan iman.

Sahabat Nabi Ammar bin Yasir, dalam kaitan Iman dengan kehidupan berbangsa yang damai dan tangguh. Menjelaskan perbuatan yang menjadi bukti iman dan kuatnya akidah seseorang dalam hadist Nabi, artinya sebagai berikut.

"Tiga hal siapa yang berusaha melakukannya dia telah mengumpulkan simpul-simpul iman: berbuat adil pada diri sendiri, mengupayakan kedamaian bagi alam, dan berinfaq meski berkebutuhan (HR. Bukhari, dalam kitab Iman)"

Berlaku adil, mengupayakan hidup damai, dan berkorban demi oranglain itu konsekuensi akidah iman. ini realisasi sabda Nabi yang menyimpulkan inti perbuatan orang beriman dalam kehidupan bersama, artinya sebagai berikut.

"Dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai ia mencintai (kebaikan) bagi saudaranya seperti ia mencintai (kebaikan) bagi dirinya sendiri." (HR. Bukhari-Muslim)

Muslim sejati tidak berdusta dan riya karena dusta dan riya diketahui oleh Allah. dia tidak pelit karena dia yakin Allah yang memberikan segala rizki baginya. Dia berani karena yang memilikinya hanya Allah. maka seorang mukmin tidaklah pengecut, tidak mudah menyerah, akan tetapi ia hidup dengan siap tantangan melawan kejahatan terhadap dirinya dan orang lain. 

Akidah Islam adalah penopang dasar bagi perbaikan sosial dalam masyarakat. Bila demikian keyakinan dan pengamalan akidah dua ratusan juta lebih bangsa Indonesia, dan begitu pula kepatuhan bangsa pada pedoman Al-Quran dan Sunnah yang mereka jadikan pedoman hidup, tidakkah kondisi ini memperkuat stabilitas ketahanan negara? 

Akidah Islam dan iman telah menyatukan pola pikir, pola tindakan dan bahkan pola hidup dalam segala sektor hidup bernegara dua ratus juta lebih penduduk negeri ini. Justru upaya penting menjaga ketahanan negara adalah dengan mendorong kuat mereka yang beriman untuk berkomitmen kuat dalam mempraktikkan ajaran agung Islam.


Orang berkomitmen pada akidah agama menjadi ancaman bagi Negara?

Filsuf Muslim Pakistan, Muhammad Iqbal menegaskan bahwa kehidupan beragama pada tahap awalnya adalah bentuk sistem yang semua pribadi dan ummat wajib tunduk padanya secara mutlak, hal ini memberikan hasil yang sangat besar dalam sejarah sosial, politik suatu bangsa.

Sejarawan dunia menjelaskan, kini agama kerap dianggap sebagai salah satu sumber diskriminasi, perselisihan dan perpecahan. Padahal kenyataannya, agama merupakan pemersatu terbesar ketiga umat manusia disamping uang dan imperium. 

Semakin besar tatanan dan hierarki sosial manusia, ia akan semakin rapuh, maka peran krusial agama dalam sejarah adalah memberikan legitimasi adimanusiawi terhadap tatanan yang rapuh tersebut. Agama menyatakan hukum bukan hasil olahan manusia melainkan diperintahkan oleh Yang Mutlak Mahakuasa. 

Hal tersebut menempatkan sejumlah hukum mendasar di luar jangkaun tantangan sehingga memastikan stabilitas sosial. Ahli Psikologi Sosial menjelaskan bahwa Praktik ibadah yang dilakukan dalam agama yang dianggap tidak rasional oleh sebagian orang ternyata merupakan solusi bagi salah satu masalah terberat yang manusia hadapi, yaitu kerjasama tanpa hubungan darah. 

Kepercayan yang 'tidak rasional' terkadang dapat membantu kelompok berfungsi secara rasional terutamasaat kepercayaan itu bersandar pada kesakralan. (Jonathan Haith, The Righteous Mind, 355)

Tidak ada di dunia ini kekuatan yang sama dengan kekuatan agama sebagai jaminan dalam menghormati aturan yang berlaku jaminan merekatnya masyarakat dan kestabilan hukum serta tercapainya sebab ketenangan dan ketentraman (Dirraz, Ad-Din, 151).

Terciptanya kerukunan sosial adalah tujuan tertinggi dari Islam dalam kehidupan dunia secara waktu dan tempat. Syariat Islam mengatur masalah ibadah dan syiar agama dalam porsi kecil dibandingkan aturan syariat dalam masalah hubungan dan interaksi sosial (Al-Faruqi, At-Tauhid, 158)

Adanya naluri manusia yang hidup taat pada aturan dan undang-undang bergantung pada akidah dan keimanan pada kekuatan super di atas manusia. Iman pada Allah, kondisi masyarakat yang memliki naluri yang hidup ini akan sangat berpengaruh pada stabilitas hukum dan politik dalam sebuah negara, dan naluri baik manusia tidak akan terus ada tanpa iman dan akidah yang menjaga dan menyiraminya (AlSyarqawi, Al-Iman, 55).

Masyarakat yang sudah jelas akidah-imannya, jelas pedoman hidupnya tidak akan bercerai berai sehingga mengancam stabilitas negeri. Allah mengancam orang yang bercerai-berai dan berselisih dengan siksaan yang berat.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Ali-Imran [3]: 105, artinya sebagai berikut. 

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS. Ali Imran [3]: 105) (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.