Foto: Dok. Media Istiqlal

Nasihat Imam Besar Masjid Istiqlal: Hakekat Masjid Sebagai Pusat Tamaddun Ilmu

Admin 01 Jul 2024 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan pesan tentang “Hakikat Masjid Sebagai Pusat Tamaddun Ilmu” pada acara Konvensyen Masjid Nusantara 2024 yang digelar oleh Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan (MAIK), di Hotel Grand Renai, Kota Bharu Kelantan Malaysia, Sabtu (29/6/2024).

Adapun paparan nasihatnya ialah sebagai berikut:

Hakikat Masjid, masjid dari akar kata sajada-yasjudu berati ‘sujud’ lalu membentuk kata masjid berarti ‘tempat sujud’. Segala sesuatu yang ditempati sujud dapat disebut masjid. 

Nabi Muhammad Saw pernahbersabda: الأرض مسجد   (bumi adalam masjid). Dengan demikian, bumi ini bersih dan dapat digunakan untuk bersujud. 

Seorang petani shalat dan sujudnya di atas pematang sawah, seorang nelayan shalat dan sujudnya di atas perahu atau pasir pantai, seorang tukang kebun shalat dan sujudnya di kebun, sama dengan orang yang sujud di atas sajadah di rumah atau di masjid.  

Masjid tidak selamanya berarti bangunan khusus untuk beribadah bagi umat Islam. Peristiwa Isra’-Mi’raj yang melibatkan dua kata masjid, sebagaimana diebutkan di dalam Q.S. al-Isra’/17:1, yaitu Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid al-Aqsha di Palestina, belum memiliki bangunan khusus seperti sekarang. 

Masjid al-Haram lebih merupakan pelataran Ka’bah dan Masjid al-Aqsha adalah sebongkah batu besar yang biasa disebut “batu gantung” karena dimitoskan batu itu ingin menyertai Nabi Muhammad Saw ke Sidratil Muntaha. Kini batu besar itu berada di dalam bangunan masjid di kompleks al-Aqsha.

Badan manusia selain bisa disebut pakaian, tempat tinggal, sekaligus juga sebagai tempat sujud (masjid) dimensi-dimensi batin manusia seperti kalbu, jiwa, ‘aql

Bahkan dalam perspektif ilmu hakekat, badan biasa disebut Bait Allah (Rumah Tuhan), karena di dalam badan manusia terdapat Roh, yang dianggap sebagai unsur suci dari Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an: Fa idza sawwaituhu wa nafakkhtu fihi min ruhi (Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku/Q.S.Al-Hujurat/15:29). 

Badan sebagai ‘Bait Allah’  (baca: Baitullah) merupakan nama lain dari Ka’bah, atau kiblat umat Islam di dalam melaksanakan sejumlah ibadah mahdhah seperti shalat. 

Ka’bah juga sekaligus sebagai obyek tawajjuh, sebagaimana selalu kita ikrarkan di dalam doa IftitahInna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamin (Sesungguhnya shalatku, urusanku, dan hidupku hanya untuk Allah Tuhan semesta Alam). 

Badan manusia dianggap sebagai Baitullah atau Ka’bah secara ma’nawi, dianalogikan dengan ‘Arasy yaitu singgasana Tuhan, Baitul Ma’mur yaitu miniatur ‘Arasy yang khusus dibangun Tuhan untuk para malaikat setelah menyadari kelancangannya mempertanyakan kebijakan Tuhan, dan Ka’bah miniatur Baitul Ma’mur yang dibangun para malaikat untu Adam dan isterinya setelah melanggar langan Tuhan di Surga.

Badan sebagai pakaian, tempat tinggal, dan masjid,  apalagi dianalogikan sebagai Baitullah atau Ka’bah, sudah barangtentu harus bersih dari noda dan dosa. 

Pembersihan badan bukan hanya membersihkannya dari kotoran fisik dengan cara berwudhu, tayammum, atau mandi dengan menggunakan air, sabun, atau shampoo, tepai juga harus dipelihara kebersihannya dari noda, seperti juga terhadap dosa dan kemaksiyatan. 

Kalangan ulama tarekat mendasarkan pendapatnya dengan mengutip ayat Al- Qur’an: وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُر وَثِيَابَكَ فَطَهِّر (Bersihkanlah pakaianmu.Tinggalkanlah perbuatan dosa (Q.S. al-Muddatsir/74:3-4). Yang dimaksud dengan pakaian di sini bukan hanya baju yang menempel di badan, tetapi badan yang merupakan pakaian atau selimut dimensi batin. 

Cara pembersihannya tentu bukan hanya membersihkan kotoran fisik tetapi juga dengan kotoran non-fisik. Kotoran non-fisik seperti dosa-dosa kemusyrikan. 

Musyrik dalam perspektif Fikih menyembah Tuhan selain Allah Swt. Bisa diartikan memberikan loyalitas kepada obyek tertentu selain hanya kepada Allah Swt, seperti menyembah berhala atau benda-benda tertentu yang diyakini mampu menentukan nasib seseorang.

Dari sinilah muncul istilah “junub” secara harfiah berarti jauh atau berjarak dengan Allah Swt, karena masih seseorang masih merasakan adanya sumber kepuasan selain hanya Allah Swt, yakni ia memperoleh kepuasan dari pasangan biologisnya. 

Seorang hamba sejati menghanyutkan perhatian (fana’) hanya kepada Allah Swt tetapi orang yang berhubungan suami isteri fana’ kepada nafsu melalui pasangannya. Seorang yang sedang janabah harus mandi junub dan tidak boleh ada sehelai rambut pun yang tidak tercuci. Ini sebagai ilstrasi tidak boleh ada sehelai rambut pun yang menjadi obyek kepuasan selain Allah Swt.

Di sinilah arti penting thaharah dalam Islam. Cara penyucian diri manusia tergantung jenis kotoran yang melekat pada dirinya. Jika kotorannya berupa fisik maka penyuciannya dengan air biasa. Cara pembersihannya ialah dengan cara mandi, berwudhu, atau tayammum dengan tanah. 

Jika jenis kotorannya berupa dosa atau maksiyat maka penyuciannya dengan sesuatu yang  non fisik, yang biasa disebut dengan air hakekat (mahiyah). Yang dimaksud air hakekat ialah ilmu pengetahuan, sebagaimana sabda Nabi: al-ma`u ‘ilm Allah (air adalah ilmu Allah). 

Ilmu Allah masuk di dalam al-‘alam al-amr, tidak masuk dalam al-‘alam al-khalq. Dengan demikian, seseorang yang mendapat anugrah ma’rifah Allah bukan saja mendapatkan ilmu yang amat penting tetapi juga sekaligus membersihkan dirinya dari dosa. 

Perbuatan dosa anak manusia harus dibersihkan dengan air atau tanah dan disucikan dengan air hakekat (ma’rifat Allah). 

Hakekat masjid bukan hanya masjid atau mushallah dalam pandangan ilmu tarekat dan ilmu hakekat, tetapi keseluruhan alam (al-khalq) ini adalah masjid karena bisa merupakan locus untuk sujud, beribadah, dan bertawajjuh kepada Allah Swt. 

Badan sebagai penyimpan atau tempat tinggal berbagai kisteri, harus betul-betul dibersihkan, disucikan, dan dihayati. Inilah makna hadis yang sering dikutip di dalam kitab tasawuf: Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu  (Barangsiapa sudah mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya). 

Belajar dari Masjid Rasulullah Saw.

Mesjid dalam lintasan sejarah dunia Islam, khususnya di masa Rasulullah Saw, ternyata aktifitas mesjid tidak hanya digunakan untuk ibadah ritual, melainkan juga untuk berbagai kepentingan umum. 

Mesjid Nabi lebih merupakan “sekretariat” pemberdayaan umat. Tidak heran kalau mesjid Nabi digambarkan sebagai pusat peradaban dan pemberdayaan umat Islam. 

Fungsi Mesjid pada masa Nabi, sebagaimana  dapat diketahui melalui aktifitas mesjid Nabi (masjid nabawi) antara lain sebagai berikut:

  1. Tempat pelaksanaan ibadah ritual, seperti shalat lima waktu, shalat Jum’at dan Shalat Idil Fitri dan Idil Adha pada paroh pertama Rasulullah di Madinah. Paroh kedua karena mesjid Nabi tidak memuat lagi seluruh jamaah maka dipindahkan ke lapangan terbuka.
  2. Tempat konsultasi, baik konsultasi pribadi untuk masalah masalah-masalah kerumahtanggaan maupun kolektif untuk masalah etnik dan politis.
  3. Tempat penyampaian informasi publik, misalnya tempat untuk mengunumkan pernyataan publik Nabi, baik kapasitasnya sebagai Nabi/Rasul maupun dalam kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan/negara.
  4. Tempat melaksanakan kegiatan pendidikan, seperti pengajian agama dan pendidikan keterampilan. Ingat pendayagunaan tawanan Perang Badar.
  5. Tempat melaksanakan santunan sosial, misalnya sesama jama’ah mengumpulkan bantuan untuk jamaah lain yang kurang mampu. Menara mesjid tidak hanya digunakan sebagai tempat Bilal mengumandangkan azan, tetapi juga tempat untuk mengontrol dari ketinggian, rumah mana yang dapurnya tidak pernah berasap, sebagai simbol kekurangan pangan dan rumah mana yang dapurnya selalu berasap sebagai simbol kecukupan pangan. Kedua belah pihak dipertemukan akhirnya darurat krisis pangan dapat diatasi melalui menara mesjid. Jadi menara mesjid bukan hanya simbol gagah-gagahan untuk melengkapi kemewahan sebuah mesjid tetapi juga berfunsi kontrol sosial dan kekuatan pemersatu umat.
  6. Tempat latihan militer, seperti penjelasan strategi dan teknik-teknik peperangan dengan mendatangkan penasihat militer profesional.
  7. Tempat penampungan pengungsi, khususnya mereka yang korban perang antar kabilah atau antar entnik.
  8. Tempat perawatan pengobatan masyarakat, khususnya untuk merawat korban yang berjumlah besar, seperti korban yang luka dalam perang.
  9. Tempat untuk melaksanakan perdamaian dan pengadilan. Berbagai kasus yang terjadi di dalam masyarakat diselesaikan dan diputuskan di Mesjid.
  10. Tempat untuk menahan tawanan perang. Kecuali dalam perang Uhud, semua peperangan di masa Nabi dimenangkan oleh umat Islam dan tawanan perangnya ditempatkan di halaman mesjid.
  11. Tempat untuk menerima tamu, seperti kita ketahui rumah pribadi Nabi sekaligus rumah jabatannya, dan rumahnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan mesjid.
  12. Tempat untuk mengekspresikan seni-religius, sebagaimana Rasulullah pernah menyaksikan kelompok seniman dari Khabasyah untuk menampilkan kreasi nasyidnya di mesjid.
  13. Baitul Mal, tempat untuk menampung pundi-pundi umat sekaligus tempat penyaluran dana dan bantuan umat kepada para mustahiq.
  14. Seekretariat pengelolaan pemerintahan, seperti kita kenal Nabi Muhammad Saw selain sebagai Nabi dan Rasul juga Sebagai Kepala Pemerintahan kawasan dunia Islam pada masanya.

Masjid Nabi lebih menonjol sebagai rumah pemberdayaan umat daripada rumah ibadah (pelaksanaan ibadah mahdhah). Bahkan bisa ditegaskan bahwa lebih utama membangun sajid (orang sujud) daripada tempat sujud (masjid).

Program Masjid Istiqlal

  1. Rabithah A’immatil Masajid al-’Alami
  2. Istiqlal Mosque Youth Association (ARMI)
  3. Istiqlal Martial Art (IMA)/Seni Bela Diri
  4. Istiqlal Muallaf Global Network (IMGN)
  5. Istiqlal Marching Band (IMB)
  6. Istiqlal Islamic Group Band (IIGB)
  7. Majelis Taklim Remaja Istiqlal (MTRI)
  8. Istiqlal Islamic Studies (ISS)
  9. Istiqlal “World Faith Day”
  10. Istiqlal Indonesia Halal Center (IIHC)
  11. Istiqlal Religious Leaders Summit (IRLS)
  12. Istiqlal Sport /Gym Center (ISC)
  13. Istiqlal e-Library
  14. Istiqlal Publishing
  15. Majelis Mudzakarah Istiqlal
  16. Pendidikan Pasca Tahfidz
  17. Pendidikan Kader Ulama/Pendidikan Kader Ulama Perempuan (PKUMI/PKUPMI)
  18. Majelis Taklim Istiqlal (MTI)
  19. Istiqlal Research Center (IRC)
  20. Istiqlal Green Building (IGB)
  21. Wakaf Energi Istiqlal (WEI)
  22. Istiqlal Business Center (IBC)
  23. E-Istiqlal
  24. Istiqlal Medical Center (IMC)
  25. Istiqlal Religious Tourism (IRT)
  26. Istiqlal Global Philanthropy (IGP)
  27. Istiqlal Family Resilience (IFR)
  28. Istiqlal Endowment Day (IED)
  29. Istiqlal Preneurship & Economic Empowerment (IPEW)
  30. Istiqlal Disaster Management Center (IDCM)
  31. Istiqlal Women Empowerment and Child Protection (ICWECP)
  32. Istiqlal Interfaith Dialogue and Global Partnership (IIDGP)
  33. Istiqlal Millennials and Youth Engagement (IMYE)
  34. Istiqlal Care & Charity Day (ICCD)
  35. Istiqlal Peace & Global Network (IPGN)
  36. Voice of Istiqlal (VOI)
  37. Istiqlal Disabled Group Empowerment (IDGE)
  38. Istiqlal Association of Woman Ulama of Indonesia
  39. Istiqlal Forum of Mosque and Global Partnership
  40. Masjid Istiqlal TV
  41. Istiqlal Football Club (IFC)
  42. Istiqlal Badminton Club (IBC)
  43. Istiqlal Global Fund (IGF)
  44. Penginapan/Hotel Gratis & Free Breakfast
  45. Memberdayakan Terowongan Silaturrahim, yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. 

Mengenai kegiatan Konvensyen Masjid Nusantara 2024, KH Nasaruddin Umar juga memaparkan empat rekomendasi, di antaranya:

  1. Sudah waktunya masjid di kawasan Nusantara/Asia Tenggara, dijalin kerjasama untuk memberdayakan umat. 
  2. Sudah waktunya kita memikirkan bagaimana umat “memberdayakan dan diberdayakan masjid”.
  3. Sudah waktunya persekutuan masjid ASEAN menawarkan program-program global untuk ditawarkan ke masjid-masjid dunia internasional.
  4. Sudah waktunya dikembangkan pengembangan ekonomi umat berbasis masjid.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.