Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Menjadi Muslim yang Unggul, Mandiri, dan Berdaya Saing

Admin 14 Feb 2022 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. KH. Marsudi Syuhud, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah shalat Jum'at hafidhakumullah, pada dasarnya menjadi seorang mukmin, muslim yang unggul, mandiri dan berdaya saing adalah doktrin dan ajaran agama. Semestinya saat seseorang makin taat dalam beragama, maka dirinya akan semakin kuat, unggul, mandiri serta mempunyai daya saing yang kokoh dan tidak mudah dikalahkan.

Dalam khutbah kali ini saya akan menyampaikan muslim yang mempunyai keunggulan, kekuatan, kemandirian dan daya saing secara individu dan secara organisasi. Baik itu berorganisasi secara kemasyarakatan maupun bisnis.

Untuk menjadi kuat dalam berorganisasi maupun secara individu, kita tidak bisa ujug-ujug menjadi orang yang kuat tanpa belajar dan latihan serta mempersiapkan dirinya untuk menjadi orang hebat, ataupun organisasi yang kuat.

Allah SWT menyampaikan dalam firman-Nya pada Al-Qur'an surat Al-Anfal ayat 60, yang artinya sebagai berikut.

"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)." (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Maashiral muslimin rahimakumullahu, untuk bisa menjadi muslim, mukmin ataupun orang yang unggul, mandiri dan berdaya saing baik individu ataupun organisasi, kita harus mempunyai semangat perubahan, perubahan dari baik menjadi luar biasa, ataupun dari baik menjadi hebat.

Hampir semua organisasi dan individu-individu dapat meningkatkan posisi dan kinerjanya secara signifikan, bahkan mungkin menjadi hebat jika kita mempunyai semangat untuk mengubahnya.

Perubahan itu tidak hanya berubah, namun perubahan yang mempunyai arah, tujuan dan target. Berubah secara individu ataupun organisasi dari baik menjadi hebat akan mempengaruhi kita sebagai organisasi keluarga, kemasyarakatan ataupun organisasi usaha kita.

Untuk perubahan tersebut, dapat diawali dengan masing-masing individu, orangnya dulu, bukan fasilitasnya dulu. Terlebih dahulu memilih orang yang yang tepat sebelum mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Ketika kita memilih orang yang paling cocok dan tepat, bukan yang baik, mereka akan melakukan tugas-tugasnya dengan baik untuk mencapai kesuksesan dan kekuatan dalam organisasi. Jadi bukan cukup hanya orang baik saja.

Transformasi tersebut dapat melewati tiga tahap, di antaranya sebagai berikut.

1. Orang yang Disiplin

Tahap pertama untuk menjadi orang yang hebat atau organisasi yang kuat, personilnya harus yang disiplin. Adapun orang yang disiplin adalah orang yang mempunyai target, orang yang disiplin adalah orang yang punya kalkulasi dan mempunyai dzon kuat untuk mencapainya.

Ana ‘Inda Dzonni Abdi bi, yang artinya adalah, sesungguhnya Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku. (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

2. Pikiran yang Disiplin

Betapa banyak informasi yang kita tangkap setiap detiknya, ambillah satu yang tepat untuk arah perubahan kita. Jangan biarkan pikiran kita melantur ataupun berubah-ubah setiap ada informasi datang, tentukan, putuskan, dan laksanakan.

3. Eksekusi yang Disiplin

Untuk program-program yang sudah diputuskan tersebut, segeralah dilaksanakan sampai selesai, jangan sampai pindah-pindah ataupun berhenti sebelum selesai, sebelum sukses.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Insyirah ayat 7 yang artinya sebagai berikut.

"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)." (QS. Al-Insyirah [94]: 7).

Jika kita mempunyai orang yang bisa komitmen terhadap tiga hal di atas maka itulah orang yang tepat.

Orang yang tepat adalah kekayaan terpenting Anda. Karena orang itulah yang dapat membawa perubahan dari baik menjadi hebat.

"Tarulah orang yang tepat kemudian 'apa'."

Untuk memiliki orang-orang yang tepat, kita hendaknya melakukan empat hal yang sebagai berikut.

1. Telusuri Pertanyaan, Bukan Jawaban

Jika menanyakan sesuatu kepada seseorang, jawaban bisa berbeda-beda yang kemungkinannya jawaban tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka telusuri pertanyaan itu sampai bertemu jawaban yang tepat.

2. Ikut berdialog, Berdiskusi dan Tidak Memaksa

Untuk mencari kebenaran maka dialog adalah solusi yang perlu diutamakan, karena orang  tidak akan merasa terpojokkan jika diajak berdialog dan bercerita mengenai keadaannya.

3. Menganalisis tanpa menyalahkan

Orang akan langsung menolak jika tiba-tiba disalahkan betapapun mereka memang salah. Sehingga masalah dapat dengan mudah diselesaikan jika kita dapat menganalisisnya dengan tepat.

Mashiral muslimin rahimakumullahu, ketika kita sudah menjadi orang yang tepat dan  sudah mempunyai orang yang tepat sesuai pada posisinya, maka untuk bisa menjadi orang yang unggul, mandiri, dan berdaya saing, kita harus mempunyai kompas dalam menjalankan kehidupan.

Untuk berjalan menuju titik kesuksesan, kemandirian, dan keunggulan, ada tiga persimpangan jalan yang harus kita waspadai, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, hal yang membuat Anda lebih baik daripada organisasi atau orang lain mana pun, temukan itu lalu jalankan dan laksanakan apa yang terbaik menurut Anda.

Kedua, menyadari motif mendalam yang menggerakkanmu, dan membangun sistem berdasarkan motif ini. Istiqomah dalam sebuah tujuan itu adalah modalnya, jangan berubah terus.

Ketiga, gairah. Gairah merupakan komponen internal yang tidak perlu dirangsang lagi. Gairah harus sudah otomatis kalau kita sudah menentukan tujuan yang tepat, sehingga ketika kita melaksanakan, kita dapat melaluinya dengan senang hati.

Dari sini insyaallah kita dapat menjadi orang ataupun organisasi yang kuat, unggul, mandiri, dan berdaya saing, serta menjadi hamba-Nya yang diharap-harapkan dan dicintai Allah subhanahu wata'ala. Hal tersebut juga sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW sabdakan dalam Hadist Riwayat Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, yang artinya sebagai berikut.

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah SWR, jangan engkau lemah. Jika tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: "Seandainya aku lakukan demikian dan demikian," tapi hendaklah engkau katakan: "Ini sudah jadi takdir Allah SWT. Setiap apa yang telah Dia kehendaki, pastilah terjadi." Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan." (HR. Abu Hurairah r.a)

Allahu a'lam bisshawab.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.