Oleh : KH. Abu Hurairah Abd. Salam Lc, MA
(Wakabid Penyelenggaraan Peribadatan BPMI)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah. Dalam al-Qur’an Surat Fussilat ayat 41 dan 42, Allah subhanahu wata'ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاۤءَهُمْ ۗوَاِنَّهٗ لَكِتٰبٌ عَزِيْزٌ ۙ (41) لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ ۗتَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ (42)
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika (Al-Qur’an) itu disampaikan kepada mereka, (pasti mereka akan celaka). Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah kitab yang mulia. Tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakang.672) (Al-Qur’an itu adalah) kitab yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”
Begitu agungnya al-Qur’an sampai-sampai segala sesuatu yang berhubungan dengan al-Qur’an ikut menjadi agung dan mulia.
a. Ketika Al-Qur’an diturunkan melalui perantara Jibril, maka Jibrilpun menjadi “Sayyidul Malaikah” penghulu para malaikat dan diberi gelar “Arruhul Amin”.
b. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliaupun dinobatkan menjadi “Sayyidul Anbiyai wal Mursalin” nabi dan rasul terbaik.
c. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka menjadi “Khoirul Umam” ummat terbaik.
d. Ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam “Lailatul Qadar”, maka malam tersebut menjadi “Khoirul Layali” bahkan disebutkan dalam Al-Qur’an “Khoirun Min Alfi Syahrin” satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan.
e. Dan bulan Ramadhan, Ketika Al-Qur’an diturunkan pada bulan ini maka bulan ini menjadi “Sayyidus Syuhur” bulan terbaik dari seluruh bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ
Artinya : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).
Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain dia, bahwasanya hati manusia yang tersentuh dengan Al-Qur’an akan menjadi “Khoirun Naas” sebaik-baik manusia.
Al-Qur’an yang ada pada kita, yang kita baca, yang kita hafal, yang kita pelajari, sama persis dengan Al-Qur’an yang ada pada masa nabi. Dengan Al-Qur’an nabi mendidik sahabatnya generasi awal Islam, sehingga Al-Qur’an merubah kehidupan para sahabat secara signifikan, padahal mereka bukan orang yang berpendidikan dan bukan bangsa yang memiliki peradaban seperti bangsa Persia, Romawi atau Bizantium.
Lihat saja bagaimana Umar bin Khattab (Al-faruq), dimana 16 pendapatnya menjadi penyebab turunnya ayat Al-Qur’an yang menguatkan pandangan dan pendapat beliau. Sebelum mengucapkan syahadat dikenal sebagai orang yang keras, kasar dan sangat benci Islam. Namun hati Umar lunak dan luluh begitu mendengar adiknya Fatimah membaca Al-Qur’an dan setelah itu beliau menjadi benteng terdepan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian ada Abu Dzar Al-Gifari pembegal, perampok, ayahnya pimpinan perampok dari kampung Gifar, hidupnya terbiasa dengan kekerasan dan kejahatan. Setelah tersentuh hatinya oleh Al-Qur’an, berubah menjadi seorang yang zuhud, tawadu’, menentang semua orang yang cenderung menumpuk harta untuk kepentingan pribadi, meskipun itu sahabatnya sendiri.
Al-Qur’an datang merubah perilaku, cara berfikir, tutur kata, sopan santun dan itulah sesungguhnya hakikat mukjizat Al-Qur’an yang paling utama yaitu mampu merubah hidup seseorang.
قَالَ رسول الله ص م: إنَّ اللَّهَ يَرفَعُ بِحذَ الكتَاِبِ اَقَوامًا وَيَضَعُ بِه آخَرِينَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat dan memuliakan beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini, dan Allah merendahkan beberapa kaum dengan kitab ini pula” (HR. Muslim).
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah. Kalau Al-Qur’an belum bisa merubah kehidupan kita, itu berarti cara kita berintraksi dengan Al-Qur’an yang bermasalah, perlakuan kita pada Al-Qur’an hanya sebatas formalitas. Banyak diantara kita mengklaim dalam sehari mengkhatamkan AlQur’an satu sampai tiga kali, namun ayat mana yang dipahami, kemudian diamalkan kandungannya? Paling kita hanya bisa berlomba-lomba menghitung pahala dari membacanya.
Al-Qur’an memang beda dari kitab suci yang lain, bila dibaca meskipun tidak dipahami tetap mendatangkan pahala, cuma manfatnya menjadi sangat sedikit dibandingkan bila dipahami maknanya: “Siapa yang membaca satu huruf, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan jadi sepuluh”.
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
Abu Sofyan, Abu Jahal dan Walid Ibnul Mughirah tokoh kafir quraisy, sengaja datang setiap malam ke rumah nabi sembunyi-sembunyi sekedar ingin mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sangat tersentuh bahkan mengeluarkan air mata, Walid Ibnul Mughirah sampai berkata:
وَاللهِ لَقَدْ سَمِعْتُ مِنْ مُحَمّدٍ آنِفًا كَلاَمًا مَا هُوَ مِنْ كَلاَمِ الأِنْسِ، وَلَامِنْ كَلَامِ الجِنِّ، إِنَّ لَهُ لَحَلَاوَة وَإنَّ عَلَيْهِ لَطَلاوَة
Artinya : “Demi Allah, baru saja saya mendengar dari Muhammad, sebuah ucapan yang bukan bahasa manusia, bukan pula bahasa jin. Sungguh sangat indah, penuh makna, menakjubkan dan nikmat untuk didengar” .
Kenapa kafir quraisy tersentuh dengan Al-Qur’an, sementara sebagian besar ummat Islam saat ini sama sekali tidak tersentuh sedikitpun dengan Al-Qur’an. Penyebabnya adalah: “Kita membacanya tanpa kita pahami maknanya dan kita tidak tau apa yang diingankan Al-Qur’an dari kita”.
Kebanyakan kita dalam mempelajari Al-Qur’an tidak menitikberatkan pada nilai moral atau ruh dari Al-Qur’an, tapi hanya terbatas pada teks-teksnya saja. Artinya, kita ini baru mampu menangkap makna Al-Qur’an sebatas pada kesakralan dan ritual semata. Padahal setiap kita membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi lalu mengamalkannya sesuai kesanggupan, maka Al-Qur’an menembus ke relung hati, membersihkan kotoran, menyingkap segala kegelapan.
قَالَ سَيِّدُنَا عُثْمَان ابْنُ عَفَّان : لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَاشَبِعْتُمْ مِنْ كَلاَمِ رَبِّكُمْ
Jika hatimu suci dan bersih, niscaya kamu tidak akan pernah kenyang dengan ayat-ayat tuhanmu. Artinya kita tidak pernah merasa bosan bersama Al-Qur’an. Mukjizat Al-Qur’an lebih dahsyat dari kesanggupan Nabi Isa alaihis salam menghidupkan orang mati. Mukjizat Al-Qur’an lebih hebat dari tongkat Nabi Musa alaihis salam yang bisa menjelma menjadi ular dan dapat membelah lautan.
Al-Qur’an mampu mengeluarkan ummat yang tidak berperadaban, jahiliyah, saling bunuh hanya karena hal-hal yang sangat sepele, ratusan tahun hidup seperti itu, lalu mereka dijadikan oleh Al-Qur’an "Khaira Ummat" sebaik-baik ummat.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah. Tidak ada yang bisa pungkiri keutamaan membaca AlQur’an, keutamaan menghafal Al-Qur’an, namun apakah tujuannya hanya berhenti pada membaca dan menghafal saja atau tujuan sesungguhnya adalah supaya kita memahami maknanya dan mengamalkannya?
a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin kita baca dan hafal Al-Qur’an seperti rekaman kaset, MP3.
b. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin kita baca dan hafal Al-Qur’an seperti burung beo yang pandai meniru kalimat yang diulang-ulang saat memberinya makan.
Para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in saat membaca dan mempelajari Al-Qur’an, tidak akan pindah ke ayat dan surat berikutnya, sebelum mereka paham dan mengamalkan kandungan isi kandungannya. Sayyidina Utsman bin Affan dan Abdullah ibnu Mas’ud berkata:
كُنَّا إذَا تَعَلَّمْنَا مِنَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ، لَمْ نُجَاوِزِهَا حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَا فِيْحَا مِنَ العِلْمِ وَالعَمَلِ
Jika kami mempelajari sepuluh ayat dari nabi, maka kami tidak akan pindah ke ayat berikutnya, sebelum kami paham makna yang terkandung dalam sepuluh ayat tersebut kemudian mengamalkannya.
Jadi ayat itu mereka baca, mereka pahami maknanya, mereka tadabburi, mereka amalkan lalu mereka hafal baru kemudian mereka beralih membaca ayat lainnya. Metode mereka dalam berintraksi dengan Al-Qur’an adalah: iqra (baca), ifham (pahami), tadabbar (tadabburi), tabbaq (amalkan), ihfadz (jaga dan hafal). Sementara metode kita sekarang adalah: ihfadz, ihfadz dan ihfadz (hafal, hafal dan hafal)
Problem kita dalam bermuamalah dan berintraksi dengan Al-Qur’an bukan di bacaannya, bukan pula di hafalannya, membaca dan menghafal Al-Qur’an adalah amalan yang sangat-sangat terpuji, sangat mulia, merupakan cahaya di atas cahaya. Syariat Islam bahkan sangat menganjurkan kita untuk mendukung dan memberi semangat para pembaca dan penghafal Al-Qur’an agar kemutawatiran Al-Qur’an tetap terjaga dengan baik, sehingga Al-Qur’an bisa diwariskan secara turun temurun sampai hari kiamat.
Saaat ini ada eforia di kalangan ummat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an, di satu sisi kita bahagia jika ummat Islam memiliki perhatian yang sangat besar pada Al-Qur’an, tapi disisi lain yang harus diingat dan diperhatikan adalah bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sekedar untuk dibaca dan dihafal, yang lebih penting dari itu semua bahwa Al-Qur’an adalah “Hudan Linnas” isinya harus dibaca, dihafal, dipelajari, dipahami, kemudian diamalkan dalam kehidupan ini.
وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Al-Qur’an adalah penyembuh penyakit yang ada di dalam dada sebagai hidayah, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah. Berbicara tentang Al-Qur’an sesungguhnya membicarakan sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Dari sisi manapun kita memulai pembicaraan maka kita akan temukan dan rasakan, ia bagaikan samudera luas yang dalam dan tidak bertepi. Akan selalu ada hal-hal baru yang kita dapatkan dari hasil tadabbur dan pembacaan kita terhadap Al-Qur’an.
Seorang ulama yang bernama DR. Muhammad Abdullah Darraz dalam kitab “An-Nabaul Adzhim” mengatakan: Ayat-ayat Al-Qur’an itu bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudutsudut lain. Dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang kita lihat.
Jika ada kalimat yang bisa dijadikan kesimpulan dalam khutbah singkat ini, khatib ingin mengatakan bahwa:
1. Al-Qur’an disamping harus dibaca dan dihafal juga harus dipelajari, dikaji, ditadabburi dan dipahami maknanya, baik makna tekstual maupun kontekstual “Lafdziyyan Wa Maknawiyyan” sehingga kandungannya dapat diaplikasikan dalam kehidupan.
2. Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang dijamin kebenarannya “Wahyullahil Ma’shum” sedangkan pemahaman kita terhadap Al-Qur’an itu adalah produk manusia “Juhdin Basyari” bisa benar dan bisa juga salah.
3. Al-Qur’an adalah kitab “masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang” pemahamannya lentur, fleksibel dan tidak kaku “Solihun Likulli Zamanin wa Makanin” Al-Qur’an selalu sesuai dengan segala waktu dan tempat. Kapanpun dan dimanapun Al-Qur’an tetap dan tetap menjadi sumber kebenaran yang mutlak, yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi pedoman hidup ummat manusia.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.