Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Istiqlal: Bersikap Tegas dan Adil, Korelasi Pemahaman QS Ali Imran Ayat 159

Admin 26 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud MD, SH,. M.IP


Jakarta, www.istiqlal.or.id -  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

Jika tidak ingin sesat, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mengikuti Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Hal tersebut dengan mudah bisa dilakukan manusia sehari-hari, yaitu untuk memilih yang baik atau tidak, salah satu contohnya jika kita ingin tidak sesat ialah denan menegakan keadilan.

Sebagaimana Rasulullah SAW tidak ada kompromi dalam menegakkan keadilan, tetapi keadilan itu sendiri bisa diperlunak jika untuk kepentingan umum, misalnya begini Allah tidak akan memberi ampun kepada orang yang dengan terang-terangan melakukan kesalahan. Seperti perkataan dari 'Urwah bin Zubair, ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkhutbah dan menyampaikan,

أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

"Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya." (HR. Bukhari no. 4304 dan Muslim no. 1688).

Hal di atas disebut Asyidda, yang berarti tegas. Tetapi dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 159 s.d. 160, ketegasan di dalam penegakan keadilan itu tidak selalu berupa satu tindakan yang betul-betul tegas dan tanpa maaf. Menegakkan keadilan itu bisa juga dengan memberi maaf.

Menyelesaikan kasus di luar pengadilan yang kalau dalam ilmu hukum sekarang disebut restorative justice atau keadilan restoratif. Restoratif Justice itu adalah sesuatu yang menganut asas utilitas asas kemanfaatan. Jika sesuatu tidak ditegakkan dan dilakukan dengan pemberian maaf akan lebih bermanfaat bagi kepentingan umum.

Berasbabunnuzul dari kisah Perang Uhud, ketika tentara kaum muslimin ternyata kalah. Padahal di dalam perang sebelumnya, Perang Badar kaum muslimin itu menang, ada yang menulis bahwa kaum muslimin pada Perang Badar itu hanya berjumlah 300 orang sedangkan kaum Quraisy berjumlah 1000 sampai 1200 orang, karena orang Islam yang ikut berperang di dalam Perang Badar itu sungguh tangguh.

Tangguh itu artinya sabar. Sabar itu artinya bukan selalu mengalah, sabar itu artinya bekerja keras untuk berhasil.

Di dalam Islam sabar itu lebih banyak dikaitkan dengan ketangguhan, sehingga di dalam kaitan perang itu disebut kam min fiatin qalilatin ghalabat fiatan katsiratan biidznillah...(Q.S. Al-Baqarah: 249)

Artinya: "... Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar".

Sehingga meskipun sedikit didampingi oleh Allah, menang, sabar karena ketangguhan itulah yang terjadi di Perang Badar. Tetapi di Perang Uhud, umat Islam yang merasa sudah gagah sedikit saja bisa mengalangi orang banyak terjadi kekalahan, karena ketidakdisiplinan, ketamakan, kerakusan. Jadi waktu itu Nabi SAW sudah membagi tentara itu ada yang berperang di lembah agar menghadapi langsung tentara-tentara musuh.

Lalu ada yang berdiri di atas bukit untuk berjaga-jaga kalau yang di bawah perlu bantuan atau dari luar datang serangan baru di atas bukit. Ketika terjadi peperangan di bawah itu kaum muslimin menang, semua sudah dibantai yang banyak yang lari. Nah ketika itulah tentara yang di atas bukit turun untuk berebut harta rampasan perang.

Ketika semua tentara yang di bukit itu turun, maka tentara musuh sudah balik lagi menempati tempat di bukit dan memanah secara beramai-ramai tentara muslim yang sudah turun merebut harta rampasan perang tersebut.

Pada perang Uhud tersebut, umat Islam kalah, Abu Thalib juga gugur di sana, paman Nabi, Hamzah juga gugur di sana. Sehingga ketika umat Islam sudah terdesak pada akhirnya korban berjatuhan, termasuk Rasulullah SAW yang giginya pecah atau rontok karena benturan-benturan saat para sahabat melindunginya.

Seusai perang Uhud, meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam Perang Uhud sehingga menyebabkan kaum Muslimin menderita, tetapi Rasulullah tetap bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan ampunan dari Allah untuk mereka. Andaikata Nabi Muhammad saw bersikap keras, berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari beliau.
Di samping itu Nabi Muhammad saw selalu bermusyawarah dengan mereka dalam segala hal, apalagi dalam urusan peperangan. Oleh karena itu kaum Muslimin patuh melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi.

Mereka tetap berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan tekad yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi. Mereka bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum Muslimin selain Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: "Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Āli ‘Imrān [3]:159)

Oleh karena itu, perintah Allah dalam kasus Perang Uhud, Allah memerintahkan untuk memaafkan dan memohon ampun kepada Allah untuk para tentara muslim yang membuat kesalahan dalam perang tersebut.

Jadi orang salah ini dalam keadaan tertentu tidak harus dihukum, tetapi diberi maaf, itulah yang kalau dalam ilmu hukum modern disebut sebagai restorative justice atau penyelesaian damai di luar pengadilan. Jadi ketegasan itu harus didampingi oleh kelembutan.

Dalam Islam, demokrasi berbentuk apapun itu boleh namun perlu ada asas musyawarah. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Bertawakal atau berserah diri dan doa merupakan pasangan bagi orang berjuang. Untuk mencapai tujuan, berdoa agar dikabulkan lalu bertawakal agar seluruh hasil yang terbaik dapat diberikan Allah subhanahu wata'ala.

Terkadang seseorang doanya kurang atau doanya banyak tetapi tidak mau tawakal, melainkan ingin memaksa. Padahal Allah tahu yang lebih baik, apa yang bisa diberikan kepada kita atas doa-doa dan usaha kita.

Berusaha, berdoa dan tawakal itu tiga tiang dari setiap apa yang kita perjuangkan. Usaha sekuat tenaga karena katanya Laa yamtathil majda man lam yarkabil hathar, walaa yanaalul ulaa man taqaddamal hadzar tidak akan pernah sukses, siapapun kamu, jika tak berani menghadapi tantangan. Dan tidak akan terhormat, siapapun kamu, jika mendahulukan takut sebelum berbuat.

Oleh sebab itu berjuang keras, berdoa, bertawakal, tentu dengan jalan-jalan yang baik dengan penuh kejujuran, kebersihan, dan persaudaraan di antara kita semua. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.