Jakarta, www.istiqlal.or.id - Majelis Muzakarah Masjid Istiqlal (M3I) bersama Center For Information and Development Studies ICMI (CIDES ICMI) menyelenggarakan Muzakarah Ulama dan Cendekiawan, di Ruang VVIP Masjid Istiqlal, Rabu (27/8/2025).
Kegiatan ini dilangsungkan dalam rangka memeringati hari kemerdekaan HUT RI ke-80, membahas topik yang sangat relevan dan krusial, yaitu “Demokrasi dan Kesejahteraan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045”.
Muzakarah ini turut dihadiri oleh Ketua Panitia Andi Faisal Bakti, Ketua Umum ICMI Arif Satria, Tokoh Cendekiawan Prof. M. Mahfud MD, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2010 - 2021 KH. Said Aqil Siradj, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan, dan Pakar Tata Negara Prof. Yuddy Chrisnandi, Kabid Pendidikan dan Diklat BPMI Mulawarman Hannase, dan Hery Margono.
Topik “Demokrasi dan Kesejahteraan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045” dianggap penting untuk dibahas karena kesejahteraan rakyat masih rendah di tengah kemerdekaan Indonesia saat ini. Terlebih lagi kemarin banyak demo yang terjadi karena tunjangan anggota DPR.
“Kesejahteraan itu ukurannya sederhana saja salah satunya adalah angka kemiskinan, terjadi kesenjangan antara data statistik kita dengan data statistik bank dunia,” ujar Yuddy Chrisnandi.
Adapun demokrasi, bukan hanya tentang kebebasan berpendapat atau pemilu yang jujur dan adil, tetapi juga tentang bagaimana demokrasi menghadirkan keadilan sosial, pemerataan pembangunan, serta kesejahteraan yang nyata bagi rakyat Indonesia.
Di dalam negara demokratis para pejabat yang berasal dari kalangan korporasi dan masih melakukan aktivitasnya sebagai korporat, masih terlibat bisnis lalu beralih menjadi ologarki di dalam pemerintahan itu dibatasi, tidak boleh mencampur adukkan kepentingan pribadi dan kedudukannya di dalam pemerintahan.
Amirsyah Tambunan dengan tegas mengatakan bahwa, “Demokrasi kita harus diubah oleh rakyat sendiri, bukan wakil rakyat.”
Selanjutnya Mahfud MD juga menjelaskan negara demokrasi atau monarki itu tergantung pilihan, karena di dalam Islam sendiri tidak ada ajaran sistem pemerintahan negara. Apapun pilihannya yang penting bisa membangun kesejahteraan rakyat dengan menegakkan keadilan. “Indonesia Emas itu adalah Indonesia yang tidak ada orang miskinnya,” sambung Mahfud MD.
Terakhir KH. Said Aqil Siradj menjelaskan bahwa dahulu Rasulullah SAW berhasil membangun sebuah umat yang bukan umat Islam, tapi umat-umat yang dibangun di atas konstitusi kebersamaan risalah atau visi misi. Di dalam Al-Qur’an tidak ditemukan istilah umat Islam maupun umat Arab. Al-Qur’an justru menggunakan istilah “ummatan wasathan”, yang berarti umat pertengahan, adil, seimbang, sifat terpuji, tidak berlebihan dalam beragama dan tidak juga lalai dalam beragama.
Sebagai penutup Andi Faisal Bakti berharap melalui kegiatan hari ini kita semua rakyat Indonesia bisa sejahtera. (NADIEN/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.