Jakarta, www.istiqlal.or.id - Peserta Program Pascasarjana dan Doktoral (S2 dan S3) Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) dan PKU Perempuan Masjid Istiqlal (PKUPMI) memulai perkuliahan perdananya di Masjid Istiqlal dengan terlebih dahulu menghadiri kegiatan Penyambutan dan Kuliah Umum Mahasiswa PKU dengan tema bahasan "Mencetak Kader Ulama Paripurna di Era Society 5.0", di Masjid Istiqlal, Senin (14/2).
Kegiatan dengan tema tersebut ditujukan sebagai pengingat dan penyemangat bagi para mahasiswa, dalam menjadi tokoh yang senantiasa memberikan solusi kepada umat dalam menghadapi era society 5.0.
"Tantangan kita pada era society 5.0, membawa kita pada situasi yang harus beradaptasi dengan kecerdasan buatan dan digitalisasi. Tantangannya kita saat ini bernuansa masa depan. Sehingga teman-teman (mahasiswa PKU-MI dan PKUP-MI) harus beradaptasi dengan kondisi obyektif tersebut," ujar KH Nasaruddin dalam paparan arahanya.
Dengan diselenggarakannya perkuliahan kader ulama tersebut, KH Nasaruddin juga berharap angkatan pertama PKU-MI dan PKUP-MI dapat mempertanggungjawabkan amanahnya dalam mengenyam pendidikannya.

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan sambutannya di hadapan para mahasiswa PKU-MI dan PKUP-MI, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (14/2).
"Ini angkatan pertama, biasanya kalau anak pertama sukses adik-adiknya juga akan sukses. Maka itu kami memohon kepada para pembina, pengelola, para pihak terkait yang memberi kita amanah, serta para peserta jangan mengecewakan masyarakat. Seluruh mahasiswa di sini (marilah) menjaga kesehatan dan pendidikannya," ujar KH Nasaruddin, dalam arahannya kepada para mahasiswa PKU dan PKUPMI.
Adapun terkait program kader ulama untuk perempuan, KH Nasaruddin berharap hal tersebut dapat menjadi langkah dalam mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia. Bahwasanya masyarakat, khususnya perempuan, juga memerlukan sosok tauladan perempuan untuk memahami Islam secara menyeluruh. "Bahwasanya kesetaraan gender adalah suatu penyesuaian, tidak bisa lagi kita menutup mata bahwa peran perempuan tidak bisa dan tidak perlu diberhentikan," ungkap KH Nasaruddin.
Hal tersebut juga seimbang dengan momentum penting dibangunnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), untuk memberdayakan perempuan dan anak di Indonesia.
"Sudah 40 tahun KemenPPPA berdiri, bahwa kita sudah mengetahui pembangunan pemberdayaan perempauan dan anak harus memperhatikan keperluan masyarakat. Adapun tantangan terbesar kami adalah patriarki dan (program PKUP-MI) merupakan satu momentum penting pada pembangunan kemenPPPA," terang Sekretaris KemenPPPA Dr. Pribudiarta Nur Sitepu dalam sambutannya.
Di samping itu, Dosen PKU-MI Prof. Dr. KH. Sayyid Agil Husein al-Munawwar, MA., juga menyampaikan selamat atas dimulainya perkuliahan kader ulama dan kader ulama perempuan. Diharapkan mahasiswa yang mengenyam pendidikan ini dapat menjadi ulama yang paripurna.

Dosen PKU-MI Prof. Dr. KH. Sayyid Agil Husein al-Munawwar, MA, memaparkan kuliah umumnya dengan tema “Mencetak Kader Ulama Paripurna di Era Society 5.0” di hadapan para mahasiswa PKU-MI dan PKUP-MI, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (14/2).
"Paripurna yang berarti multi disipliner yaitu lengkap menguasai ilmu keislaman dan perkembangan zaman termasuk media sosial, digital, juga teknologi yang canggih."
Selain itu, KH Agil juga berdoa agar para mahasiswa PKU-MI dan PKUP-MI dapat lahir sebagai ulama yang paripurna dan bermanfaat, sehingga dapat melanjutkan perjuangan dakwah para ulama yang sudah selesai menjalankan amanahnya di masanya. "Menggantikan ulama kita yang ilmunya sudah tidak diragukan lagi, diakui secara internasional, namun sudah mendahului kita."
Turut dihadiri Direktur PKU-MI Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA., juga mengungkapkan bahwasanya kuliah perdana ini dapat menjadi sejarah karena program kader ulama diselenggarakan dengan terintegrasi bersama pendidikan formal program magister dan doktor.
"Hari ini kita mencatat suatu sejarah penting dalam pendidikan kader ulama yang dilaksanakan secara terintegrasi antara pendidikan formal yaitu program magister dan doktor. Oleh karenanya pendidikan yang kami laksanakan adalah Program master (S2) dan Doktor (S3) untuk laki-laki dan perempuan," jelas Prof. Thib.

Para peserta yang hadir dalam kegiatan perdana perkuliahan PKU-MI dan PKUP-MI, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (14/2).
Prof. Thib juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pihak yang turut bekerjasama menyukseskan program PKU-MI dan PKUP-MI. Di antaranya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Agama (Kemenag), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Institut PTIQ Jakarta.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri Sekretaris KemenPPPA Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, Direktur Beasiswa LPDP Ir. Dwi Larso MSIE, PH.D., dan Pimpinan BPMI, di antaranya Kepala Sekretariat, H. Mubarak, S.H., M.Si, Kabid Pendidikan dan Pelatihan BPMI H.M. Faried Saenong, MA, M.Sc, dan Kabid Sosial dan Pemberdayaan Umat, Laksmn. TNI (Purn) Asep Saepuddin. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.