Oleh : Prof. DR. Ir. Mir Alam Beddu, M.Si (Direktur Pascasarjana Universitas Islam Makassar, Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU Sulawesi Selatan Pengurus MUI & ICMI Wilayah Propinsi Sulawesi Selatan)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin sidang jemaah Jumat Masjid Istiqlal Jakarta Indonesia yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala Puji dan Syukur, kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh yang ada di dalamnya, yang menjadikan matahari dan bulan sebagai alat perhitungan waktu, Rabb, dimana seluruh jiwa ummat manusia sudah mengenalnya dan telah bersaksi siap menghambakan diri hanya kepada-Nya أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ (Bukankah Aku ini Rabb mu, betul saya bersumpah).
Shalawat serta salam senantiasa kita kirimkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya serta pengikutnya hingga akhir zaman. Nabi dan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak, membawa risalah kehidupan yang sempurna al-Qur’an, yang diwariskan kepada ummatnya, untuk ditaddaburi menjadikan panduan meraih ketenangan dan kesenangan hidup menebarkan kedamaian : ... fa man tabi'a hudāya fa lā khaufun 'alaihim wa lā hum yahzanụn.
Salah satu bukti keimanan, komitmen penghambaan dan keislaman kita pada hari ini memenuhi panggilan-Nya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu‘ah Ayat 9)
ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ Setelah melaksanakan ibadah, kembalilah melaksanakan peran kekhalifaan mencari fadhilah Allah.
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: "Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu‘ah [62]:10)
Yang terkadang menggiring manusia lalai adalah persoalan rezeki, sempitnya pemahaman tentang rezeki, Allah sebaik-baik pemberi rezeki وَاللّٰهُ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ࣖ, yang akan diberikan kepada siapa saja hambanya dikehendaki tanpa perhitungan yarzuqu may yasyaaa-u bighoiri hisaab.
Hadirin sidang jemaah Jumat Masjid Istiqlal yang di muliakan Allah subhanahu wata'ala
Hari ini 23 Jumadil Akhir 1445 Hijriah, waktu yang ditetapkan berdasarkan pergerakan bulan bertepatan dengan 5 Januari 2024 waktu yang dihitung berdasarkan pergerakan bumi terhadap matahari. Bumi yang dirasakan diam, berdasarkan tafakkur-tadabbur ilmuan, bergerak pada tempatnya (rotasi) dengan kecepatan 1700 km/jam, itulah menyebabkan terjadinya pergantian malam dan siang, pada saat yang bersamaan bergerak pada lintasannya dengan kecepatan 107.000 km/jam, kembali ke posisi awal pergerakan setiap tanggal 1 Januari, setelah melintas 365,1/4 hari itulah masa satu tahun miladiyah.
Kita semua patut bersyukur kepada Allah, yang memberikan kesempatan menyambut 1 Januari tahun 2024. Syukur adalah sikap dan tindak laku mulia yang disampaikan oleh Allah, namun hanya sedikit hambanya yang bersyukur: قَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ salah satu penyebabnya, kurangnya renungan dan rendahnya kesadaran manusia akan ketergantungan dan siapa dibalik fasilitas kehidupan yang dinikmati.
Tema khutbah ini yaitu Memperkuat rasa syukur kepada Allah melalui tadabbur alam. Syukur adalah kesadaran dan tindak laku memanfaatkan nikmat yang Allah berikan sesuai dengan apa yang Allah inginkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam al-Qur’an kosa kata syukur dengan kata dasar shīn kaf ra seakar kata dengannya ditemukan 75 kali, yang bermakna syukur sebagai kata kerja ditemukan 41 kali, tadabbur dengan kata dasar dal ba ra diulang 44 kali yang bermakna merenung diulang 4 kali, sedangkan alam yang seakar kata dengan ilmu, alamat ayn lam mim diulang 857 kali, 73 kali sebagai kata benda yang berarti dunia, alam (alam mikro = diri dan alam makro = diluar diri).
Kalau kata shin kaf ra yang bermakna syukur dikelompokkan berdasarkan kata yang mendahului atau mengikuti, minimal terbagi dalam 4 (empat) kelompok, pertama syukur adalah perintah la'allakum tasykurụn misalnya segala nikmat, pertolongan, diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan diperintahkan untuk disyukuri, (QS (2):49-52, 185, kedua pertanyaan/peringatan Allah kenapa kamu tidak bersyukur, falau la tasykurụn ditemukan di (QS. Yasin (36): 33- 37; 71-73, QS. al-Waqiyah (56) : 68-70; 71-78), ketiga, sedikit hambaku yang bersyukur, qalilam ma tasykurụn ditemukan di QS. as-Sajadah (32): 9, dan ada kelompok yang bersandar pada sifat perbuatan Allah memberikan apresiasi kepada hambanya, QS.35: 30, QS.42: 23, QS.64: 17, innahụ gafụrun syakụr, wallahu syakurun halim(un). Apresiasi bagi hambanya yang selalu berbuat kebaikan:
ذٰلِكَ الَّذِيْ يُبَشِّرُ اللّٰهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Artinya: "Itulah (karunia) yang (dengannya) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Siapa mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Asy-Syūrā [42]:23)
Mensyukuri nikmat merupakan indikator pengtauhidan :
فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّاشْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
Artinya: "Makanlah sebagian apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu sebagai (rezeki) yang halal lagi baik dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." (QS. An-Naḥl [16]:114)
Hadirin sidang jemaah Jumat yang di muliakan Allah SWT Berbagai informasi, pertanyaan Allah diatas membutuhkan renungan yang mendalam (tadabbur), dikonfirmasikan, diintegrasikan dengan tafakkur-tadabbur terhadap alam sebagai fasilitas kehidupan, membangun kesadaran akan ketergantungan, sehingga akan memperkuat kesyukuran, bahkan merupakan jalan untuk bertazakkur, berma’rifah mendekatkan diri kepada-Nya.
Sebagai contoh QS. al-Waqiyah ayat 68-70 dan 71-78 Allah menyentil hambanya: Pernakah kamu memperhatikan air yang kamu minum (اَفَرَءَيۡتُمُ الۡمَآءَ الَّذِىۡ تَشۡرَبُوۡنَؕ) kamukah yang menurunkannya dari awan, atau kami yang menurunkannya (ءَاَنۡـتُمۡ اَنۡزَلۡـتُمُوۡهُ مِنَ الۡمُزۡنِ اَمۡ نَحۡنُ الۡمُنۡزِلُوۡنَ), sekiranya kami menghendaki kami jadikan tetap asin لَوۡ نَشَآءُ جَعَلۡنٰهُ اُجَاجًا فَلَوۡلَا تَشۡكُرُوۡنَ kenapa kamu tidak bersyukur.
Masya Allah Hujan adalah proses perubahan air asin menjadi air tawar (desalinisasi air laut), diangkat dan disebarkan oleh angin dalam wujud awan, dijatuhkan pada tempat yang dikehendaki oleh Allah sebagai prasyarat mutlak untuk hadirnya kehidupan tumbuhan, hewan dan manusia. Tanpa air tumbuhan, hewan dan manusia tidak bisa hidup, karena air memang merupakan bahan baku penciptaan makhluk hidup (wa ja‘alna minal-ma'i kulla syai'in hayy (in).
Pertanyaan Allah berikutnya yang perlu direnungkan: Pernakah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (bahan bakarnya berasal dari tumbuhan bisa menyala karena adanya oksigen), kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah kami yang menumbuhkan, kami jadikankannya sebagai peringatan dan bahan yang berguna bagi perjalanan kehidupan, maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu.
Dalam ekosistem kehidupan di bumi, tanaman menentukan keberlangsungan kehidupan, karena diberikan fasilitas khusus dari Allah yaitu zat hijau (klorofil), sehingga dapat melakukan proses mengikat air dan karbon dioksida dengan bantuan cahaya matahari (fotosintesis) membentuk daun, buah (bahan organik) dan melepakan oksigen bersih untuk pernapasan, tidak berlangsung kehidupan tanpa adanya tanaman, sebagaimana tidak tumbuh tanaman tanpa ada air dan cahaya, Air yang menyusun tubuh sekitar 60-70%.
Kekurangan air dalam tubuh (dehidrasi) menyebabkan terganggunya segala proses metabolisme tubuh, sehingga terganggu fungsi organ-organ tubuh. Kebutuhan air minum rata-rata 1,8 - 2 liter per hari.
Unsur lain yang sangat vital dibutuhkan dalam tubuh yaitu oksigen, (dari tanaman) yang dihirup dari udara disekitar kita melalui hidung di pompa oleh paru-paru bekerjasama dengan jantung dan disebarkan keseluruh sel-sel tubuh melalui pembulu darah. Manusia menghirup udara sekitar 11.000 liter per hari = 21% oksigen x 11000 = 2100 liter oksigen x Rp. 25000 = Rp 51 juta, Nitrogen 78% = 7800 liter x 10 000 = Rp 78 juta, baru dua unsur bernilai Rp 130 juta per hari, referensi lain melaporkan bahwa manusia menghirup oksigen sekitar 100 cc satu kali menarik napas, kita bernapas sekitar 12-24 kali per menit. Manusia membutuhkan 16 unsur esensial, sama dengan yang dibutuhkan tanaman.
Hitungan-hitungan sederhana ini mengantar kita untuk merenungkan (tadabbur) dan mengingat (tazakkur), betapa maha pengasih dan penyayangnya Allah pada makhluknya, betapa nikmat Allah tidak mampu kita hitung Wa in ta‘uddu ni‘matallahi la tuhsuha (QS. Ibrahim/14: 38).
Pada kondisi sehat oksigen digratiskan oleh Allah, kita diperintahkan untuk mensyukurinya, diberikan tugas untuk memelihara ekosistem kehidupan. Pemahaman dan kesadaran bahwa betapa vitalnya unsur air dan oksigen dalam diri, perputaran air dan oksigen dikendalikan oleh tumbuhan, oksigen salah satu unsur udara, oksigen tersusun dari zarrah proton, eletron dan neutron, yang dapat memancarkan gelombang elektromagnet, gelombang kuantum yang menyatukan seluruh makhluk di alam semesta secara energial, akan meningkatkan keimanan dan rasa bersyukur kita, membangun sikap dan tindak laku rahmatan lil aalamin, menyikapi dan menghargai seluruh aspek kehidupan.
Hadirin sidang jemaah Jumat yang di muliakan Allah SWT
Sebagai penutup dan renungan:
1. Tafakkur dan tadabbur terhadap alam (ayat kauniyah) yang dipadukan dengan tadabbur kitab suci akan mengantar manusia memahami dirinya, memahami lingkungannya, jalan mengenal (ma’rifah) mengingat (tazakkur), dan mudah untuk mensyukuri ni’mat Allah (tasyakkur).
2. Kesadaran akan ketergantungan dan keterhubungan manusia dengan alam akan mengantarnya menghargai dan mencintai seluruh aspek kehidupan, sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah dan jalan untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya
3. Mensyukuri nikmat merupakan salah satu indikator kekuatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah sang pemberi nikmat, yang dampaknya akan kembali kepada hamba yang bersyukur…Barang siapa yang bersyukur, bersyukur untuk dirinya, waman yasykur fa-innamaa yasykuru linafsihi… (QS. Lukman/31:12) Barang siapa yang bersyukur akan kami tambahkan keberkahan dalam kehidupannya, dan barang siapa yang mengkufuri nikmat ku, azabku lebih dahsyat.
4. Bentuk kesyukuran, bukan hanya dalam ucapan, akan tetapi diwujudkan dalam sikap dan perbuatan, memanfaatn fasilitas kehidupan yang diberikan oleh Allah, baik yang ada dalam diri (pendengaran, penglihatan dan akal pikiran) maupun diluar diri kita air, cahaya, tanah dan udara. Indonesia merupakan daerah tropika dimana melimpah cahaya dan air sebagai nikmat Allah untuk disyukuri, mari ujudkan kesyukuran dengan menebarkan cinta dan kasih sayang, menghadirkan kedamaian, persatuan dan kesatuan untuk kekuatan bangsa, serta melestarikan bumi Indonesia.
5. Sikap dan prilaku bersyukur, menebarkan cinta dan kasih sayang terbangun dari kesadaran, kesadaran merupakan buah dari pikiran (otak) dan perasaan (qalbu), pemikiran dan perasaan ditentukan oleh pemahaman keilmuan, keilmuan dan pemahaman berkembang dari referensi, sehingga Indonesia harus mereformulasi pendidikan terpadu dan berkesinambungan mulai dari RT-PAUD-PT, merakit referensi keilmuan terintegrasi dari sains (kajian ayat kauniayah) kitab suci (ayat qauliyah) dan kearifan lokal yang akan membangun masyarakat spiritual yang memiliki kesadaran komprehensif dan percaya diri sebagai modal daya tawar bangsa menggenggam peradaban 2045
6. Kekuatan keimanan yang terbangun dengan pemahaman dan kekuatan syukur mendasari perbuatan baik (aamanuu wamilisholihat), akan mewujudkan ketaqwaan yang sebenarbenarnya sebagai tangga menuju puncak perjalanan spiritual penyerahan diri hanya kepada-Nya (al-muslimun).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Āli ‘Imrān [3]:102)
7. Hamba yang mencapai puncak perjalanan spiritual penyerahan diri hanya kepada-Nya (al-muslimun), memiliki kualitas jiwa yang tenang (al-mutmainnah), akan mendapat pengakuan sebagai hamba dan undangan khusus masuk kedalam surga-Nya.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ (27) ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ (28) فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ (29) وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ (30)
Artinya: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku!" (QS. al-Fajr/89: 27-30).
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.