Oleh : Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Sekitar tahun 1955 di Masjid Istiqlal dalam acara festival Istiqlal, terucap atau lahir satu istilah yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Malaysia pada saat ini Dato' Seri Diraja Haji Anwar bin Ibrahim, mengenai masyarakat madani.
Waktu itu sangat menarik dikaji oleh para ahli kenapa istilah itu lahir. Apakah masyarakat madani itu setara dengan istilah Civil Society. Ataukah itu juga merupakan tabarukan mengambil berkah dari masyarakat Madinah yang memang pada masa Nabi itu menjadi masyarakat teladan Khairu ummah.
Mungkin di dalam Al-Quran kita bisa menemukan salah satu ayat:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”.(QS.Ali-Imran [3]:110).
Oleh karena itu kemudian para ahli mencoba mendefinisikan apa yang disebut dengan masyarakat madani. Misalnya antara lain kita bisa menemukan bahwa yang disebut masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, masyarakat yang maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kalau kita berbicara tentang masyarakat beradab, tentulah masyarakat yang berpegang teguh pada agama, karena agama itu merupakan satu-satunya nilai dan pedoman yang Insyaallah memiliki akar yang kuat, dijamin baiknya.
Karena itu masyarakat madani mungkin bisa kita bayangkan sebagai satu masyarakat yang ideal, taat beragama, toleran, cinta lingkungan, demokratis, juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan tentu dia harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk mendapatkan atau mewujudkan masyarakat yang seperti ini tentu kita membutuhkan kerjaasama, kolaborasi, sinergi yang luar biasa antar banyak pihak khususnya adalah antara negara dengan masyarakat.
Kerja sama, tolong-menolong, bersinergi, berkolaborasi seperti firman Allah SWT:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Maidah [5]:2).
Semua sesuai dengan tugasnya masing-masing, pemerintahan melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi dan tugasnya, kita semua yang masyarakat juga melaksanakan tugasnya masing-masing. Negara menyediakan kebijakannya, regulasinya, mungkin budgetnya, anggarannya bisa juga berbagai macam sarana-prasarana.
Sementara sebagai masyarakat kita bisa mengoptimalkan peran serta kita sesuai dengan tugas masing-masing. Misalnya bekerja dengan baik dan profesional, para pelajar yang sekolah dan kuliah juga harus berproses dengan sebaik-baiknya, misalnya dengan berprestasi agar nanti mampu memajukan Indonesia.
Juga tentu sebagai masyarakat kita harus menaati agama dengan sebaik-baiknya, taat, tunduk pada hukum yang berlaku, berjiwa toleran, mengutamakan kerukunan, perdamaian dan seterusnya, itu merupakan tanggung jawab kita sebagai masyarakat.
Oleh karena itu dengan kolaborasi, sinergi, dan kerja sama yang kuat, mari bersama-sama kita wujudkan masyarakat madani yang merupakan itu prasyarat bagi terbentuknya Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.