Oleh : KH. A. Nur Alam Bakhtir
(Wakil Ketua BAZIS DKI)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak ada bagimu pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu pasti akan diminta pertanggung jawabannya” (QS. al-Isra' : 36).
Secara garis besar ada tiga kategori pandangan hidup manusia sepanjang perjalanan hidupnya. Yakni: pandangan materialisme, pandangan intelektualisme dan pandangan mereka yang komit terhadap wahyu Ilahy, khususnya Islam.
Kelompok pertama memandang bahwa eksistensi manusia hanyalah kumpulan partikel bendawi yang menjadi satu bersifat fisik atau jasmani dan terjadi dengan sendirinya secara alamiah. Mereka berkeyakinan bahwa manusia tidak ada yang menciptakan. Bagi mereka hakikat hidup hanyalah di dunia ini saja.
Tidak ada kehidupan kedua, tidak ada kehidupan akhirat, tidak ada hari berbangkit, tidak ada hari pembalasan. Kalau orang sudah mati ya sudah, tidak ada proses kehidupan berikutnya.
Pandangan hidup seperti ini telah diisyaratkan dalam al-Qur'an:
اِنْ هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوْثِيْنَ ۖ
Artinya: "Ia (kehidupan itu) tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini. (Di sanalah) kita mati, hidup,507) dan tidak akan dibangkitkan (lagi)." (QS. al-Mu'minun : 37).
Pandangan hidup demikian tentu berdampak pada kehidupan yang lebih luas. Semua diukur dengan materi, keberhasilan hidup manusia dan penghargaan terhadap manusia hanya semata-mata karena materi dan materi.
Orentasi hidupnya hanya tertuju pada bagaimana membahagiakan diri dengan materi dan bagaimana berusaha mencari dan mengumpulkan materi sebanyak mungkin bahkan diantara mereka ada yang berharap hidup seribu tahun.
Perspektif mereka, bahwa hanya dengan materi kebahagiaan hakiki bisa dicapai, dan hanya di dunia ini saja kebahagiaan hidup dapat digapai. Sesungguhnya yang mereka cari hanyalah kenikmatan basyariyah yang sungguh sangat terbatas. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:
Artinya : “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim).
Kelompok kedua, intelektualisme, sesungguhnya pandangan mereka tidak jauh berbeda dengan pandangan pertama, meterialisme. Hanya saja bagi kelompok intelektualisme, meyakini bahwa eksisstensi manusia selain unsur fisik-jasmani juga mempunyai unsur ruhani, namun ruhani diidentikan dengan akal.
Mereka komit selain memelihara kesehatan fisik-jasmani juga berorentasi menjaga dan pengembangan kesehatan akal, lebih dari itu mereka bahkan sangat mengagungkan akal dan mempertuhankan akal. Mereka berkeyakinan hakikat hidup hanya di dunia ini saja, kalau manusia sudah mati ya sudah habis perkara, tutup riwayat tidak ada episode kehidupan berikutnya.
Bahkan mereka berkeyakinan bahwa kebinasaan manusia hanyalah sekedar peristiwa masa, dalam tafsir Ibnu Katsir disebut dengan faham Addahriyyah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ
Artinya: Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Padahal, mereka tidak mempunyai ilmu (sama sekali) tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga. (QS. al-Jatsiyah : 24 ).
Dugaan mereka berlanjut pada sebuah pandangan hidup bahwa kebahagiaan manusia selain dapat dicapai dengan memelihara fisik-jasmani dan banyaknya materi atau harta, juga harus dengan pengembangan intelek.
Padahal dalam kenyataannya banyaknya harta dan tingginya kemampuan intelek seseorang bukan jamininan orang itu mampu meraih kebahagiaan hakiki.
Pertanyaan retorik di dalam al-Qur'an ditegaskan: “Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak!). Sebab, hanya milik Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia”.
Allah SWT berfirman:
اَمْ لِلْاِنْسَانِ مَا تَمَنّٰىۖ (24) فَلِلّٰهِ الْاٰخِرَةُ وَالْاُوْلٰى ࣖ (25)
Artinya: "Apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya? (Tidak!) Milik Allahlah kehidupan akhirat dan dunia." (QS. an-Najm: 24 - 25).
Kelompok ketiga, dalam hal ini Islam memandang bahwa eksistensi manusia keberadaannya di dunia karena diciptakan oleh Sang Pencipta, Allah subhanahu wata'ala. Selain Nabi Adam alaihis salam, dan Sayyidah Hawa, nenek moyang manusia, manusia daciptakan melalui proses dalam rahim wanita.
Proses kejadian manusia di dalam rahim dari unsur sari pati tanah hingga menjadi bentuk sebaik-baiknya ciptaan hingga akhir hayat dan hari berbangkit, diantaranya dijelaskan dalam al-Quran surat alMukminin ayat 12 - 16. Kemudian ditegakan pula di dalam surat as-Sajdah ayat 7- 9, yang intinya bahwa awal penciptaan manusia berasal dari tanah. Dan Allah menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (mani).
Kemudian setelah Allah menyempurnakannya dan meniupkan Roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh manusia, lalu Allah menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati (fuad). Sehingga perlu digaris bawahi, dalam perspektif Islam manuisia memiliki tiga unsur; yakni fisik-jasmani, akal yang berpusat di kepala dan hati yang berpusat di dada.
Sehingga konsekuensinya manusia harus menyeimbangkan pengembangan kesehatan fisikjasmani, kesehatan akal dan kesehaatan hati. Jika kita memperhatikan dan mendalami isi kandungan alQur'an, ternyata ditemukan ayat-ayat dalam tiga kategori:
Pertama, ayat-ayat terkait pengembangan kesehatan fisik-jasmani Allah subhanahu wata'ala membimbingnya dengan ayat-ayat makanan dan minuman dan ayat perbuatan.
Allah subhanahu wata'ala memerintahkan kita agar mengkonsumsi makanan yang halal dan bergizi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ
Artinya: Makanlah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu sebagai rezeki yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu beriman." (QS. al-Maidah: 88).
Allah menganjurkan kita berpakaian necis dan melarang kita makan dan minum yang melampaui batas. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
Artinya: "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. al-A'raf: 31).
Nabi SAW pun menyuruh kita agar kita mengisi perut kita menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk nafas. Seperti dibahas oleh Imam Almawardi dalam bab muru'ah di dalam kitabnya "Adaabud-dunya waddiin." Allah subhanahu wata'ala memerintahkan agar kita menjauhi khamar, judi, berhala dan mengundi nasib. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS. al-Maidah: 90).
Allah pun melarang kita untuk mendekati perzinahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Artinya: "Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk." (QS. al-Isra: 32), dan masih banyak ayat-ayat terkait kesehatan fisik-jasmaniyah.
Kedua, ayat-ayat yang terkait pengembangan sehat akal, Allah subhanahu wata'ala membimbing kita dengan ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat hukum, ayat-ayat tauhid, ayat-ayat sejarah dan ayatayat hikmah.
Sejak pertama kali al-Qur'an diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ayat 1-5 surat al-'Alaq, menunjukkan bahwa Islam sasarannya adalah untuk menggugah akal agar berfikir dan mengembangkan ilmu.
Istilah ilmu dalam beragam bentuknya di dalam al-Qur'an disebutkan lebih dari 800 kali. Tidak kurang dari 50 ayat, Allah subhanahu wata'ala menyuruh kita untuk mempergunakan akal dengan kalimat yang beragam.
Seperti kalimat:
يا اولى الا باب، يا اولى الابصار. افلا تعقلون، لعلهم يعق افلا يتدبرون القران
dan lain sebagainya. Bahkan al-Qur'an mensinyalir bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah mereka yang tidak mempergunakan akal. Dan tidak sedikit pula ayat-ayat yang menerintahkan kita agar kita belajar dari sejarah dengan memakai kalimat perintah:
قل سيروا فى الارض فانظروا كيف كان عاقبة المجرمين
Ketiga, ayat-ayat yang terkait hati. Terkait ayat-ayat hati agar hati memiliki daya rasa yang kuat, dan menjadi hati yang damai dan tawadhu serta berakhlaqul karimah dan memiliki kepekaan spiritual, Allah subhanahu wata'ala membimbing kita melalui ayatayat ibadah.
Dengan shalat diharapkan kita menjadi manusia yang mampu mencegah diri dari perbuatan fahsya, yang merugikan diri sendiri maupun perbuatan munkar, menzallimi orang lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya: "Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. al-'Ankabut: 45).
Dengan menjalankan puasa diharapkan kita mampu meningkatkan derajat taqwa kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. al-Baqarah: 183).
Dengan menunaikan zakat diharapkan kita mampu mesucikan jiwa kita dari unsur kepelitan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: "Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan332) dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. at-Taubah: 103).
Dengan haji dan umrah diharapkan kita mampu menahan diri dari bicara yang tidak senonoh, perbuatan fasik dan pertengkaran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَاَنْتُمْ حُرُمٌ ۗوَمَنْ قَتَلَهٗ مِنْكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَۤاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ هَدْيًاۢ بٰلِغَ الْكَعْبَةِ اَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسٰكِيْنَ اَوْ عَدْلُ ذٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوْقَ وَبَالَ اَمْرِهٖ ۗعَفَا اللّٰهُ عَمَّا سَلَفَ ۗوَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللّٰهُ مِنْهُ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan,223) ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, dendanya (ialah menggantinya) dengan hewan ternak yang sepadan dengan (hewan buruan) yang dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu (hewan kurban) yang (dibawa) sampai ke Ka‘bah224) atau (membayar) kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin225) atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu,226) agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan perbuatan yang telah lalu.227) Siapa kembali mengerjakannya, pasti Allah akan menyiksanya. Allah Maha Perkasa lagi Maha Memiliki (kekuasaan) untuk membalas." (QS. al-Maidah: 95).
Dengan menyembelih hewan qurban diharapkan keikhlasan kita semakin tulus. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin." (QS. al-Hajj: 37).
Dan dengan seringnya kita berzikir kepada Allah hati kita semakin tenang.
Dengan membina dan mengembangkan tiga unsur yaitu fisik-jasmani, akal dan hati secara seimbang dan berkesinambungan maka akan membawa dampak terhadap sebuah lingkungan yang sehat secara fisik-jasmaniyah lahiriyah dan sehat secara ruhaniyah akal dan hati. Wallahu a'lam bish-shawab.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.