Oleh: Drs. KH. Hasanuddin Sinaga, MA
Maasyiral muslimin rahimakumullah. Puji dan syukur kita persembahkan kepada Allah ‘Azza Wajjalla atas segala limpahan karunia-Nya kepada kita, terutama nikmat Iman. Sebagai pengingat untuk diri khatib dan kita semua, khatib mengajak kepada para jamaah untuk marilah kita meningkatkan kenikmatan dan ketakwaan kita. Sisa-sisa kehidupan yang masih Allah SWT berikan kepada kita, hakekatnya adalah kesempatan yang masih Allah SWT berikan kepada kita untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal. Karena sesungguhnya tempat kita bukan di sini, dunia bukan tempat kita tinggal, melainkan tempat kita meninggal. Untuk itu dalam menempuh perjalanan panjang, kita butuh bekal, dan tidak ada bekal yang lebih baik selain takwa.
Maasyiral muslimin rahimakumullah.
Fenomena umat Islam dewasa ini kita melihat adanya kekeringan spiritual dalam beragama. Dalam menyikapi persoalan krisis spiritual yang dialami umat beragama, jalan terbaik adalah menengok kembali nilai-nilai agama.
Nilai-nilai agama yang diyakini mampu mengatasi permasalahan krisis itu adalah nilai agama yang berdimensi spiritual. Ada banyak dimensi agama, yang dalam Islam terdapat dimensi syariat, hakikat, dan tarekat. Atau dalam konteks lain, agama memiliki dimensi lahir dan dimensi batin. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, aspek spiritual diwakili oleh term al-ruh (ruh), al-qalb (hati), al-nafs (jiwa), dan al-‘aql (akal) yang semuanya merupakan sinonim.
Tujuan hidup manusia dalam perspektif spiritual adalah menggapai hidup yang bermakna dan mampu menenteramkan batin. Manusia membutuhkan sesuatu yang akan menyejukkan hatinya, menenteramkan jiwanya, serta menghindarkannya dari keresahan dan kecemasan. Spiritualitas bertujuan sebagai terapi bagi penyakit jiwa. Oleh karena itu, spiritual keagamaan sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar manusia menuju kebenaran yang hakiki.

Maasyiral muslimin rahimakumullah.
Sungguh, kehidupan yang kita jalani di dunia ini dalam banyak keadaannya tidak jarang mengganggu stabilitas jiwa dan menggoyangkan ketenangan batin. Selama perjalanan hidup di dunia yang hanya sebentar, manusia mengalami berbagai peristiwa, di antaranya suka duka, sakit senang, sengsara bahagia dan seterusnya, kejadian itu akan dialami silih berganti. Begitulah Tuhan mengukir manusia, apakah semua ini dapat dilalui dengan baik sehingga mendatangkan kebaikan ataukah akan mendatangkan kejahatan dan dosa.
Bahkan menurut Imam Khomeini semakin tinggi amal saleh seseorang semakin besar ujian yang akan dihadapi. Jika Allah SWT memiliki perhatian yang lebih besar dan mencintai seseorang sehingga ia menjadi obyek kasih sayang dari Zat Yang Maha Suci, maka Allah SWT akan memberikan beberapa gelombang bencana kesengsaraan sebagai batu ujian kesabarannya dan mengangkat derajatnya.
Di sinilah maqam kesabaran memiliki fungsi yang sangat vital dan merupakan tangga menuju kematangan spiritual seorang hamba. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 155, artinya sebagai berikut.
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah : 155).
Sabar adalah luas hati, tidak mudah marah, orang yang sabar adalah orang yang bersikap luas hati, tabah, tenang dalam menghadapi masalah. Hakikat sabar menurut Imam Al-Ghazali adalah tahan menderita dari gangguan dan tahan menderita dari ketidaksenangan orang.
Sabar adalah kunci dari kesulitan, barangsiapa bersabar menghadapinya dia akan berhasil mengatasi berbagai masalah dalam kesulitan itu, dan kesabaran datang dari kesadaran yang mendalam akan keberadaan Allah sebagai Rabb yang menciptakan, memiliki dan mengatur setiap keadaan.
Kesadaan inilah yang menenangkan batin seorang hamba dalam menjalani seluruh fase kehidupan, apapun bentuknya dan bagaimanapun efek bathinnya. Sabar memang berat, karena sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan, sabar bukan kelesuan tetapi semangat hidup, sabar bukan kecengengan tetapi ketegaran, sabar bukanlah pesimis tetapi optimis, dan sabar bukanlah diam membisu tetapi sabar adalah berjuang pantang menyerah.
Orang sabar bukan sekedar tidak menangis ketika mendapatkan musibah, bukan pula sekedar tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan, sebab itu barulah tahapan awal kesabaran. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 146, artinya sebagai berikut.

Artinya: "Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali Imran: 146).
Maasyiral muslimin rahimakumullah.
Puncak dari kesabaran akan melahirkan keikhlasan. Seorang ibu tidak akan mungkin menyengsakan anaknya, apalagi Allah SWT yang Maha Pengasih tidak akan mungkin menyengsarakan hamba-Nya. Keyakinan ini membuat seorang hamba menjadi tenang. Meskipun tidak sedikit manusia yang terkadang tidak terima kenyataan ini.
Keinginan mereka adalah semua hari harus bahagia, semua cuaca harus cerah, semua tanah harus subur, semua air harus jernih. Tidak demikian, manusia semacam ini akan terombang-ambing oleh impian, dipenjara oleh fatamorgana, dan hanya dapat berubah jika mereka mau menerima kenyataan hidup dan siap mengarunginya. Bagi seorang beriman, mereka akan menyikapi dua sisi hidup ini secara ikhlas dan penuh ridha.
Mereka meyakini, baik atau buruk dari apa yang dialami manusia, pastilah memiliki pelajaran berharga dan rahasia manis atau hikmah yang dapat diketahui cepat atau lambat, tidak ada yang sia-sia. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 190 dan 191, artinya sebagai berikut.
Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, siang dan malam, terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran : 190-191).

Khatib mengajak diri khatib dan jamaah yang berbahagia, mari kita latih bathin kita dengan sifat yang mulia ini. Kita butuh sikap bathin ini, sebagaimana yang diungkap oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Uddatu ash-Shabirin Wa Dzakhiratu asy-Syakirin, ia mengatakan, manusia tidak dapat lepas dari kebutuhan terhadap kesabaran dalam setiap kondisinya, karena ia selalu berada di antara perintah yang wajib dilakukannya, larangan yang wajib dijauhi dan ditinggalkannya, serta takdir yang telah ditetapkan Allah SWT atasnya pada saat yang sama, dan di antara nikmat yang wajib disyukurinya. Bila mana kondisi-kondisi ini tidak dapat lepas darinya, maka pastilah kesabaran selalu saja dibutuhkannya hingga ajal datang menjemputnya.
Setiap yang dijumpai seorang hamba dalam kehidupan dunia ini tak lepas dari dua hal; pertama, selaras dengan hawa nafsu dan keinginannya, kedua, tidak selaras dengan hawa nafsu dan keinginannya. Ia membutuhkan kesabaran dalam setiap kedua keadaan tersebut. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya Allah bila mencintai suatu kaum Dia memberikan cobaan kepada mereka. Maka, barangsiapa ridha maka baginya keridhaan Allah SWT, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah, no. 4031).
Semoga Allah SWT menyuburkan kesabaran ini dalam diri kita, dan membimbing kita dengan taufik dan rahmat-Nya. Aamiin.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.