Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Masjid IStiqlal: Menata Hati dan Kecerdasan Budi Menuju Pribadi Tangguh dan Sukses

Admin 06 Nov 2023 Warta Istiqlal


 

Oleh : Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag
(Bupati Tanjung Jabung Barat - Jambi)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah Jumat rahimakumullah. Alhamdulillah. Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang dengan nikmat dan hidayahnya kita bisa berkumpul di Masjid Istiqlal yang mulia ini untuk melaksanakan ibadah shalat jumat.

Shalawat dan salam marilah selalu kita sampaikan kepada nabi yang agung, nabi yang mulia yakni baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang jika bukan karenanya tidaklah dunia dan isinya tercipta, jika bukan karenanya tidaklah syurga terbentang untuk kita, dan kepadanya lah kita mengharapkan syafaat dihari kiamat.

Mudah-mudahan kita semua mendapatkan syafaatnya. Amiin

Kemudian pada kesempatan ini, khatib berpesan marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala, dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Ketakwaan yang tidak hanya diucapkan pada lisan namun juga ditunjukkan dengan perbuatan. Ketakwaan yang akan menjadikan kita mulia di sisi Allah subhanahu wata'ala.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Artinya : “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (QS. al-Hujurat : 13).

Judul khutbah kali ini adalah Menata Hati dan Kecerdasan Budi Menuju Pribadi Tangguh dan Sukses. Menjadi pribadi yang tangguh dan sukses dimasa sekarang ini sudah tentu menjadi impian semua orang. Betapa tidak, lihatlah dunia tempat kita tinggal ini begitu keras dan kejam. Perampokan, pencurian, dan tindak kriminal lainnya seringkali terdengar ditelinga kita. Halangan, rintangan, ujian dan cobaan terus datang silih berganti tiada henti bahkan sampai kita meninggal dunia.

Jika kita memiliki pribadi yang tangguh maka akan terasa tenang dan nyaman dalam menghadapi semua itu dan akan menjadi suskes dalam menjalani hidup namun sebaliknya jika kita memilki pribadi yang lemah akan mudah diombang-ambingkan oleh keadaan yang pada akhirnya membawa kepada kerusakan dan kebinasaan.

Kepribadian yang tangguh dan kesuksesan dalam menjalani hidup tentunya tidak tercipta begitu saja tanpa adanya proses dan pembinaan. Salah satu prosesnya adalah membentuk kecerdasan budi. Kecerdasan budi sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Pendidikan ; Soewardi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara adalah dimana seseorang memiliki budi pekerti yang baik, terimplementasikan pada watak dan tingkah lakunya dalam kehidupan bermasyarakat serta dapat memposisikan dirinya terkait apa yang semestinya dia lakukan tanpa menyakiti orang lain.

Namun ternyata, kecerdasan budi merupakan sebuah perwujudan dari keberhasilan menjaga dan menata hati. Dalam ajaran Islam, terdapat sebuah konsep tasawauf tentang penjagaan dan penataan hati yang dapat berdampak pada terwujudnya budi pekerti yang baik. Konsep ini dapat ditemukan didalam hadits Arbain nomor 6. Shahih Bukhari nomor 52 dan Muslim nomor hadits 1.599 yang disampaikan oleh sahabat Abu Abdullah Nu’man Bin Basyir :

Artinya : “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”

Dari hadits tersebut dapat kita lihat, begitu vital dan pentingnya peran hati dalam kehidupan kita. Seakan-seakan menunjukkan bahwa segala apa yang kita lakukan, baik maupun buruk, itu bersumber dan tergantung dari bagaiman kondisi hati. Jika hati baik, terhindar dari segala penyakit hati maka akan menghasilkan perbuatan baik, sebaliknya jika hati buruk, dipenuhi dengan segala macam penyakit hati maka akan menghasilkan perbuatan yang buruk pula. Maka sesungguhnya kondisi hati yang baik akan melahirkan pribadi yang berbudi luhur, diterima dengan lapang dada kehadirannya ditengah masyarakat, membuat kita mudah menerima masukan dan ilmu pengetahuan dan tentunya akan menjadi modal untuk menjadi sukses dimasa akan datang.

Jamaah Jumat rahimakumullah. Imam Al-Gazhali membagi hati menjadi tiga macam.

1. Hati yang Sehat

Hati yang sehat, adalah hati yang dipenuhi keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Manusia yang berhati sehat akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah sebagaimana tujuan ia diciptakan yang tidak lain tidak bukan adalah untuk beribadah menyembah Allah dan akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi segala dosa dan maksiat. Hatinya akan senantiasa dalam koridor keimanan dan ketakwaan, baik dikala sendiri maupun ditengah keramaian. Sedikitpun tak akan tergoyahkan walau dalam kesusahan. Segala macam penyakit hati akan ia hapuskan. Riya, sombong, hasad, dengki dan segala penyakit hati lainnya akan ia redam dengan terus berdzikir dan mengingat Allah sampai ia mendapatkan kenyamanan dan ketentraman.

Artinya : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan (dzikir) mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan (dzikir) mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Ra’ad : 28)”

2. Hati yang Sakit

Hati yang sakit ialah hati yang telah terkontaminasi dengan segala penyakit hati. Penyakit hati memang tidak menampakkan gejala yang besar dan sulit untuk di deteksi bahkan tidak akan mempan dengan obat dokter karena penyakit hati berada didalam diri manusia sehingga hanya ia sendiri yang bisa merasakannya namun berdampak sangat besar bagi dirinya dan orang lain.

Penyakit hati yang paling sering menyerang manusia adalah sombong, riya dan dengki. Orang yang sombong akan terbiasa bersikap semena-mena terhadap orang lain, ia sulit untuk menerima saran dan masukan karena merasa bahwa dirinyalah yang paling benar bahkan ia akan merasa sangat malu dan hina ketika terpaksa menerimanya. Orang yang riya akan sangat senang dan gemar menampakkan amal ibadahnya karena menjadi suatu kebanggan ketika ada orang lain yang mengetahuinya namun ia tidak sadar bahwa hal tersebut telah merusak pahalanya.

Orang yang dengki tidak akan pernah merasa nyaman dan tenteram dalam hidupnya karena ia begitu sibuk mengurusi kehidupan orang lain sehingga ia lupa bersyukur atas apa yang telah ia miliki. Penyakit-penyakit seperti ini tentunya akan sangat merusak dan menggangu kehidupan manusia baik dalam sosial maupun dalam ibadah.

3. Hati yang Mati

Hati yang mati ialah hati yang telah kehilangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Manusia yang berhati mati tidak hanya meninggalkan segala kewajibannya bahkan lebih dari itu ia sudah berani mensekutukan Allah. Segala perbuatan yang ia lakukan akan didasarkan pada kehendak hawa nafsu belaka. Tidak ada lagi dasar keimanan dan ketakwaan didalam hatinya. Maka manusia yang seperti ini akan selalu berbuat onar, akan selalu berbuat kerusakan dimanapun ia berada tanpa sedikitpun memperhatikan dampak kerugian yang dirasakan oleh orang lain.

Jamaah Jumat Rahimakumullah. Melihat dari tiga macam jenis hati yang telah dijelaskan oleh Imam Al- Ghazali tersebut, tentunya kita bisa menimbang dan mengukur pada jenis manakah kondisi hati kita saat ini. Jika seandainya hati kita termasuk jenis hati yang pertama yaitu hati yang sehat maka sudah sepatutnya kita syukuri dan harus kita jaga bahkan kita tingkatkan kesehatan hati tersebut dengan terus berbuat amal ibadah kepada Allah dan berbuat kebaikan kepada orang lain. Jika seandainya hati kita berada pada jenis yang kedua yaitu hati yang sedang sakit maka sudah segeralah kita obati.

Kita beri ia dzikir kepada Allah dengan sholat 5 x dalam sehari semalam. Kita beri ia obat penenang dengan rasa syukur tanpa harus merasa iri dengan rezeki orang lain. Kita beri ia pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini adalah milik Allah dan semua akan kembali kepada-Nya sehingga tidak ada satu apapun jua yang bisa kita sombongkan. Mudahmudahan dengan demikian sedikit demi sedikit hati yang sakit itu bisa tersembuhkan. Adapun jika seandainya hati kita termasuk pada jenis hati yang ketiga yaitu hati yang mati maka segeralah untuk bertaubat. Tidak perduli seberapa banyak kita berbuat kesalahan, sebesar apapun dosa yang telah kita lakukan. Kembali lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha menerima taubat.

Jamaah Jumat rahimakumullah. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan menata hati untuk terus menjadi hati yang sehat, hati yang terhindar dari segala penyakit dan merawatnya jangan sampai menjadi hati yang mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan satu doa yang cukup sering dibacanya sebagai bentuk penjagaan hati, sebagaimana tercantum dalam hadits Imam Tarmidzi No. 3.522 :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ


Sangking seringnya doa ini beliau baca, sampai Ummu Salamah pernah bertanya “Wahai Rasulullah, mengapa engkau seringkali kudengar membaca doa ini?” Rasulullah menjawab. “Sesungguhnya hati kita berada dalam kekuasaan Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki maka akan diberikan keteguhan dalam iman dan siapa saja yang dikehendaki Allah bisa menyesatkannya” (HR. Imam Tarmizi No. 3.522).

Maka dengan doa tersebut semoga Allah menetapkan hati dengan keimanan dan mengkokohkan keimanan didalam hati. Jamaah Jumat rahimakumullah. Demikianlah khutbah yang singkat ini, semoga kita dapat menjaga dan menata hati hingga melahirkan amal perbuatan baik yang dapat membawa kita kepada keridhaan Allah dan ditempatkannya kedalam syurga. Aaaminn Allahumma aamiin.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.