Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Masjid Istiqlal: Respons Manusia Terhadap Ajaran dalam Kitab Suci

Admin 12 Apr 2022 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. H. M. Darwis Hude, M.Si (Direktur Pascasarjana PTIQ)


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Manusia dalam kehidupan ini selalu ada tingkat-tingkatannya, peringkat dalam merespon ajaran Allah SWT di dalam kitab suci. Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Fatir ayat 32,

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ

Artinya: "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS. Fatir [35]: 32)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia terbagi ke dalam tiga kelompok dalam merespon ajaran Allah SWT yang di kitab suci. Pertama, zholimul linafsih, mereka yang menganiaya diri sendiri, yaitu mereka yang mengetahui kewajiban-kewajiban dari Allah SWT tetapi tidak mau melaksanakannya, mereka tahu larangan-larangan Allah SWT, tetapi terus melazimkan diri dalam menjalankannya. Dia mendengarkan orang membangunkan untuk sahur, mendengar teriakan imsak, atau azan setiap lima waktu tapi tidak menggerakkan hatinya sama sekali untuk melakukan kewajiban-kewajiban itu.

Zholimul linafsih, misalnya saja kita gampang melihatnya pada hari Jum'at, ketika orang shalat Jum'at, dia dengarkan azan, khutbah, imam shalat, tetapi sama sekali tidak tergerak untuk melaksanakan shalat Jum'at.

Kedua, waminhum muqtasid atau ada juga yang disebut muqtasid, mereka adalah yang sudah berusaha untuk melakukan kewajiban-kewajiban tetapi hanya sekedar untuk melepaskan diri dari kewajiban tersebut, belum bisa menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Sudah berusaha meninggalkan yang haram tetapi belum bisa meninggalkan yang makruh atau juga kadangkala masih terjerumus meskipun dengan cepat bisa kembali bertaubat.

Orang yang muqtasid, ibarat tadi ketika hari Jum'at itu, kalau sedang berkendara dan ketika sedang azan dikumandangkan dalam pikirannya itu baru adzan, masih ada khutbah, ketika khutbah disampaikan, dia kembali bergumam itu baru khutbah pertama, masih ada rangkaian yang lain sehingga dia tetap melajukan kendaraannya. Setelah mendengarkan iqamah dia baru terburu-buru memarkirkan kendaraannya lalu duduk di emperan sendal karena sudah tidak ada tempat, tetapi masih melakukan shalat Jum'at.

Dalam contoh lain muqtasid, puasa dilakukan tetapi hanya menaham makan, minum dan hal lain terkait dengan seksual yang dia pantang selama terbit fajar sampai terbenam matahari, belum bisa melakukan tilawah, bersedekah dan sebagainya.

Ada tingkatan yang ketiga, yaitu shabiqun bilkhairat, mereka yang berpacu dengan waktu untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Bukan hanya sekedar yang wajib melainkan juga yang sunnah untuk dilakukan. Misalnya pada Jum'at, dia mengingatkan dirinya bahwa hari ini adalah hari Jum'at, dia mandi sunnah, berusaha memisahkan uangnya untuk disedekahkan, datang ke masjid lebih awal, ia melaksanakan shalat sunnah, tilawah Al-Qur'an yang dilakukan dengan senang hati, dan pada tingkatan inilah yang akan mendapatkan kemuliaan yang besar.

Hadirin yang mulia, dalam kehidupan sehari-hari kita akan melihat implementasi ketiga tingkatan ini dalam pergaulan kita sehari-hari baik di kantor, rumah, lingkungan dan sebagainya.

Jika ada karyawan ketika diperintah oleh atasannya ia hanya mendengar pesan itu sekilas saja tanpa mengingat dan melakukannya. Apabila ada perampingan karyawan di kantor tersebut maka dia akan menduduki peringkat pertama sebagai orang yang menganiaya dirinya sendiri (zholimul linafsih).

Kemudian ada orang dengan tingkatan kedua, muqtasid, dia tetap melakukan tugasnya namun bukan yang terbaik, misalnya kalau diperintah atasannya dia tidak langsung beraksi melainkan pergi dulu ke kantin, minum kopi, atau pergi dulu untuk mengobrol dengan temannya, ketika diingatkan oleh atasannya dia kembali melakukan pekerjaannya namun belum tuntas, dan ketika ditanya lagi oleh atasan untuk ketiga kalinya, maka dia baru menyelesaikan dan mengantarkan tugasnya ke atasan.

Namun ada tipe ketiga yang shabiqun bil khairat, yaitu mereka yang berpacu dengan waktu untuk melakukan kebaikan-kebaikan, misalnya ketika diperintah oleh atasannya, dia langsung beraksi menjalankan tugasnya dengan rapi, tertib dan tepat.

Orang yang tergolong dalam shabiqun bil khairat, maka dijamin Allah SWT akan mendapatkan kemuliaan yang besar dan agung. Dalam kehidupan kita, seperti itulah ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan penuh berkah dan kemuliaan. Manusia akan terbagi ke dalam tiga tingkatan, ada yang cuek tidak menspesialkan Ramadhan, ada yang sedang sekedar melepaskan kewajiban yang kemudian yang kemudian sering disebutkan orang dengan tingkatan ini ibadahnya sah tapi nilai pahalanya kosong.

Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani).

Terdapat kelompok ketiga yang saya yakin Bpak/Ibu di sini tergolong dalam kelompok ini yaitu shabiqun bil khairat, dia hidupkan malamnya dengan qiyamullail, dia berusaha pergi tarawih, melaksanakan sunnah, tilawah Al-Qur'an, bersedekah, dan seterusnya sehingga diaberpacu dengan waktu dalam melaksanakan kebaikan. Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk tetap berada pada tingkatan shabiqun bil khairat. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

 

Saksikan selengkapnya di sini.


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.