Foto: Dok. Media Istiqlal

Malam Muhasabah di Istiqlal, KH Nasaruddin Umar Paparkan Kriteria Peningkatan Kualitas Iman

Admin 09 Jan 2026 Warta Istiqlal

Jakarta, Istiqlal.or.idImam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar, menyampaikan tausiyah pada malam pergantian tahun 2025 dalam acara Malam Muhasabah dengan tema “Meniti Detik Akhir, Meriah Awal Berkah” di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada (31/12/25).

Membuka tausiyahnya, KH. Nasaruddin Umar mengajak jamaah untuk refleksi diri setahun kebelakang. Beberapa parameter atau kriteria penting dalam beragama yang sering kali disalahpahami oleh orang awam, mulai dari hakikat syukur, tingkatan kesabaran, hingga esensi dari sebuah doa.

Jika tahun lalu hanya di tahap kualitas syukur yang hanya mensyukuri nikmat Allah SWT. Maka, dalam pergantian tahun baru ini ditingkatkan menjadi orang yang Syakur yang artinya mensyukuri apapun yang datang dari Allah SWT termasuk musibah, penderitaan, dan cobaan. 

Selain itu, untuk mengukur keimanan terdapat dua macam dalam bertaubat. Pertama, taubat Inabah yang dilakukan seorang hamba atas dasar takut neraka. Kedua, taubat Istijabah yaitu rasa malu kepada Allah SWT atas segala Nikmat-Nya. 

Kita mendapatkan energi ilahi untuk bersabar, namun dalam Al-Quran kualitas sabar terdiri dari beberapa tingkatan. Pertama, As-Sabir yaitu kebaikan yang dibalas atas sesuai dengan apa yang diterimanya, yang kedua Al-Masabir yaitu kebaikan yang dibalas keburukan, dan yang ketiga, As-Sabur kedudukan yang paling tinggi yaitu, sabar yang tidak lagi merasakan pedihnya kesabaran karena ridha Allah SWT. 

Hati murni karena semata-mata atas ridha Allah SWT, selain sabar, terdapat ikhlas yang terdiri dari dua macam, yaitu Mukhlis yang masih mengingat kebaikan dan dapat pujian, sedangkan Mukhlas orang yang bersedih jika mendapat pujian berbuat baik, karena harusnya orang hanya boleh memuji Allah SWT.

Dalam tausiyahnya, KH. Nasaruddin Umar menekankan untuk bertaubat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

نَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ …

Artinya: “...Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (Q.S Al-Baqarah  [2]:222)

Terdapat Attaib yang bertaubat jika melakukan dosa, ketika tidak merasa melakukan dosa tidak bertaubat. Sedangkan Attawabin, melakukan dosa ataupun tidak, taubat tetap dijadikan kerutinan. Seperti halnya Rasulullah yang sepanjang hidupnya bertaubat sebagaimana menganggapnya sebagai fungsi syukur.  “Jangan pernah berhenti dan bosan bertaubat.” tegas KH. Nasaruddin Umar

KH. Nasaruddin Umar  mengutip Rasulullah yang mengingatkan beberapa etika berdoa, seperti berhati-hati berdoa yang diarahkan oleh hawa nafsu, hindari berdoa yang memaksa Tuhan, dan berdoa tidak hanya untuk mementingkan diri sendiri. Maka, jika kita berdoa tidak dikabulkan janganlah kecewa, bisa berarti itu sebuah penolakan atau penerimaan diri kita. “Kalau kita berdoa ditolak, artinya Allah SWT tidak akan memberikan dari langit turun kebawah. Diri kita yang diangkat naik ke langit yang jauh lebih baik daripada yang kita minta,” pungkas KH. Nasaruddin Umar.

Menurut para khawas, perbuatan berdoa jauh lebih penting daripada pengabulan doa. Bahwasanya, tanpa dikabulkan doa itu kita sudah mencapainya karena berdoa berarti bersama Allah subhanahu wa ta’ala.

KH. Nasaruddin Umar menutup tausiyah dengan mengingatkan untuk bersyukur yang tidak hanya berbentuk materi, tetapi kedekatan dengan Allah subhanahu wa ta’ala. (TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.