Oleh : Dr. KH. Ahmad Husni Ismail, M.Ag
(Imam Rawatib Masjid Istiqlal)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Perbedaan adalah takdir Allah dan kita terlahir dalam berbagai macam perbedaan. Perbedaan jenis kelamin, perbedaan budaya dan adat istiadat, perbedaan bahasa dan kultur, perbedaan agama dan keyakinan. Jika ada seseorang yang menafikan adanya perbedaan atau yang menginginkan semua manusia beriman atau semua manusia menjadi umat yang satu atau sama, hal itu amatlah mustahil, karena yang demikian itu tidak sejalan dengan kehendak Allah subhanahu wata'ala. Allah berfirman:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Artinya : “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?” (QS. Yunus/10 : 99).
وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ يُّضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَلَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Seandainya Allah berkehendak, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Kamu pasti akan ditanya tentang apa yang kamu kerjakan” (QS. an-Nahl/16 : 93).
Hadirin jamaah Jum'at yang mulia
Indonesia kita adalah negara dengan keragaman etnis, suku, budaya, dan bahasa. Pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah suku yang tercatat sebanyak 1331 jumlah suku dan sub suku dan pada tahun 2013 jumlah ini berhasil diklasifikasi kembali oleh BPS sendiri, bekerja sama dengan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), menjadi 633 kelompok-kelompok suku besar. Dalam hal agama pun ada enam agama resmi yang diakui dan ada pula kepercayaan lokal yaitu agama nenek moyang.
Dalam menyikapi sekian banyak perbedaan yang ada terutama perbedaan agama dan keyakinan, mari kita perhatikan petunjuk Al-Qur’an yang mesti kita pedomani dalam pergaulan sehari-hari agar terbangun hidup rukun dan harmonis, serasi dan selaras. Petunjuk hidup bersama dalam keragaman, satu dengan yang lainnya saling memahami, tenggang rasa dan toleran. Hidup dalam keindahan persaudaraan sebangsa dan sekemanusiaan, agar terhindar dari pertikaian, percekcokan, silang sengketa antara satu kelompok dengan lainnya.
Hadirin jamaah Jum'at yang mulia.
Semua umat beragama berkeyakinan bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Sebagai seorang muslim kita sangat yakin bahwa agama Islam-lah yang paling benar, Demikian pula saudara-saudara kita yang memeluk agama yang berbeda dengan kita, mereka juga berkeyakinan bahwa agamanya-lah yang paling benar. Al-Qur’an surat Saba’ ayat 24 - 25 menerangkan hal ini dengan amat indah :
قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۙوَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Katakanlah (Nabi Muhammad), Siapakah yang
menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi?”.
Katakanlah, Allah. Sesungguhnya kami atau kamu (orang orang musyrik) benar-benar berada di dalam petunjuk atau
dalam kesesatan yang nyata?”.
Ayat ini mengisyaratkan agar masing-masing umat beragama sering duduk bersama membangun dialog antar agama untuk terciptanya hubungan baik jalinan harmoni, sikap inklusif dan tidak apriori terhadap perbedaan karena perbedaan adalah takdir Tuhan. Berdialog untuk mencari titik temu dan kesamaan dan tidak mempertajam perbedaan. Dan titik temu agama-agama adalah pada Ketuhanan Yang Maha Esa (Allah yang mencipta dan memberi rizki untuk sekalian manusia dari langit dan bumi).
Dalam ayat lain, pada Qur’an surat Al-Hajj/22 ayat 40, Allah berfirman:
… وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ …
Artinya : “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid yang (semua rumah ibadah itu) di dalamnya banyak disebut nama Allah”.
Hadirin jamaah Jum'at yang mulia.
Demi membangun sebuah keharmonisan dan kerukunan di tengah perbedaan keyakinan, tidaklah bijak mengungkapkan kepada lawan bicara kita bahwa kita yang paling benar walau kita yakin demikian, sementara mereka kita vonis bersalah atau sesat. Umat beragama manapun tidak akan menyukai apabila kebenaran keyakinan yang dianutnya disalahkan. Sikap tenggang rasa penuh kearifan dituntut dari kita semua yang menyadari keberagaman sebagai takdir Allah subhanahu wata'ala.
قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Katakanlah, Kamu tidak akan dimintai pertanggung-jawaban atas dosa yang kami kerjakan dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu kerjakan” (QS. Saba’/34 : 25).
Ucapkanlah, wahai saudaraku, jangan risaukan dosa dan kesalahan agama yang kami anut karena kalian tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang dosa-dosa yang kami lakukan. Dan kami pun tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kamu lakukan. Masing-masing kita bertanggung jawab dengan apa yang kita yakini. Biarlah Allah yang memutuskannya di hari kiamat.
قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ
Artinya : “Katakanlah, Tuhan kita (pada hari Kiamat) akan mengumpulkan kita, kemudian memutuskan (perkara) di antara kita dengan hak. Dialah Yang Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui ”(QS. Saba’/34 : 26).
Hadirin jamaah Jum'at yang mulia.
Sebaliknya, hindarilah dialog yang mempertajam perbedaan yang cenderung akan saling menyerang dan menyalahkan. Apalagi jika sampai pada narasi saling menghina atau merendahkan. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan” (QS. al-An’am/6 : 108).
Hadirin jamaah Jum'at yang mulia.
Lebih lanjut mari kita perhatikan sekilas beberapa contoh pengamalan petunjuk-petunjuk suci Al-Quran ini yang telah diteladankan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiallahu anhu.
Ketika periode Mekkah, saat baru saja Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menerima wahyu pertama, terjadilah kerisauan yang dialami Baginda Nabi. Beliau diajak oleh istrinya Siti Khadijah radhiallahu anha, berkonsultasi kepada Waraqah bin Naufal, Pendeta Nasrani yang merupakan sepupu Khadijah radhiallahu anha.
Sebagian sahabat dua kali berhijrah ke Abbesinia (Ethyopia) untuk menghindari gangguan kafir Quraisy Mekkah, dan diterima baik oleh penguasa yang beragama Nasrani saat itu. Bahkan penguasa Nasrani tersebut menyiapkan transportasi laut dan darat untuk para sahabat yang akan bergabung bersama Nabi hijrah ke Madinah.
Ketika di Madinah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membuka rumahnya untuk didatangi oleh istri istri Yahudi tetangganya yang memiliki hajat menemui isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan terkadang terjadi dialog antara mereka dengan istri beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang terlibat dialog jika yang didiskusikan berkaitan dengan ajaran agama.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, memiliki mertua yang beragama Yahudi, mertua lelaki dan perempuan dari isteri beliau yang bernama Sofiah radhiallahu anha. Kedua mertua beliau tetap beragama Yahudi hingga wafat.
Ada lagi seorang Yahudi namanya Muhairiqah menyatakan pergi berperang bersama Nabi, sebelumnya membuat wasiat akan menghibahkan semua harta-bendanya kepada Nabi jika gugur dalam peperangan. Muhairiqah benar gugur dan harta bendanya dipergunakan untuk perjuangan dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sayyidina Abubakar radhiallahu anhu sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi puterinya Sayyidatina Aisyah menanyakan apakah masih ada sunnah yang belum beliau contoh dari kekasihnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Puterinya menjawab, semua sunnah Nabi sudah beliau lakukan. Namun ada satu kebiasaan Nabi setiap pagi mendatangi pinggiran pasar dan menyuapi pengemis wanita tua Yahudi yang buta matanya.
Keesokan harinya Abu Bakar pergi menemuinya. Ketika Abubakar menghampirinya, pengemis tersebut bertanya, "Siapakah Engkau?". Abu Bakar menjawab, "Aku orang yang biasa datang". Pengemis itu menyanggah, “Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila dia datang, tangan ini tidak usah memegang dan mulut ini pun tidak perlu mengunyah. Sebelum menyuapiku, dia terlebih dahulu menghaluskan makanan tersebut dengan mulutnya,".
Mendengar ucapan pengemis tersebut, Abu Bakar menangis dan berkata, "Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku merupakan salah satu sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Beliau adalah Nabi Muhammad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam".
Seketika, pengemis itu pun menangis mendengar jawaban dari Abu Bakar. Pengemis itu bertanya, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku sedikitpun, bahkan dia mendatangiku dengan membawa makanan tiap pagi, orang itu amat mulia". Pembenci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu lantas bersyahadat di hadapan Abu Bakar radhiallahu anhu.
Dan baru-baru ini, pekan lalu, tanggal 18 Desember 2024, Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto, di tengah-tengah mengikuti G8 di Mesir menyempatkan hadir menyapa mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah Al-Azhar. Presiden antara lain mengatakan: “Saya bersyukur, saudara-saudara memilih belajar di Universitas Al-Azhar, universitas yang sangat bersejarah, universitas Islam yang mengajarkan pelajaran Islam yang damai, pelajaran Islam yang sejuk,, pelajaran Islam yang moderat, pelajaran Islam yang tidak mengajarkan kebencian, pelajaran Islam yang tidak mencari kesalahan tapi saling mencari titik temu,”
Titik temu kita sebagai bangsa adalah Pancasila dan titik temu agama-agama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Mari kedepankan sikap moderat dan toleran yang telah dicetuskan dan dicontohkan para tokoh dan guru-guru bangsa, yang telah teruji dan terbukti berhasil merekatkan persatuan bangsa Indonesia. Semoga bangsa ini terus dalam lindungan Allah dan juga semua pemimpinnya. Aamin. (RIZKI/ HUMAS DAN MEDIA MASJID ISTIQLAL)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.