Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Membangun Keluarga Sakinah Perspektif Alquran dan Sunnah

Admin 08 Oct 2024 Warta Istiqlal

(Intisari Khutbah Jum’at, 01 Rabiul Akhir 1446 H / 04 Oktober 2024 M)
Oleh : Drs. KH. Hasanuddin Sinaga, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma'asyiral muslimin. Keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah masyarakat meskipun demikian, bukan berarti institusi “keluarga” tidak penting. Justru sebaliknya, keluarga menduduki posisi sangat penting dan strategis dalam sebuah masyarakat.

Sebuah bangsa hanya akan menjadi baik dan berkualitas jika masyarakatnya baik dan berkualitas. Dan tidak akan ada masyarakat yang baik tanpa keluarga-keluarga yang baik. Disinilah institusi “keluarga” menjadi penting untuk diperhatikan.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara faktor-faktor yang paling menentukan kebahagiaan seseorang, hasil survei itu menempatkan “have a good family life” menjadi jawaban terbanyak dari responden (memiliki kehidupan keluarga yang baik).

Ma'asyiral muslimin. Kehidupan keluarga yang baik sering diistilahkan dengan “keluarga sakinah”. Boleh jadi istilah tersebut diambil atau terinspirasi dari ayat 21 Qur'an surat Ar-Ruum :

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: "Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."

Keluarga sakinah artinya keluarga yang tenang. Sakinah secara bahasa artinya tenang, tenteram atau juga bermakna “diam” setelah sebelumnya goyang. Seperti pepatah arab mengatakan :

سَكَنَتِ الشَّجَرَةُ إِذَاذَهَبَتِ الرِّيْعُ

“Ranting pohon itu tenang setelah hilangnya angin / badai”.

Sakinah itu adalah ketenangan batin, ketenangan pikiran. Orang yang keluar rumah, bekerja dan beraktivitas, sibuk dengan pekerjaan, itu macam-macam pikirannya, macammacam perasaannya, macam-macam persoalannya. Maka begitu dia kembali ke rumah, bertemu istri dan anaknya (bertemu keluarganya) di sana dia memperoleh ketenangan. Rumah (bahasa inggris disebut home) dalam bahasa arab “Maskan” dari akar kata “Sakan” itu maknanya tempat tinggal yang tenang.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang anggotaanggotanya merasa tenang, tenteram dan penuh dengan rasa aman. Rasa aman lebih penting daripada kesehatan. Orang yang sakit tapi merasa aman maka dia akan bisa tidur dengan nyenyak. Sebaliknya, orang yang sehat bugar, kaya raya tapi tidak merasa aman; dia tidak akan bisa tidur nyenyak meskipun di atas kasur yang empuk dan tebal.

Ma'asyiral muslimin. Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapat disimpulkan bahwa Keluarga Sakinah diikat oleh tiga ikatan tali temali yang saling berkaitan yaitu : tali ikatan mawaddah, ikatan rahmah dan amanah.

Apa itu mawaddah? Menurut Ibnu Faris dalam kitab Mawaisnya kata “mawaddah” berakar dari kata yang terdiri dari huruf و dan د yang bertasdid artinya cinta dan harapan.

Sementara itu, pakar tafsir Al-Biqa’i menyebutkan bahwa mawaddah itu artinya kekosongan dan kelapangan dada. Bisa disimpulkan bahwa mawaddah bukanlah cinta biasa tetapi mawaddah adalah cinta plus, apa maksudnya?

Mawaddah itu adalah kecintaan kepada seseorang disertai dengan kosongnya jiwa dari prasangka buruk. Bisa jadi ada orang cinta pada pasangannya tapi dia bersangka buruk, ragu, dan lain sebagainya.

Mawaddah adalah cinta yang tidak lagi melihat keburukan yang bersangkutan. Bahkan yang burukpun dia anggap baik. Sama seperti seorang ibu yang melihat anaknya sumbing, Dia tidak lihat lagi sumbingnya; bahkan dia tidak mau anaknya ditukar dengan anak yang lain. Itulah makan mawaddah.

Ma'asyiral muslimin. Tali Kedua yang menjadi pengikat keluarga sakinah adalah tali rahmah. Apa itu rahmah? Rahmah adalah keperihan hati melihat tidak berdayaan seseorang, keperihan itu mendorong untuk menolong dan memberdayakannya.

Ada juga yang mengatakan bahwa rahma itu adalah “unconditional love”, cinta yang tidak melihat kondisi apapun. Unconditional love adalah cinta tanpa syarat. Bukankah Allah subhanahu wata'ala senantiasa mencurahkan rahmatnya kepada kita manusia, padahal kita sering lalai dan bermaksiat kepada-Nya? Tapi Allah mencurahkan cinta tanpa syarat kepada umat manusia, makhluk ciptaan-Nya. Sayyidinah Hasan radhiallahu anhu pernah berkata: (manusia ini) tidak akan bisa hidup sesaat pun (sedetikpun) tanpa rahmat Allah subhanahu wata'ala.

Ma'asyiral muslimin. Terkadang, boleh jadi, dalam sebuah keluarga sifat “sakinah”nya memudar, tapi masih ada mawaddah. Boleh jadi, tali mawaddah putus, tapi masih ada rahmah. Sekiranya tali rahmahpun putus, masih ada yang ketiga amanah. Amanah adalah ikatan suci Allah SWT. Al-Qur’an menyebutkan dengan ميشاقا عليضا.

Allah subhanahu wata'ala mengulang kata tersebut 3 (tiga) kali dalam Al-Qur’an. Ikatan yang berat tapi suci, ikatan yang suci tapi berat. Apabila seseorang kehilangan sifat amanah dalam dirinya, jika hidup tanpa amanah maka perut bumi lebih baik bagi yang bersangkutan dari permukaannya.

Tiga tali temali mawaddah, rahmah dan amanah kemudian direkat dengan kalimat Allah, itulah yang membuat keluarga sakinah tersebut menjadi sangat kuat dan kokoh.

Ma'asyiral muslimin. Selanjutnya, apa yang kita upayakan untuk bisa membangun keluarga sakinah tersebut? Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis bisa kemukakan antara lain ;

Pertama, menanamkan pondasi aqidah dan tauhid yang kuat dalam keluarga, mengajak anggota keluarga untuk taqwa kepada Allah dan saling memberikan nasehat atas ibadah dan taat. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim ayat 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Artinya : “Semoga Allah memberikan rahmat kepada seseorang yang bangun di malam hari, kemudian ia shalat dan membangunkan isterinya. Jika isterinya enggan, ia memercikkan air di wajahnya (dengan kasih sayang). Semoga Allah memberikan rahmat kepada isteri yang bangun di malam hari, lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya enggan, ia memercikkan air di wajahnya (dengan kasih sayang)” (HR. Abu Daud dengan ishad shahih).

Dari Abu Hurairah dan Abu Said radhiallahu anhu keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Artinya : “Apabila seorang suami membangunkan isterinya di malam hari, lalu keduanya shalat – atau shalat dua rakaat bersama-sama, niscaya keduanya ditulis termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah” (HR. Abu Daud dengan Ishad Shahih).

Kehidupan keluarga yang dibimbing oleh ruh iman serta tolong menolong atas ketaatan adalah merupakan kehidupan Muwaffaqah Musaddadah (diberi taufiq dan jalan yang benar).

Ma'asyiral muslimin. Kedua, bergaulah dengan pasangan/ istri, suami dan anakanak dengan baik. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًاۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa ayat 19)

Al-Qur’an tidak menamai ikatan perkawinan dan hubungan dalam kehidupan keluarga dengan muamalah tetapi menamainya dengan istilah mu’asyaroh. Mengapa demikian? Karena Mu’amalah itu adalah hubungan timbal balik yang biasanya didasarkan pada materi.

Sedangkan mu’asyaroh adalah hubungan yang menyatu tidak dapat dipisahkan antara sesuatu dengan sesuatu yang lainnya karena telah bercampur dan menyatu sedemikian rupa. Orang yang berbisnis melakukan mu’amalah. Seorang yang berjual beli melakukan mu’amalah.

Sedangkan hubungan keluarga suami istri dan anak-anak bukan jual beli, bukan pula bisnis, melainkan suatu ikatan yang luhur, yang suci yang menjadikan suami istri menyatu dalam langkahnya, menyatu dalam tujuan dan hidup dalam kehidupan yang harmonis.

Ma'asyiral muslimin. Salah satu contoh dari mu’asyarah yang itu adalah menutup kesalahan dan memaafkan kekeliruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Artinya : “Janganlah seorang mukmin laki-laki bersikap membenci kepada mukmin perempuan (istrinya), jika ia membenci satu perangainya, tentu ada perangai yang lainnya yang disukai”.

Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَاِنْ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيْضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ اِلَّآ اَنْ يَّعْفُوْنَ اَوْ يَعْفُوَا الَّذِيْ بِيَدِهٖ عُقْدَةُ النِّكَاحِۗ وَاَنْ تَعْفُوْٓا اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۗ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya: "Jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu sentuh (campuri), padahal kamu sudah menentukan maharnya, maka (bayarlah) separuh dari apa yang telah kamu tentukan, kecuali jika mereka atau pihak yang memiliki kewenangan nikah (suami atau wali) membebaskannya. Pembebasanmu itu lebih dekat pada ketakwaan. Janganlah melupakan kebaikan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 237).

Ketiga, tolong-menolong dalam memecahkan kesulitan dan sekiranya ada problem dan persoalan, tidak membawanya keluar melewati batas dinding rumahnya. Dan yang terbaik adalah mendahului memberikan maaf jika memang ada masalah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Artinya : “Allah akan tambahi dan tambahi kemuliaan kepada orang yang mudah memberikan maaf”

Inilah beberapa pesan dari Al-Qur’an dan hadis tentang bagaimana penting membangun keluarga sakinah. Memang sangat mudah untuk diucapkan, tidak semudah mempraktekkan dan mengamalkannya. Tetapi, tidak ada yang sudah dan berat jika terus diupayakan dan mengharap bantuan dan pertolongan Allah subhanahu wata'ala.

Terakhir, keluarga menurut perspektif Al-Qur’an dan sunah tidak hanya berdimensi duniawiyyah tetapi berdimensi ukhrowi juga. Keluarga yang sakinah berdasarkan Iman dan ketaatan akan dipertemukan lagi keluarga itu di akhirat kelak. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ  كُلُّ امْرِئٍ ۢ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

Artinya: "Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. At-Thur : 21).

Keluarga yang shalih lagi mulia, setelah kebahagiaan dunia maka bagi mereka surga dan di akhirat. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنّٰتِ عَدْنِ  ࣙالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ

Artinya: "Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka serta orang yang saleh di antara nenek moyang, istri, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (QS. Al-Ghafir : 8).

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.