Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan: Urgensi Sikap Empati Dalam Meningkatkan Kualitas Takwa

Admin 25 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Darwis Hude, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kita mengetahui bahwa shaum atau puasa atau bahkan seluruh ibadah selalu memiliki nilai intrinsik dan ada nilai ekstrinsik.

Nilai intrinsik adalah ibadah yang kita lakukan sesuai dengan syarat rukunnya dan insya Allah berpahala di sisi Allah. Namun ada nilai ekstrinsik yaitu nilai yang melekat atau yang mengikuti pada ibadah. Salah satu di antara nilai ekstrinsik adalah empati. Selain itu, tentu kejujuran, berpikir positif atau positive thinking dan seterusnya.

Apa empati itu? Empati adalah kemampuan kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain pada saat mereka bahagia, suka, kita ikut merasakan kebahagiaan itu, pada saat mereka merasakan kesedihan, penderitaan, kita merasakan kesedihan itu bahkan seolah-olah kita yang terkena musibah tersebut, itu namanya empati.

Bukankah shaum mengajarkan kita untuk senantiasa merasakan bagaimana perasaan orang-orang atau saudara-saudara kita yang kurang beruntung yang boleh jadi tidak bisa makan, kekurangan air.

Kalau di Indonesia, mungkin tidak begitu terasa tetapi bayangkan saudara-saudara kita yang berada di pojok Afrika sana yang sebuah tetesan-tetesan air mereka perebutkan, kita merasakan bagaimana perasaan orang yang tidak makan dan minum selama satu bulan. Itu sebabnya zakat Fitri atau zakat fitrah dalam Bahasa Indonesia, satu paket dengan puasa. Pahala puasa tidak sempurna sebelum kita menunaikan zakat fitrah sebagai simbol kita berempati kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung (fakir miskin).

Di dalam satu hadis disebutkan bahwa zakatul fitri atau zakat fitri itu menjadi penyuci atau pembersih "...طُهْرَةً لِلصَّائِمِ..."  yaitu pembersih bagi orang-orang yang shaum, "...وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ..." yaitu memberi makan kepada fakir miskin. Sehingga tadi dikatakan tidak sempurna pahala shaum yang kita lakukan sebelum kita berempati dengan mengeluarkan zakatul fitri itu.

Zakat Fitri itu sangat simbolis, bukan berarti bahwa kita hanya mengeluarkan 2,7 kg atau 3,5 liter itu adalah minimumnya. Kalau ada orang hanya mengeluarkan zakat minimalnya saja itu terlalu. Kita makan berapa kwintal dalam setahun lalu hanya sekedar mengeluarkan minimum saja banyak orang yang tidak peduli.

Oleh sebab itu, kalau ingin shaumnya sempurna maka mari kita berempati kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung dalam kehidupannya. Empati itu tidak datang begitu saja mesti dibangun dan mesti selalu diperbarui.

Ada tahapan-tahapan empati, ada empati yang sangat dasar dan ada empati yang tingkat tinggi. Mari kita lihat berdasarkan Al-Quran dan sunah Rasulullah. Kalau kita perhatikan, kita cermati surah Al-Hujurat yang menyatakan bahwa manusia itu diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk 'lita'arofu' agar saling mengenal.

Perkenalan itu hanyalah permulaan dan bukan hanya sekedar mengenal nama. Misal ada saudara kita yang baru pindah, kita bukan hanya sekedar mengenal namanya, kita harus mengenal pekerjaannya apa, berapa tanggungannya dan sebagainya yang di dalam hati mungkin ada sesuatu di kemudian hari saya bisa bantu mereka. Jadi 'lita'arofu' itu tidak berarti hanya mengenal namanya saja tapi mengenal tentang kehidupannya, mengenal tentang lika-liku yang boleh jadi ada yang bisa kita share ada yang bisa kita bantu pada suatu saat, itu basicnya.

Lalu setelah 'lita'arofu' naik ke tahapan yang kedua, 'ta'awun' yaitu saling menolong. Terdapat di surat Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi :

"...وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ..."

Artinya : "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (QS. Al-Maidah ayat 2)

Jadi ketika saudara kita atau siapa saja tetangga dan seterusnya mengalami masalah, orang yang memiliki sikap empati yang telah dilatihkan oleh Ramadhan maka dia akan tingan tangan untuk membantu. Kalau dia tidak bisa membantu secara materi maka bisa dengan tenaga, tidak bisa dengan tenaga bahkan doa pun juga menjadi harapan, jika seandainya tidak ada yang kita mampu selain doa.

Nanti meningkat pada tahap ketiga, setelah 'ta'awun' ada namanya 'attakaful'. 'Attakaful' itu adalah empati yang sudah merupakan implementasi pada tahapan ketiga. 'Attakaful' itu saling mencukupi. Di dalam Al-Qur'an terdapat kata-kata "أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ". Maryam itu tinggal di Baitul Maqdis, para pemuka-pemuka agama di sana pada waktu itu berembuk siapa yang akan menanggung Maryam.

'Attakaful' itu misalnya ada saudara kita yang kesulitan seperti membayar sekolah anaknya atau hal lain yang baik. Kita bertanya berapa dana yang anda miliki, apa yang anda miliki dan itu yang akan kita genapkan, itu namanya Attakaful, saling menjamin. Dan kalau masyarakat di sekitar semua sudah melakukan itu dan sigap untuk memberikan bantuan maka rasa empati pada masyarakat itu menunjukkan kualitas ketakwaannya, tapi kalau ada masyarakat yang membiarkan tetangganya dalam hadis dikatakan dianya kenyang bahkan nasi itu dibuang-buang sementara tetangganya kelaparan maka tidak berhasil shaum yang dilakukan karna tidak melahirkan empati terhadap tetangganya.

Lalu ada yang keempat empati tertinggi yaitu 'attadamun' yaitu saling menjamin. Seperti ilustrasi ada seorang tetangga yang salah seorangnya meninggal dunia. Tetangga-tetangga sekitarnya berembuk, berbagi seperti 'saya yang mengurus pemakaman', 'saya yang mengurus tenda', 'saya yang mengurus ambulans', 'saya yang mengurus lain-lain'. Mereka sudah saling menjamin dan itu tidak perlu mengatakan pada shahibul musibah, itu namanya 'attadamun' saling menjamin. Kalau itu sudah terjadi, itu adalah empati di dalam masyarakat.

Menjamin itu dia siap untuk mengeluarkan apa yang dia miliki untuk saudaranya yang kena musibah, ini adalah empati tertinggi. Jadi, orang-orang yang memiliki keempat empati yakni ta'aruf, ta'awun, attakaful dan attadamun mereka tidak mengharapkan apapun kecuali 'liwajhillah' yakni mengharapkan keridhaan Allah. Mereka tidak perlu disanjung-sanjung, tidak perlu diucapkan terima kasih karena Al-Qur'an itu menjelaskan bahwa seorang yang memiliki empati itu kalimat terima kasih pun tidak dibutuhkan dari manusia.

Allah berfirman di surat Al-Insan ayat 8-9 :

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا ۝٨ اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا ۝٩

Artinya : "Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. (Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi ridha Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu."

Jadi, jika ada orang yang memberi dengan harapan atau terima kasih maka itu bertentangan dengan surat Al-Insan. Jangan mengharapkan dari orang yang diberi maka siap untuk kecewa tapi kalau mengharap kepada Allah pasti ada jaminannya. Seperti yang dikatakan dalam Al-Qur'an "fahua yukhlifu" yang artinya pasti digantikan.

Oleh karena itu, berempati itu tidak mengharapkan apapun kecuali ridha Allah, itu tingkat ikhlas tertinggi.

Terdapat ilustrasi orang yang berempati yang tidak mengharapkan apapun kecuali ridha Allah, tidak mengharapkan apa-apa dari orang lain apalagi dari orang yang dia bantu, itu dalam bahasa psikologi namanya altruisme. Altruisme itu sama dengan ikhlas.

Jadi ada sebuah penelitian di Amerika, ada seseorang yang berpakaian sobek-sobek, lalu dia tengkurap di sebuah pedestarian di pagi hari di jam-jam sibuk dengan pakaian sobek-sobek seperti dia dalam kondisi masalah besar. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar pedestarian sibuk dengan urusan masing-masing.

Lalu ada salah seorang anak kecil yang menghampiri yang mempunyai sifat empati dengan mengatakan "Tuan, kelihatannya anda dalam keadaan masalah. Ada yang saya bisa bantu?". Orang yang berpakaian sobek-sobek mendongakkan kepalanya, dia mengatakan "Ananda, dari sekian ratus ribuan orang yang lewat di sini, hanya anda satu-satunya yang ingin menolong saya. Sebetulnya saya bukan orang miskin, saya ini millioner, karena anda satu-satunya yang mau melakukan, saya berikan anda 5.000 US Dollar.

Cerita itu cepat viral dan semua orang menjadi tahu. Dan dua bulan setelah itu, orang tadi melakukan hal yang sama. Semua orang yang lewat itu berebut ingin menolongnya karena mereka mengharapkan 5.000 US Dollar itu, lalu yang terjadi ialah orang itu mengatakan bahwa dia memang seorang millioner tapi hari ini dia tidak membawa uang, dan semua orang kecewa.

Maka dapat dikatakan, anak kecil yang pertama tadi mau menolong itu yang dikatakan empati, tidak mengharapkan apa-apa, ikhlas dari dirinya dan orang ikhlas itu akan selalu mendapatkan karunia dari Allah. Sedangkan orang-orang berikutnya itu yang mengharapkan dapat sesuatu, di dalam Al-Qur'an itu dikatakan bahwa orang yang melakukan sesuatu perbuatan dengan riya sama dengan debu tanah berada di atas batu licin yang miring ditimpa hujan kerasa maka tidak ada yang tinggal. (Shabrina/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.