Oleh: KH Ahmad Husni Ismail
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jemmah shalat gerhana bulan yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Segala puji mari bersama kita sanjungkan kepada Allah Subhanahu wa taala, Tuhan semesta alam Tak tak terkecuali bulan yang menjadi petunjuk malam. Shalawat beserta salam senantiasa kita haturkan keharibaan baginda junjungan alam Nabi Muhammad sallallahu alaihi wassallam. Semoga hal yang sama juga berlimpah kepada keluarga dan segenap sahabatnya, dan dengan berkahnya kelak mudah-mudahan kita mendapat syafaat beliau di yaumil qiamah. Amin ya rabbal alamin.
Jemaah shalat khusuf yang dimuliakan Allah. Gerhana merupakan peristiwa biasa, agenda rutin alam saat bulan, bumi, dan matahari berada dalam satu garis lurus. Posisi bulan yang terhalang bumi tak dapat asupan cahaya dari matahari sehingga ia tak lagi dapat bersinar seperti biasanya. Hal tersebut menunjukkan posisi peredaran mereka yang teratur. Bumi yang bergerak mengelilingi matahari dalam garis edarnya pun bulan bergerak memutari bumi dalam garisnya sendiri. Dalam waktu tertentu ketiganya bertemu pada satu garis sehingga tercipta peristiwa gerhana.
Allah Subhanahu wa taala telah mengingatkan kita akan peristiwa ini, akan hukum alam ini, bahwa benda-benda langit berjalan pada garisnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ
Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Al-Anbiyā' [21]:33)
Sayidina Abdullah Ibnu Abbas atau yang popular dengan julukan Ibnu Abbas r.a. dan Imam Mujahid, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir Al-Qur’an al-Azzim menganalogikan perputaran benda-benda langit itu seperti alat pemintal yang berputar pada bulatannya. Kita tentu tidak menginginkan terjadinya peristiwa matahari keluar dari sarangnya. Bumi tak lagi berada di garis edarnya dan bulan berjalan di jalur yang tidak semestinya. Jika demikian terjadi, tiada lain kecuali kekacauan yang tercipta dan hari kiamat akan tiba.
Jemaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Keteraturan itu menunjukkan konsistensinya pada ketepatan waktu, jarak tempuh, dan kecepatan itu berbanding lurus hingga berjalan sebagaimana mestinya. Kehidupan juga mestinya di jalani dengan keteraturan demikian. Persoalan waktu kerap tak di indahkan. Padahal kita saban hari belajar dari shalat yang telah kita lakukan yang tak boleh terlambat. Waktunya sudah ditentukan dengan durasi yang sudah diketahui sebagaimana biasanya. Namun kita masih abai dengan itu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
نِعمَتانِ مغبونٌ فيهما كثيرٌ من الناسِ: الصَّحَّةُ والفَّراغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia dilalaikan di dalamnya, yaitu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Kita kerap kali terlena dengan kesehatan dan waktu luang sehingga menganggapnya selalu ada, akibatnya adalah menunda amal dan menangguhkan kebijakan.
Hadirin Jemaah salat khusuf yang dimuliakan Allah. Berkaca dan meniru mengambil teladan pada apa yang telah di lakukan oleh alam semesta. Berkaca pada matahari dan bulan yang beredar pada garis edarnya. Mari kita patuh dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala. Mari kita yang terlanjur melampaui batas keluar dari jalur edar kesalehan dan ketaatan kita selama ini. Mari kita patuh bersama kepatuhan alam semesta. Mari runduk dan sujud di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Mari kita bertaubat dengan sesungguhnya. Mari kita memperbanyak istigfar, mohon ampun terhadap kelalaian, kealpaan, kekhilafan yang kita lakukan selama ini.
Betapa kalau kita tidak melakukan ketaatan, berarti kita keluar dari jalur edar kita masing-masing. Kita menyalahi aturan Allah dan juga menyalahi apa yang telah di lakukan oleh alam semesta. Yakni tunduk pada garis edar kita masing-masing. Mari taat dan patuh karena ketaatan dan kepatuhan itulah yang menyelamatkan kita. Ketaatan, kesalehan dan kepatuhan itulah yang akan mengantarkan kita hidup damai, hidup tentram, hidup yang teratur, hidup dalam naungan rahmat, rida, dan berkah Allah Subhanahu wa taala.
Jangan sampai kita berada pada posisi. Bukan hanya Allah tidak rida kepada kita, akan tetapi alam semesta, matahari, dan bulan serta seluruh planet-planet menguntuk kita semua karena berani-beraninya kita yang sehina dan sekecil ini membangkang, tidak mau patuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Padahal seluruh planet yang besar-besar itu mereka semua tunduk dan patuh.
Kalau kita juga berkaca kepada alam semesta, kalau kita berkaca pada matahari dan bulan serta planet yang beredar pada garis edarnya, mesti tidak ada pilihan yang kita lakukan kecuali kita harus taat dan patuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita masuk dalam garis edar kita masing-masing. Kita tunduk dan patuh karena itulah yang diperintahkan Allah. Karena itulah yang telah diteladankan oleh seluruh planet yang ada di jagat raya ini.
Jangan sekali-kali melawan arus. Jangan sekali-kali membangkang. Karena itu akan menyebabkan kita tergerus dan terlindas oleh peredaran-peredaran planet yang ada di alam semesta. Mari kita saat ini benar-benar menyadari, benar-benar menyesal akan semua ke alpaan, kekhilafan, kekeluran kita. Benar-benar kita taubat, runduk, tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Mari kita tunduk dan patuh bersama alam semesta.
Tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena itulah yang akan menyelamatkan kita. Itulah yang akan menghantarkan kita hidup dalam damai, hidup dalam ketentraman, hidup dalam kebahagiaan, hidup dalam aturan Allah dan menurut petunjuk bagindasallallahu alaihi wasallam.
Hadirin Jemaah shalat khusuf yang dimuliakan Allah, mari pada khotbah kedua ini sejenak kita menundukkan kepala seraya berdoa kepada Allah subhanahu wa taala. Di tengah malam ketika Allah menjanjikan semua doa-doa dikabulkan, mari kita berdoa dengan khusyuk. Semoga Allah mengabulkan doa kita.
Innallaha wa malaikatahu yusuna alan nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi wasallimu taslima. Allahummafir lil muslimina wa muslimat wal mukminina wal mukminat alahya minhum wal amwat innakaun qib mujibwat ya qal hajat.
Ya Allah ampuni segala dosa dan kesalahan kami. Ampuni pula segala dosa dan kesalahan ayah bunda kami. Limpahkan kasih saying-Mu kepada ayah bunda kami yang melebihi limpahan kasih saying yang mereka tumpahkan kepada kami ketika kami masih kanak-kanak. Ampuni guru-guru kami kakek nenek kami, paman bibi kami, pasangan hidup dan anak keturunan kami, andai taulan kerabat kami, orang yang berjasa dalam hidup kami, orang-orang yang mencintai kami.
Ya Allah, banyak sekali kekhilafan dan kelalaian yang telah kami lakukan selama kehidupan dunia ini. Ya Allah, sering kiali kami lalai, kami melampaui batas, ya Allah. Oleh karena itu, ya Allah pada malam ini, pada detik ini kami ingin memohon ampun dan bertobat kepada-Mu ya Allah dengan sungguh-sungguh bertaubat. Maka terimalah permohonan ampunan kami ya Allah. Terimalah dosa-dosa kami ya Allah yang besar maupun yang kecil.
Terimalah ya Allah taubat kami karena ke mana lagi kami harus pergi mencari ampunan dan taubat kecuali menuju semata ya Allah ampuni kami ampuni kami dan terimalah taubat kami ya Allah. Allahumma habib ilainal iman, wa zayyinhu fi qulubina wa karrih ilainal kufro wal fusuqo wal ‘ishyan waj’alna minarrosyidin.
Ya Allah, hidupkanlah kami dengan cara hidup hamba-hamba-Mu yang beriman. Wafatkan kami dengan cara wafat hamba-hamba-Mu yang beriman. Kumpulkan kami di surge-Mu ya Allah bersama keluarga kami beserta orang tua kami bersama handai taulan kerabat kami beserta anak keturunan kami bersama para nabi para rasul para siddiqin. Ya Allah terimalah doa-doa kami. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kehidupan rumah tangga kami, pasangan hidup dan keturunan kami, kehidupan dalam naungan rida-Mu ya Allah, kehidupan dalam petunjuk dan bimbingan-Mu.
Ya Allah janganlah Engkau jadikan kami hamba-hamba yang maksiat dan durhaka kepada-Mu. Pelihara anak-anak kami ya Allah. Berkahi anak-anak kami ya Allah. Jadikan anak-anak kami anak yang senantiasa dalam keberkahan dan kasih sayang-Mu. Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar. (TASYA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.