Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan: Pengaruh Puasa Terhadap Kepribadian Muslim

Admin 18 Apr 2023 Warta Istiqlal

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Apa hikmah terpenting dari bulan Ramadhan? Hikmah terpenting dari bulan Ramadhan adalah kita menjadi orang yang paling bahagia dan mulia akhlaknya. Karena Allah subhanahu wata'ala memperintahkan kita untuk shaum (berpuasa).

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah ayat 183).

Allah subhanahu wata’ala mewajibkan hamba-Nya shaum agar menjadi ahli takwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang paling bahagia, nyaman, adem, dan tenteram di dunia. Karena Allah subhanah wata’ala sangat menginginkan hamba-Nya bahagia serta mulia di dunia dan akhirat kelak. Maka, gerbangnya adalah menjadi ahli takwa.

Apa dan bagaimana takwa itu? yang pasti semakin takwa semakin bahagia, mulia, dan urusan hidup akan ditolong oleh Allah subhanahu wata'ala sesuai dengan janji-Nya.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat At-Talaq ayat 2,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

Artinya: "...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. At-Talaq ayat 2)

Barang siapa yang bertakwa, baginya  diberikan jalan keluar masalah apapun seperti kesehatan, keuangan, pekerjaan, bisnis, keluarga, ataupun anak. Apapun masalahnya jika kita ahli takwa, Allah subhanahu wata'ala akan mempermudah jalan.

Seperti apa derajat ahli takwa? Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ


Artinya: "... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu..." (Qs. Al-Hujurat ayat 13)

Jadi, jika ingin mengetahui orang yang paling bahagia, mulia, hidupnya indah, selalu dicukupi, dan sukses, yaitu ahli takwa.

Ciri-ciri Ahli Takwa:

1. Yakin Kepada yang Gaib

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 3,

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

Artinya: "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al-Baqarah ayat 3)

Siapa orang yang disebut takwa? yaitu orang yang paling yakin kepada hal ghaib, seperti di antaranya Allah subhanahu wata'ala, malaikat, surga, neraka, jin, dan alam kubur. Semakin yakin kepada hal ghaib, maka Allah subhanahu wata'ala yang maha ghaib (Al Bathin) akan semakin memberi bahagia dan pemeliharaan kepada hamba-Nya.

Kita harus meyakini bahwa ada yang maha melihat (Al-Basir) dalam kehidupan sehari-hari. Terjadinya maksiat, korupsi, dan berbagai perzinaan atau dosa apapun penyebabnya adalah tidak yakin bahwa ada Allah subhanahu wata'ala yang maha melihat (Al-Basir).

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al-Hadid ayat 4,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: "... Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hadid ayat 4)

Pada ayat di atas dijelaskan, dan Allah subhanahu wata'ala bersamamu dimanapun kau berada yaitu berupa ilmu-Nya, pengetahuan-Nya, dan pengawasan-Nya, dan Allah maha melihat apapun yang kau kerjakan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al-Imran ayat 5,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَىْءٌ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ

Artinya: "Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." (QS. Al-Imran ayat 5)

Oleh karena itum jika seseorang sudah yakin Allah maha dekat (Al-Qarib)dan maha melihat (Al-Basir), maka tidak akan berbuat riya' dan maksiat. Karena meyakini bahwa Allah subhanahu wata'ala melihat apapun yang kita lakukan.

2. Mendirikan Shalat

Terdapat dua perbedaan antara mengerjakan dan mendirikan shalat. Mengerjakan shalat yaitu yang hanya sebatas asal shalat dengan melibatkan raga namun tidak menghadirkan hatinya, dan tidak mengerti maksudnya. Mengerjakan shalat dalam hal tersebut sudah bagus daripada tidak shalat sama sekali, walaupun efeknya kurang.

Adapun mendirikan shalat, dapat dilihat dengan ciri-ciri berikut: Pertama, niat dengan ikhlas semata-mata mengharapkan ridha Allah subhanahu wata'ala; Kedua, menghadirkan hati, meresapi dan menjiwai setiap bacaan dan gerakan shalat. Semakin kita menjiwai shalat yang dilaksanakan, maka sebagaimana firman Allah subahanu wata'ala dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 45,

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Artinya: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'", (QS. Al-Baqarah ayat 45)

Maka akan semakin kita rasakan efek dari shalat tersebut, pasti akan datang pertolongan Allah subhanahu wata'ala, dan bahagia.

Jika seseorang telah melaksanakan shalat tapi masih melakukan korupsi, pasti shalatnya tidak benar. Orang yang menjaga shalatnya maka, akan ngerem dari perbuatan maksiat, zina, korupsi, dan melakukan perbuatan tercela. Karena Allah menyukai shalatnya dan Allah menolongnya dalam menjauhi perbuatan maksiat. Jadi, mudah melihat orang yang sholatnya bagus pasti فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (berkata baik atau diam).

Hal tersebut sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam" (HR. al-Bukhari dan Muslim).

3. Senang Berinfaq

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 134,

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, ..." (QS. Al-Imran ayat 134)

Orang pelit, tidak mau sedekah, itu kurang takwa. Orang takwa itu tidak lengket perihal dunia di hatinya, karena orang bertakwa yakin bahwa rezeki yang asli itu ialah yang dimasukan ke dalam kotak infaq dan disedekahkan. Adapun perihal materi di dompet, di tabungan ataupun di deposito serta aset lainnya, itu belum tentu rezeki.

Rezeki itu ada tiga jenis, yaitu ketika dimakan jadi kotoran, ketika dipakai jadi usang, dan yang dinafkahkan di jalan Allah subhanahu wata'ala. Itulah sebabnya orang bertakwa senang sekali sedekah.

Hati-Hati yang agak pelit. Pernah terjadi suatu kejadian, ada kotak infak di depan seseorang, dia mengeluarkan uang dua lembar (seratus ribu dan seribu) lalu dia berfikir. Akhirnya dia putuskan uang seratus ribu yang dilipat dimasukan ke saku dan yang seribu dimasukan ke kotak infak.

Setelah uangnya masuk, ada seorang kakek menepuk dari belakang memberi uang seratus ribu. Orang tersebut kagum dalam hatinya "luar biasa si kakek tidak terlihat kaya namun sedekahnya seratus ribu." Lalu dimasukan ke kotak infak. Setelah baru saja masuk uangnya, ditepuk lagi oleh si kakek, "Itu angnya jatuh dari saku." Kata si kakek. Uang orang tersebut habis tetapi, pahalanya hanya seribu.

Orang-orang yang pelit itu tidak bahagia, ahli sedekahlah yang bahagia. Tidak ada kebahagian ketika pelit, bahagia itu dalam sedekah.

4. Sanggup Menahan Amarah

Apa ahli takwa yang bisa kita petik buahnya dari Ramadhan ini? Allah subhanahu wata'ala menjabarkannya dalam firman-Nya pada Al-Quran surat Al-Imran ayat 134,

وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ

Artinya: "...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang..." (QS. Al-Imran ayat 134)

Ciri orang bertakwa adalah orang yang sanggup menahan amarah dan mudah memaafkan. Semakin seseorang banyak tersinggung, marah, dan ambek-ambekan, hasilnya bisa kita lihat seperti di berita-berita, seseorang yang tidak bisa menahan amarah, dia menyiksa orang lain dan akibatnya sampai dipenjara. Tidak hanya itu, dalam kasus pemberitaan tersebut, bapaknya juga dipecat dan masuk penjara. Hal tersebut terjadi karena mereka tidak bisa menahan amarah. Maka, jika ingin melihat ahli takwa yaitu orang yang bisa menahan amarah, senang memafkan, tidak ada benci dan dendam itulah orang yang bahagia. Mereka tidak tidur dalam kebencian, dan tidak ada orang bertakwa yang berat hatinya untuk memaafkan.

Orang yang banyak benci, dengki, dan dendam itu tidak akan pernah bahagia karena bukan merupakan sifat ahli takwa. Jadi, kita bisa menilai seseorang, jika di bulan Ramadhan ini masih marah-marah itu kurang sukses. Karena seharusnya orang yang sukses ialah dia yang semakin bisa menahan marah dan memaafkan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 134,

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: "...Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Al-Imran ayat 134)

Jadi, ahli takwa itu berfikir, melihat, mendengar, bicara, berbuat, dan berhati baik. Mau apapun yang terjadi selalu baik, karena bahagia itu hanya ada pada niat dan perbuatan baik.

Allah subhana wata'ala berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 195,

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: "..., karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah ayat 195)

Jadi, orang yang bertakwa yaitu orang yang paling bahagia. Cirinya adalah senantiasa baik dalam segala keadaan. Bahagia itu hanya ada pada niat dan perbuatan baik. Bahagia ada pada hati yang ikhlas dan amal soleh yang Allah sukai. Tidak ada bahagia dalam maksiat, dosa, dan riya'.

Semoga Allah subhanahu wata’ala menerima amal soleh kita di bulan penuh barokah ini. (DWWA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.