Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadan Istiqlal: Meneladani Kedermawanan Rasulullah SAW

Admin 26 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. K.H. Cholil Nafis, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah orang yang paling dermawan, terutama di bulan Ramadan ketika bertemu dengan Malaikat Jibril. Malaikat Jibril datang setiap malam untuk tadarus Al-Qur'an bersama Rasulullah. Terkadang Nabi yang membaca dan Malaikat Jibril yang mendengarkan, dan terkadang sebaliknya. Hal ini dicatat oleh Zaid bin Tsabit. 

Urutan Al-Fatihah hingga akhir yang kita kenal sekarang adalah hasil dari tadarus Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setiap tahun. Beliau SAW biasanya mengkhatamkan Al-Qur'an sekali dalam setahun, tetapi pada Ramadan terakhir dalam hidupnya, beliau mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali.

Pertanyaan untuk kita, di malam ke-20 ini, sudah berapa kali kita mengkhatamkan Al-Qur'an? Seorang ulama tabi'in yang terkenal dengan keilmuannya, Qatadah bin Di'amah as-Sadusi mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu, bahkan setiap tiga hari sekali di bulan Ramadan, dan setiap malam di 10 malam terakhir.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ. إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَلْقَاهُ، فِي كُلِّ سَنَةٍ، فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Artinya: “Rasulullah saw adalah seorang yang paling murah hatinya dengan (berbagi) kebaikan, dan beliau lebih bermurah hati (dermawan) ketika di dalam bulan Ramadhan, ketika ditemui oleh Jibril  as, dan Jibril as menemui beliau setiap malam dalam Ramadhan sampai berakhirnya bulan. Ia menyampaikan Al-Qur`an kepada Nabi saw, Jika Jibril As menemui seorang laki-laki, maka beliau adalah seorang yang lebih bermurah hati dengan (berbagi) kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an dikaitkan dengan kedermawanan karena dapat memperkuat jiwa dan menjadi sebab kedermawanan. Dermawan adalah memberikan sesuatu yang pantas, pada orang yang pantas. Kekayaan dan kemiskinan bergantung pada mental. 

Ada orang yang kaya tetapi merasa miskin, dan ada orang yang sederhana tetapi merasa cukup karena percaya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah contoh kedermawanan yang luar biasa. Beliau tidak pernah menolak permintaan orang yang membutuhkan, bahkan memberikan terus-menerus hingga tidak ada lagi yang bisa diberikan. Beliau kemudian menyuruh orang tersebut untuk berutang. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan, bahkan lebih dermawan daripada angin yang berhembus.

Sahabat Ansar di Madinah juga menunjukkan kedermawanan yang luar biasa kepada kaum Muhajirin. Mereka rela mengalah demi membantu saudara mereka, meskipun mereka sendiri membutuhkan. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan bulan Ramadan ini untuk memperbanyak sedekah. Zakat bukanlah kedermawanan, melainkan kewajiban. Orang yang mengeluarkan zakat, meskipun dalam jumlah besar, belum bisa disebut dermawan. Kedermawanan adalah ketika seseorang memberikan sedekah, infak, dan wakaf.

Potensi zakat di Indonesia yang mencapai lebih dari 200 triliun rupiah belum mencerminkan kedermawanan. Jika ditambah dengan kedermawanan lainnya, insyaallah masalah kemiskinan di Indonesia bisa teratasi. Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan ilustrasi tentang orang beriman yang gemar bersedekah. Sedekah adalah bukti keimanan. Bagi orang yang tidak beriman, sedekah dianggap sebagai kerugian. Namun, bagi orang beriman, sedekah adalah simpanan untuk dipetik di akhirat, menolak bala di dunia, melancarkan urusan, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Mari kita manfaatkan sisa waktu di bulan Ramadan ini untuk memperbanyak amal, terutama menjelang Lailatul Qadar. Mari kita bersihkan diri dari hal-hal yang syubhat dan syahwat agar layak menerima Lailatul Qadar dan rahmat dari Allah Subhanahu wa ta'ala.

Semoga amal kita diterima oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, puasa kita lancar, dan kita semua mendapatkan Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Tanda puasa yang diterima adalah ketika kita semakin nyaman dan nikmat berpuasa, dan setelah Ramadan, kehidupan kita semakin baik dalam mendekatkan diri kepada Allah, kepekaan sosial, dan berbagi dengan sesama, Amin Ya Rabbal ‘Alamin. (LULU FATIMAH/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.