Oleh : Moch. Taufiqurrahman, SQ, MA (Direktur Madrasah Istiqal Jakarta)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jama'ah shalat Jumat yang berbahagia, segala Puji hanya milik Allah subhanahu wata'ala, shalawat dan salam semoga tercurahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga beliau dan sahabat beliau.
Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata'ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dengan segenap keteguhan hati dan kemantapan jiwa, dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan dengan penuh ketabahan dan kesabaran.
Jama'ah shalat Jumat rahimakumullah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram, yang berarti kita baru saja memasuki tahun baru Hijriah 1445 H. Pada setiap awal tahun hijriah umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa hijrah, meski sebagian ada yang tidak merayakannya. Namun, lebih dari sekedar kemeriahan yang dipersiapkan menyambut tahun baru hijriah, secara lebih spesifik, kita sebagai seorang muslim memiliki kesiapan mengisi momentum berharga tersebut dengan semangat perubahan.
Layaknya seperti sebuah perusahaan yang tiap akhir tahun senantiasa melakukan evaluasi dan rekapitulasi, demikian pula seharusnya seorang muslim pada waktu pergantian tahun. Selain sebagai media evaluasi, juga sebagai sarana untuk merancang tahun depan lebih baik lagi.
Makna Hijrah
Tahun baru hijriah merupakan sistem penanggalan Islam yang didasarkan pada peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Khalifah Umar bin Khattab figur yang amat berjasa dalam penetapan awal tahun hijriah atau penanggalan tahun hijrah. Penanggalan tersebut tidak dibuat berdasarkan hari lahir Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan pula hari wafat beliau, melainkan pada suatu peristiwa bersejarah yakni hijrah beliau dari Mekah ke Madinah (waktu itu bernama: Yasrib).
Peristiwa itu terjadi pada 2 Juli 622 M bertepatan dengan 12 Rabiulawal. Hijrah ke Madinah meski bukanlah hijrah pertama bagi umat Islam --sebelumnya sekelompok muslim melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia)-- peristiwa tersebut merupakan tonggak sejarah yang sangat strategis. Ia merupakan awal dari babak baru perjuangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Masa kenabian bisa dibagi atas dua babak: masa Mekah dan masa Madinah. Pada masa Mekah, Nabi mengadakan revolusi akidah atau revolusi mental. Kemusyrikan diganti dengan tauhid. Dengan tauhid manusia menentukan pilihan, Tuhanlah yang menjadi objek kecintaan dan pengabdian, bukan manusia apalagi materi.
Tiga belas tahun lamanya Nabi berdakwah dan berjuang di Mekah menghadapi masa-masa berat penuh ancaman dan penderitaan. Hijrah ke Madinah merupakan momentum perubahan dan pembebasan umat Islam dari semua belenggu diskriminasi dan kezaliman. Orang-orang muslim yang berhijrah dari Mekah disebut Muhajirin, sedangkan penduduk muslim Madinah yang menolong mereka dinamakan Anshar (kaum penolong). Hijrah Rasul ke Madinah bersama sahabatnya (laki dan perempuan) membawa perubahan signifikan dalam sejarah Islam. Ketika di Mekah, umat Islam teraniaya, tertindas, diboikot, berada di bawah kuasa politik kaum musyrik Quraisy.
Sebaliknya, di Madinah umat Islam menjadi pemegang kendali politik kekuasaan. Pada masa Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan reformasi jemaah, reformasi sosial, kefanatikan suku diganti dengan paham kemanusiaan yang lebih luas.
Meskipun secara fisik peristiwa hijrah dikaitkan dengan aktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat, bagi umat Islam masa kini tetap terbuka kesempatan melakukan hijrah. Dalam konteks ini hijrah bermakna melakukan upayaupaya transformasi dan rekonstruksi diri dan masyarakat menuju kualitas yang lebih beradab.
Jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala, Ragib Al-Isfahani (w. 502 H/1108 M), pakar leksikografi alQuran, berpendapat istilah hijrah mengacu pada tiga pengertian. Pertama, meninggalkan negeri yang penduduknya sangat tidak bersahabat menuju negeri yang aman dan damai.
وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
Artinya : “Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (QS. as-Saffat/37 : 99)
Kedua, meninggalkan syahwat, akhlak buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan dan kemaslahatan (QS. al-Ankabut/29: 26).
فَاٰمَنَ لَهٗ لُوْطٌۘ وَقَالَ اِنِّيْ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Artinya : “Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana” (QS. al-'Ankabut/29: 26).
Ketiga, meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, narsisme, dan hedonisme menuju kesadaran kemanusiaan dengan cara mujahadah an-nafs (mengontrol hawa nafsu).
والمهاجر من هجر ما بحى الله عنه
Jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala, kata hijrah dalam al-Qur'an banyak disebut secara bergandengan dengan kata iman dan jihad. Sebagai contoh:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
Artinya : “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan” (QS. at-Taubah/9: 20).
Ini menunjukkan bahwa hijrah dan sikap perlawanan terhadap berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan merupakan buah dari keimanan yang tulus dan sejati. Seorang Muslim yang baik pasti tidak akan pernah tinggal diam menyaksikan berbagai kezaliman dan penindasan, terutama kepada kaum lemah.
Seorang Muslim yang baik tidak pernah merasa nyaman ketika berada dalam kemaksiatan. Penyebutannya yang sering diikuti dengan kata jihad menunjukkan bahwa hijrah memerlukan perjuangan dan pengorbanan.
Spirit Hijrah Menuju Perubahan
Hijrah dalam kehidupan manusia dapat dilakukan kapan dan di mana saja. Obyeknya bisa berupa tempat, dan bisa berupa keadaan. Bisa dilakukan secara fisik/ material dan bisa dilakukan secara maknawi / spiritual. Hijrah secara fisik/ materil dari Mekkah ke Madinah, telah dinyatakan selesai dengan ditaklukkannya kembali kota Mekkah pada tahun ke-8 hijriah. Yang tersisa adalah hijrah secara mental-spiritual.
Hijrah mental spiritual sejatinya proses internalisasi tauhid sekaligus transformasi sosial kemanusiaan, dari budaya jahiliyah menjadi budaya hadharah (peradaban) Islam yang agung. Pesan moralnya bahwa spirit hijrah adalah semangat perubahan dan perbaikan tanpa henti menuju peningkatan kualitas iman, ilmu, dan takwa, ketakwaan personal dan sekaligus ketakwaan sosial. Hijrah mental spiritual menghendaki kita meninggalkan mindset dan budaya lama yang merugikan bangsa, seperti korupsi, pembalakan dan pembakaran hutan, melakukan tindak kekerasan, pelanggaran HAM, penyalahgunaan kekuasaan, dan sebagainya.
Jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala, perubahan mindset paling mendasar dalam spirit hijrah ialah memperbarui kesaksian (syahadat) dan komitmen berakhlak mulia. Kesaksian teologis, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad ialah rasul-Nya, menghendaki hijrah sejati dengan pembuktian kesalehan autentik dalam bentuk sikap, perilaku, dan karakter positif.
Oleh karena itu, perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri, dengan peneguhan niat yang tulus dan benar. Ketika hendak hijrah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengedukasi para sahabatnya: “Amal itu sangat ditentukan oleh niatnya. Segala sesuatu itu ditentukan apa yang menjadi niat (komitmen hatinya). Siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya akan menuju Allah dan rasul-nya. Sebaliknya, siapa yang berhijrah karena ‘berambisi’ meraih keduniaan atau mengharapkan perempuan untuk dinikahinya, hijrahnya hanya mendapat apa yang diniatinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, hijrah menuju ridha Allah harus diawali dari mindset mental spiritual yang suci dan mulia.
Hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menuju perubahan ke arah lebih baik ditunjukkan dengan memberikan teladan kebajikan paripurna sebagai the best role model (uswah hasanah).
Melalui hijrah, beliau menampilkan contoh mendidik dengan cinta yang tulus dengan mewakafkan jiwa dan raganya untuk umatnya. Beliau menanamkan pendidikan kepribadian dengan sentuhan hati: menyayangi, bukan melaknati. Beliau mendidik dengan penuh keikhlasan, ketekunan: tidak kenal lelah dan tidak pernah menyerah. Terus memberikan motivasi dan inspirasi.
Beliau juga mendidik para sahabatnya dengan penuh kesabaran: tidak mudah emosi, tidak menyakiti, tetapi menjadikan peserta didik sebagai mitra sejati.
Hijrah menuju menuju perubahan ke arah yang lebih baik idealnya bermuara pada terwujudnya sikap batin yang memotivasi dan melahirkan karakter yang positif, baik, dan mulia secara spontan. Oleh karena itu, spirit hijrah menuju perubahan perlu diorientasikan kepada, pertama, proses humanisasi warga bangsa menjadi berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur.
Kedua, menanamkan rasa malu dan etos berbuat dan berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat) sesuai dengan hati nurani.
Ketiga, menghargai kehidupan dengan berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain demi kemajuan, kebaikan, dan kebahagiaan bangsa. Jadi, hijrah itu harus diniati dan diisi multikesalehan agar jalan menuju kesuksesan terbuka lebar dan penuh harapan.
Teladan hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menuju perubahan harus diaktualisasikan sebagai energi positif dan inspirasi penggerak perubahan sosial ke arah lebih baik dan positif. Kiblat pembangunan bangsa ini perlu ‘diluruskan’ agar tidak melenceng dari ridha Allah.
Spirit hijrah menuju perubahan ke arah lebih baik mengajarkan kita semua untuk selalu berbuat dan berkontribusi terbaik untuk kemajuan umat dan bangsa. Akhirnya, kita berdoa semoga di tahun baru ini kita lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Selamat tahun baru Islam 1445 H.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.