Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Musibah dan Taubat

Admin 14 Jan 2022 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Hadirin yang berbahagia.
Dalam kesempatan yang mubarakah ini marilah kita menundukkan kepala dan merenung sejenak, sambil kita bersyukur dan bertahmid kepada Allah atas berbagai nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Pada saat yang bersamaan kita juga merenung dan mengintrospeksi perbuatan dan tindakan masa lampau kita seraya memohon ampun dan bertaubat dari lubuk hati kita yang paling dalam terhadap berbagai dosa dan kekeliruan yang telah kita lakukan.

Kita pasrahkan diri kita secara total kepadaNya. Semoga dengan sikap tawadlu’, khudlu’, dan tawakkal ini Allah subhanahu wata'ala menerima penyerahan diri kita dan mengangkat rangkaian musibah yang selama ini terjadi di berbagai tempat. Baik musibah dalam bentuk gempa bumi, kecelakaan, wabah penyakit, fitnah, maupun dalam bentuk perang saudara yang melanda umat kita di berbagai tempat di muka bumi ini.

Hadirin yang berbahagia.
Al-Qur’an dan hadis merupakan salah satu sumber paling bijaksana di dalam menjelaskan fenomena sekaligus solusi musibah, bala, atau azab yang seringkali menimpa manusia. Musibah adalah ujian yang ditimpakan kepada hamba Tuhan, baik yang shaleh maupun para pendosa. Bala adalah bagian dari musibah yang lebih bersifat individual dan mechanical dan biasanya sebagai akibat dari kelalaian dan kecerobohan manusia.

Sedangkan ‘adzab adalahsiksaan yang ditimpakan kepada para pendosa dan pendurhaka yang melampaui batas dan biasanya hanya menimpa kaum kafir dan tidak ditimpakan kepada hamba Tuhan yang beriman, seperti berbagai azab yang pernah ditimpakan kepada para musuh nabi-nabi terdahulu.

Mushibah dan ‘adzab berbeda menurut Al-Qur’an dan hadis.Mushibah lebih berkonotasi positif, yakni untuk menguji ketebalan iman hamba-Nya sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an:

Artinya: “(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. al-Mulk/67: 2)

Dalam Q.S. al-Syura/42: 30 juga disebutkan, artinya sebagai berikut.

Artinya: “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. al-Syura/42: 30)

Bahkan dalam sebuah hadis shahih diriwayatkan dari Imam alBukhari dari Abi Hurairah, Nabi bersabda:

Artinya: “Tidaklah seorang muslim ditimpakan kelelahan, penyakit kronis, phobia, kesedihan, bahaya, kesusahan hingga stres yang mencemaskannya melainkan semuanya itu berfungsi sebagai pengampunan dosa.” (HR. al-Bukhari, al-Turmudzi dan Ahmad)

Dalam hadis lain, Nabi bersabda:

Artinya: “Jika Allah berkehendak positif terhadap hamba-Nya, maka Dia akan mendahulukan siksaan terhadapnya di dunia. Dan jika Allah berkehendak negatif kepada hamba-Nya maka siksaan akibat dosa-dosanya ditunda sampai ke hari akhirat.” (HR. Turmudzi dari Anas)

Hikmah di balik musibah yang dialami seorang hamba berfungsi sebagai pencuci kegelapan masa lampau seorang hamba, sehingga semoga di akhirat kelak dianggap lunas, tanpa harus mengalami proses pembersihan di neraka jahanam.

Sedangkan ‘adzab lebih berkonotasi negatif dan hanya akan ditimpakan kepada umat terdahulu. Kita pantas berterima kasih dan selalu bersalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena salahsatu di antara dua doanya yang kabulkan Allah subhanahu wata'ala ialah: “Ya Allah janganlah menimpakan azab terhadap umatku sebagaimana umat-umat terdahulu”.

Dengan berpegang pada hadis, maka berbagai becana yang melanda kita selama ini pastilah itu bukan ‘adzab melainkan mushibah dan ujian serta pembelajaran bagi kita untuk menuju masa depan yang lebih baik.

Hadirin yang berbahagia.
Kisah-kisah di dalam Al-Qur’an juga banyak menceritakan tentang perilaku makrokosmos, alam raya; berbanding lurus dengan perilaku mikrokosmos, manusia. Bahkan dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa:

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. al-Rum/30: 41)

Relasi makrokosmos dan mikrokosmos diwujudkan dalam bentuk taskhir, yaitu penundukan alam semesta kepada manusia (QS. Luqman/31:20) sebagai khalifah, namun ketundukan itu bukannya tanpa batas dan tanpa syarat.

Manakala anak manusia gagal menjadi khalifah yang baik, gagal menjalin silaturrahim dengan makhluk makrokosmos, alam raya, maka dikhawatirkan musibah dan bala akan mewarnai kehidupan manusia.

Hadirin yang berbahagia.
Al-Qur’an memberikan tuntunan kepada kita bahwa cara paling arif dan bijaksana untuk menyikapi musibah ialah kembali menyerahkan diri sepenuhnya, memperkuat kesabaran, dan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wata'ala, sambil mendekatkan diri dengan memperbanyak shalat, sebagaimana dalam firmannya pada Q.S. al-Baqarah/2: 153, artinya sebagai berikut.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al-Baqarah/2: 153).

Jika memperdalam penghayatan kita kepada musibah maka sudah barangtentu kita pun akan bersikap arif terhadap musibah itu. Kita yakin terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis, sebagaimana disinggung tadi bahwa, ternyata di balik setiap musibah pasti ada hikmahnya.

Bahkan mungkin bisa kita katakan bahwa ”musibah adalah ’surat cinta’ Tuhan kepada hamba-Nya”. Mungkin ’undangan’ Tuhan berupa kenikmatan tidak mampu menghadirkan kita ke hadirat-Nya lalu Allah mengundang kita dengan musibah itu. Hamba yang sejati ialah hamba yang tidak pernah berburuk sangka kepada siapapun, termasuk kepada Allah subhanahu wata'ala, dengan kehadiran sebuah mushibah.

Hamba yang sejati juga tidak pernah sibuk mencari kambing hitam dengan datangnya sebuah musibah, melainkan mereka belajar dan mengambil hikmah di balik mausibah itu. Allah subhanahu wata'ala melukiskan orang seperti ini dengan bahasa indah pada QS. al-Baqarah/2: 156, artinya sebagai berikut.

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya).” (QS. al-Baqarah/2: 156)

Hadirin yang berbahagia.
Izinkan saya mengakhiri khutbah ini dengan mengungkapkan sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abi Daud & Ahmad bahwa dahulu kala ada tiga orang bersahabat karib melakukan perjalanan sehingga mereka bermalam pada sebuah gua. Tiba-tiba terjadi gempa dan sebuah batu besar jatuh menutupi mulut goa lalu ketiganya terperangkap di dalam gua.

Lalu mereka mendengarkan suara: "Tidak ada yang bisa menyelamatkan dari batu besar ini kecuali berdoa kepada Allah dengan perantaraan amal saleh yang pernah kalian lakukan". Salah seorang mereka berdoa, ’Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang telah berumur lanjut sedang kelaparan, ingin meminum susu, padahal aku tidak pernah memerah (susu) sebelumnya dan tidak pula memiliki harta maka aku bertekad untuk mencarikannya.

Lalu aku keluar sore hari hingga mereka tertidur padahal aku tidak menyenangi pekerjaan memerah susu baik untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual. Aku menunggu orang tuaku bangun hingga terbit fajar dan meminumkan susu perahan tadi.

Artinya: “Wahai Tuhanku, jika aku telah mengerjakan hal tersebut hanya mengharap ridha-Mu maka perlihatkan kepada kami (kekuasaan-Mu) untuk bisa menyingkirkan batu besar ini.”

Rasulullah melanjutkan, ‘Yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, paman saya mempunyai anak perempuan yang sangat saya cintai. Aku ingin sekali berbuat (maksiat) dengannya namun (berhasil) aku kendalikan hingga ketika ia baligh, perempuan tadi mendatangiku dan aku beri dia 220 dinar agar bisa berkhalwat (menyendiri) dengannya, ia menyetujuinya hingga aku berkesempatan (berbuat dosa) dengannya. Perempuan tadi berkata:

Artinya : “Aku tidak pernah menghalalkanmu untuk merusak cincin keperawananku kecuali dengan cara yang benar.”

Aku tersentak sadar dan tidak jadi melakukannya (berzina) meskipun dia wanita yang paling kucintai dan kuikhlaskan emas yang telah kuberikan tadi. Lalu ia berdoa:

“Wahai Tuhanku, jika aku telah mengerjakan hal tersebut mengharap ridho-Mu maka perlihatkan kepada kami (kekuasaan-Mu) untuk bisa menyingkirkan batu besar ini.”

Rasulullah melanjutkan, yang ketiga berdoa, ‘Ya Allah, aku pernah mempekerjakan beberapa orang dan kuberikan upah mereka kecuali upah seorang yang (sengaja) tidak ia ambil. Upah tadi aku berdayakan (pakai) hingga menjadi banyak. Suatu ketika pekerja tadi mendatangiku berkata, ‘Wahai ‘Abdullah, bayarlah upahku! Aku menjawab, ‘Semua yang Engkau lihat dari onta, sapi, kambing dan budak itu adalah hartamu. Pekerja tadi berkata, ‘Wahai ‘Abdullah, Anda jangan bercanda!’ Aku menjawab, ‘Saya tidak memperolokolokkanmu.’ Lalu pekerja tadi mengambil semua harta tersebut dan tidak meninggalkan sedikit pun. Kemudian ia berdoa:

“Wahai Tuhanku, jika aku telah mengerjakan hal tersebut mengharap ridha-Mu maka perlihatkan kepada kami (kekuasaanMu) untuk bisa menyingkirkan batu besar ini. lalu mereka berhasil keluar dan melanjutkan perjalanannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad).

Hadirin yang berbahagia.
Hadis shahih ini penuh dengan i’tibar. Pemuda pertama menggambarkan betapa besar manfaat mewujudkan rumah tangga sakinah, cinta kasih yang sangat tulus kepada keluarga kita.

Pemuda yang kedua menggambarkan betapa besar manfaatnya jika kita mempu mengendalikan libido dan nafsu seksual kita semata-mata karena takut kepada Allah subhanahu wata'ala. Pemuda yang ketiga melambangkan betapa besar manfaatnya jika kita bisa berlaku jujur di dalam mengelola bisnis kita.

Hadis ini mengingatkan kepada kita bahwa amal kebajikan yang istimewa bisa berfungsi penolak bala. Jika seandainya pada suatu saat, terjadi musibah, dan hanya kemukjizatan dan keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan kita. Sudahkah kita memiliki satu saja perestasi spiritual istimewa yang pernah kita lakukan. Jika belum ada, Allah Swt masih meminjamkan sisa-sisa umur untuk melakukan sesuatu yang terbaik dalam hidup ini.

Hadis ini juga mengingatkan kebalikannya. Jika masalah rumah tangga sudah menjadi fenomenal di mana-mana, seperti kaum nabi Nuh, jika kejahatan dan penyimpangan seksual menjadi fenomena, seperti kaum nabi Luth, dan jika kejahatan ekonomi dan kecurangan bisnis menjadi fenomenal, seperti kaum Nabi Syu’aib, maka kita harus banyak berzikir dan bertaubat, agar kita terhindar dari berbagai mushibah.

Hadirin yang berbahagia.
Dalam menghadapi berbagai mushibah yang ada, aqidah kita juga perlu dipelihara. Jangan sampai secara fisik kita sudah menderita, lalu diperparah lagi dengan merusak akidah sendiri dengan cara memistikkan atau memitoskan musibah itu. Musibah adalah fenomena alam yang biasa terjadi di mana-mana dan kapan saja. Kita yakin, Insya Allah di balik setiap musibah pasti ada hikmahnya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.