Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Masjid Istiqlal: Mari Berwakaf

Admin 13 Apr 2023 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ada satu kalimat bijak yang merupakan prinsip dasar dari toleransi, yaitu: “Jangan padamkan cahaya orang lain, tetapi perbesarlah  cahaya kita sendiri.”

Hal kedua ialah hidup itu perihal memberi bukan menerima apalagi meminta dan meminta-minta. Jadi, yang paling tinggi tingkatannya adalah memberi, kedua adalah menerima, ketiga adalah meminta dan yang paling akhir dan rendah naudzubillahi min dzaliq adalah meminta-minta.

Sehingga apa yang kita terima ini pada dasarnya adalah tergantung apa yang kita berikan. Misalnya seperti di dalam masjid ini, jika saya tidak menyampaikan suatu kalimat maka saya tidak akan mendengarkan kalimat tersebut. Jika saya diam, saya pun tidak mendapatkan suara apa-apa.

Sehingga di situlah sekali lagi kita perlu memberi, memberi, memberi.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-Isra' ayat 7,
 
 اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ

Artinya: "Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri..." (QS. Al-Isra' ayat 7)

Gemar memberi juga merupakan ciri khas dari bulan Ramadhan. Sehingga Ramadhan itu ada berjuta kemuliaan dan kebaikan, yang dari berjuta pixelnya tersebut setidaknya terdapat satu yang disimpan di memori diri kita, yaitu kedermawanan.

Mengapa setidaknya perlu menyimpan kedermawanan? Rasulullah SAW bersabda,

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ

Artinya: "Orang yang dermawan (al-sakhi) itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang pelit (al-bakhil) itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah ketimbang ahli ibadah yang pelit." (HR Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dengan prinsip kedermawan itu lah kita ingin membagi, memberi dan seterusnya. Maka di dalam Islam ada yang namanya sistem keuangan Islam (social financial islamic). Jadi ada sistem keuangan sosial dalam Islam yang disebut sebagai Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf (Ziswaf) merupakan sebuah instrumen distribusi kekayaan dalam sistem ekonomi Islam.

Apa bedanya antara Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf? Berikut penjelasannya,

ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah) dikategorikan sebagai biaya operasional keumatan atau bisa juga disebut sebagai Operational expenditure (OpEx), yang habis setiap tahun. Seperti Masjid Istiqlal yang menerima berapapun miliar uang zakat, habis di tahun itu.

Selain itu, di dalam Islam juga ada namanya Capital expenditure (CapEx) yang di antaranya seperti belanja investasi dan belanja modal, itulah yang namanya wakaf. Yaitu ditahan induknya, yang bisa dimanfaatkan dan dibagi-bagikan adalah hasil dari induk itu.

Mana yang penting antara OpEx atau CapEx? Dua-duanya penting. Kalau ada keluarga yang pendapatannya itu habis dipakai untuk operasional harian maka keluarga atau rumah tangga ini tidak bisa tahan lama. Tetapi, untuk berjalan keluarga itu memang butuh pendapatan operasional itu, dan akan menjadi sempurna jika umat Islam mempunyai ragam belanja modal  (CapEx) atau dalam hal ini ialah wakaf.

Seperti halnya Masjid Istiqlal yang sudah merintis sejak dua tahun lalu sebagai nadzir wakaf, agar Istiqlal tidak tergantung biaya operasionalnya dari kita semua, namun sudah ada unit usaha investasi-investasi yang telah dilakukan Masjid Istiqlal sehingga operasional-operasional bisa dicover. Bahkan kebaikan Masjid Istiqlal bukan hanya untuk jamaah Istiqlal, tetapi juga untuk masyarakat dunia secara keseluruhan.

Berwakaf itu bukan hanya untuk akhirat saja. Kami sering menyampaikan bahwa hidup ini adalah perjalanan diawali dengan alam ruh yang kita semua pernah berada di dalamnya. Oleh karena itu kita diingatkan Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf: 172,

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (QS. Al-A’raf: 172)

Setelah itu kita masuk di alam rahim selama sembilan bulan di rahim ibu kita semua. Melalui proses kelahiran, kita hiduplah di dunia ini sehingga saat ini kita masuk kedalam fase ketiga. Fase di mana kita mendapatkan tugas yaitu sebagai hamba Allah SWT dan khalifatullah.

Dari situlah maka kita akan menyiapkan segala sesuatunya untuk masuk fase yang keempat, yaitu barzah. Siapa pun yang tidak punya bekal, akan jadi bambung (bodoh) atau gelandangan. Maka, apa kita rela akan menjadi gelandangan di alam barzah? Tentu tidak.

Oleh karena itu marilah kita persiapkan tiga bekal yang sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya,

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ  وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Disana mengapa Rasulullah SAW menyampaikan shodaqoh jariyah terlebih dahulu dan bukan doa anak yang shalih? Hal yang disampaikan oleh Rasulullah SAW selalu ada rahasianya, rahasianya adalah karena shodaqoh jariyah merupakan amal perbuatan yang paling mudah, dibandingkan ilmu yang bermanfaat ataupun anak yang shalih yang mendoakan. Oleh karena itu tanpa berwakaf.

Sehingga marilah kita beramai-ramai untuk berwakaf melalui nadzir wakaf uang yang ada di Masjid Istiqlal, dan kalau kita berwakaf jangan untuk diri kita sendiri tapi berwakaflah untuk ibu, bapak, suami atau istri kita, dan untuk anak-anak serta keluarga kita. Karena itu semua akan menjadi bekal dari beliau-beliau, khususnya yang telah mendahului kita semua.

Aqulu qauli hadza wastagfiru, innahu huwal gafurur rahim.

Kita buktikan bahwa kita semua adalah orang-orang cerdas karena kita mampu menyiapkan masa depan dengan persiapan membekali diri dengan bekal yang laku yang antara lain adalah wakaf itu. (SHABNA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.