Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Penguatan Nilai-nilai Spiritualitas dan Moralitas di Era Digital

Admin 26 Sep 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. Syahrullah Iskandar, MA
(Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT) UIN Syarif Hidayatullah dan Pengasuh Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta), Jum’at, 26 September 2025 M / 04 Rabiul Akhir 1447 H

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah. Kita senantiasa mengucapkan tahmid sebagai bentuk syukur kita secara lisan, seraya kokoh dalam hati, dan mengejawantahkan kesyukuran itu dalam laku perbuatan yang memberi nilai manfaat kepada manusia dan alam raya. Salam dan shalawat tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selaku teladan untuk menuntun kita meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Mari kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan menambah kualitas pendekatan diri kita kepada-Nya seraya mendepankan akhlakul karimah! 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah. Zaman sudah berubah begitu cepat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi begitu pesat, sehingga kita tidak bisa menolaknya atau berpaling darinya. 

Inilah era digitalisasi yang ditandai oleh konektivitas dengan internet, pemanfaatan komputer, smartphone, dan tablet dalam beraktivitas, terjadinya transformasi dari model analog ke model digital, serta percepatan dan efisiensi dalam menjalani rutinitas. Cara kita berinteraksi, bekerja, dan mengakses informasi pun turut terpengaruh. Mau tak mau, kita harus menerima dengan sukacita akan kemajuan tersebut. 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah. Modernisasi diumpamakan sebagai perabot baru yang ukurannya besar sehingga harus memindahkan atau mengatur posisi kembali perabot lama agar bisa ditampung di sebuah rumah. Zaman digital datang membawa perubahan yang signifikan dalam keseharian kita. Ia bisa mengubah banyak hal, ada yang menghembuskan kebaikan, tapi terdapat juga potensi buruk di dalamnya, bergantung pada cara kita menyikapinya dengan bijak. 

Era digital ditandai oleh arus informasi yang tak terbendung. Bahkan, informasi yang tidak dibutuhkan pun datang menyapa dengan mudahnya. Hanya saja, terkadang informasi tersebut diterima tanpa validasi yang bermuara pada ketidakakuratan yang melencengkan dari fakta sebenarnya. 

Istilah “matinya kepakaran” (the death of expertise) terbukti di era kekinian yang menjadikan orang yang kredibel ter- pinggirkan karena kalah saing oleh figur-figur yang piawai memanfaatkan kesempatan, meski minim kapabilitas dan kompetensi. Tidak jarang fitnah berseliweran di jagad media sosial dengan kemasan yang atraktif. 

Di sisi lain, agama terkadang dijadikan hanya sekadar identitas performatif. Seseorang melakukan ritual tertentu ataupun melakukan kebaikan lebih memprioritaskan publikasi di akun media sosialnya ketimbang aspek keikhlasan itu sendiri. Padahal, keikhlasan merupakan ruh dari ibadah. 

Syekh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam-nya menyebut al-a’malu shuwarun qa’imah wa arwahu-ha wujudu sirril ikhlashi fiha (amal itu hanya bentuk lahiriah, sedangkan ruh yang menghidupkannya adalah hadirnya keikhlasan di dalamnya). Terkadang sangat tipis pembeda antara tujuan mengajak kebaikan, ketimbang pamer. Sensitivitas dalam bermedsos acap kali terabaikan. 

Sering kali orang tidak bisa membedakan antara tujuan “sekadar berbagi informasi” dengan motivasi “mengumbar privasi”. Tak jarang kesenangan berlebihan yang terpublikasi di medsos justru membuat orang lain tidak senang. 

Betapa banyak saudara kita yang masih hidup di bawah kita. Kalau kita belum bisa mengulurkan tangan, cukup tidak memamerkan perolehan rezeki secara berlebihan. Bersyukur mestinya diejawantahkan dengan sikap empati, yaitu kita menempatkan orang lain pada posisi kita sendiri, sehingga selalu menjaga kenyamanan orang lain layaknya diri sendiri. 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah. Diperlukan kesadaran berdigital agar selalu berkontribusi menyebarkan informasi yang faktual, bermanfaat, dan menyenangkan. Kita teringat kembali akan pesan bijak bahwa “Salamatul insan fi hifzhil lisan” (Keselamatan seorang manusia bergantung pada kemampuannya menjaga lisan). 

Pesan bijak lainnya menyebut, “Dalam diam ada keselamatan, dalam tuturan ada penyesalan. Jika ucapan diibaratkan sebagai perak, maka diam itu adalah emas”. Di era digital seperti ini, lisan bisa terwakilkan oleh “ujung jari” yang dampaknya amat dahsyat. Betapa banyak orang gegara postingan atau komentar di medsos menebar hal yang tidak senonoh. 

Tugas kita bersama mengedepankan nilai positif dari kemajuan digital yang telah menghiasi keseharian. Apa pun bentuk kemajuan yang telah melingkupi kita adalah karunia dari Allah subhanahu wata'ala. Kita berupaya mewujudkan nilai manfaatnya untuk banyak orang. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada kita semua:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain” (HR. Ibnu Majah).

Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut menyiratkan bahwa Islam akomodatif terhadap kemajuan dalam berbagai aspeknya. Kita harus mensyukurinya dengan memanfaatkannya dengan baik, sembari menebar kebaikan kepada semua makhluk. Ketika seseorang memanfaatkannya sebagai sarana yang negatif berarti itu sebagai bukti tak terbantahkan ketidaksyukuran akan karunia dari Allah subhanahu wata'ala. 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah. Sejatinya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi bukanlah tujuan, melainkan hanya sekadar alat untuk kehidupan. Kita bisa manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala sekaligus sebagai sarana menjalani misi sebagai khalifah fil ardhi, yaitu perwujudan kedamaian hidup di persada bumi ini. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah  [2]:195)

Ayat ke-195 Qur'an Surah al-Baqarah ini memerintahkan kita untuk senantiasa menebar kebaikan dalam segala kondisi. Di era digital ini sarana berbuat baik semakin terbuka lebar. Jika dulunya sarana menyebar kebaikan terbatas di tempat tertentu, sekarang kesempatan untuk itu semakin tersedia. 

Untuk berdonasi dalam kebaikan, tersedia banyak cara dan fasilitas untuk menyalurkannya. Ketika kita hendak menyempatkan diri membaca al-Qur’an ataupun terjemahan dan tafsirnya, kita bisa manfaatkan smatphone kita. 

Kita juga mesti mawas diri agar tidak terjerembab dalam kebinasaan. Jangan sampai era digitalisasi melindas kita, sehingga melakukan tindakan yang jauh dari nilai moral. Kita diminta untuk senantiasa mengedepankan kebaikan dalam segala kondisi. Berbuat baik sekecil apa pun, mengedepankan relasi baik kepada sesama manusia, dan memberi dampak positif dari tutur dan perilaku. 

Mari kita mengaca pada Nabi Musa alaihis salam dan Nabi Harun alaihis salam ketika diperintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala menemui Fir’aun yang telah berbuat melampaui batas agar tetap istiqamah bertutur yang lemah-lembut.

ٱذْهَبَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ (43) فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ (44)

Artinya : “Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun! Sesunggu- hnya dia telah melampaui batas. Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”. (QS. Thaha [20]: 43-44).

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah. Sejatinya, substansi era digitalisasi adalah memberi ke- maslahatan dalam menjalani keseharian kita. Digitalisasi hanyal sarana, bukan tujuan sehingga tidak boleh mengikis kewibawaan kita. 

Prinsip malu (al-haya’) dalam agama kita tetap dikedepankan. Inilah salah satu “tameng” kita hidup berdampingan dengan perubahan zaman. Jika rasa malu ini tidak lagi bercokol dalam sanubari kita, kewibawaan kita akan jatuh. Justru perilaku yang memalukan yang mengemuka. 

Semoga ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala semakin kokoh dan kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain dan lingkungan kita semakin terbuka.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.