Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Rezeki yang Berkah Penopang Kebahagiaan Kehidupan

Admin 21 Apr 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Bambang Irawan, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma’āsyiral Muslimīn.. Dengan segenap kerendahan hati dan getaran jiwa, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dialah yang telah membangunkan kita dari tidur panjang kelalaian, dan mempertemukan kita di rumah-Nya yang agung, pada hari yang diberkahi oleh cahaya rahmat dan ampunan-Nya. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Dia masih mengizinkan hati kita tergerak untuk melangkah ke masjid ini — tempat di mana ruh-ruh yang rindu bertemu dengan Tuhannya.

Shalawat dan salam yang tulus, mari kita haturkan kepada kekasih Allah, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sosok yang hidupnya penuh kasih, lisannya tak pernah lelah mendoakan umatnya — bahkan ketika nyawa beliau berada di ujung tenggorokan. Semoga keberkahan senantiasa mengalir kepada keluarga beliau, para sahabat yang mulia, dan siapa pun di antara kita yang terus berusaha mengikuti jejak langkahnya dengan cinta dan air mata hingga hari pertemuan di akhirat kelak.

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah...

Marilah kita renungkan bersama tentang hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita semua, yakni tentang rezeki yang berkah. Hal ini sangat penting terlepas apapun profesi kita baik sebagai petani, pedagang, nelayan, guru, dosen, maupun pengusaha.

Allah SWT menjamin rezeki tiap makhluknya. Namun, Allah tidak menjamin keberkahan rezeki yang diperoleh. Banyak orang mendapat harta yang banyak, badan yang sehat dan kedudukan mulia di mata manusia tetapi hatinya tidak pernah memperoleh kebahagiaan. Mereka bisa memuaskan nafsu dunia dengan nikmat yang diberikan Allah, tetapi mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan. Rezeki mereka habis untuk membiayai hal-hal tidak bermanfaat yang pada muaranya akan membawa mereka kepada penderitaan. Tidak jarang Rezeki seseorang  justru menjauhkan dirinya dari Allah SWT.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi..."
(QS. Al-A‘rāf: 96)

Berkah berasal dari bahasa Arab  barakah yang artinya ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Rezeki  yang berkah adalah rezeki yang membuat kebaikan kita bertambah.  Rezeki yang barakah adalah rezeki yang membuat seseorang semakin dekat dengan Allah SWT.  Ketika Rezekinya bertambah makin rajin ibadahnya. Semakin banyak rezeki yang ia peroleh maka semakin banyak juga amal kebaikan yang dilakukan.

Orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk sebanyak-banyak amal shalih mendapat anugerah ketenteraman di dunia dan kebahagiaan akhirat.  Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al Lail ayat 17-21:

"Akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak). Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas, kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Sungguh, kelak dia akan mendapatkan kepuasan (menerima balasan amalnya)."

Rejeki yang berkah tidak serta merta diperoleh begitu saja. Rejeki yang berkah harus diupayakan. Menjemput rezeki yang berkah menjadi salah satu kewajiban dalam kehidupan seorang Muslim.

Ada beberapa cara meraih keberkahan rezeki  diantaranya:

1. Mengedepankan Syukur dan Qana’ah

Tidak pernah ada kebahagiaan tanpa rasa syukur. Bersyukur dilakukan dengan mengingat bahwasanya kenikmatan tersebut datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ,diteruskan mengucapkan hamdalah, dan selanjutnya menafkahkan sebagian kekayaannya di jalan-jalan yang diridhai Allah subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang telah mendapatkan taufik untuk bersyukur, ia akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa melipatgandakan kenikmatan baginya.

Allah SWT berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Rabi’ah Al-‘Adawiyyah, sufi wanita yang agung, berkata:

“Jika Engkau memberi, aku akan bersyukur. Jika tidak, aku akan bersabar. Keduanya adalah bentuk cinta.”

Kebahagiaan bukan milik orang yang memiliki segalanya, tapi bagi mereka yang bersyukur atas yang sedikit.

Sifat qona’ah dan lapang dada dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan kekayaan yang tidak ada bandingannya. Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qona’ah, dan keridhaan dengan segala rezeki  yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Ahmad:

 “Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rezeki yang telah Ia berikan kepadanya. Barang siapa yang ridha dengan pembagian Allah k , maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rezeki tersebut untuknya. Dan barang siapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rezekinya tidak akan diberkahi”. 

Kaum muslimin rahimakumullah!

Rezeki yang berkah adalah harta yang dimiliki oleh seorang muslim yang membuat dirinya selalu merasa berkecukupan dengan harta tersebut. Seseorang yang selalu merasa cukup akan rezekinya  tidak akan berlebihan dalam mengejar rezekinya. Dia yakin betul bahwa rezeki yang sudah ditetapkan untuknya tidak akan lari kemana. Keyakinan ini menjadikan hidup menjadi  tenang dan tenteram.

2. Mengejar Rezeki yang Halal dan Bersih 

Memperoleh rezeki dengan cara halal merupakan syarat mutlak bagi teraihnya keberkahan rejeki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berpesan dalam hadits riwayat ‘Abdur-Razzâq, Ibnu Hibbân, dan al-Hâkim :

لاَ تَسْتَبْطِئُوْا الرِّزْقَ ، فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوْتَ الْعَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَهُ آَخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ، فَأَجْمِلوُاْ فِيْ الطَّلَبِ: أَخْذِ الْحَلَالِ، وَترَكِ الْحَرَامِ.

Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datangnya terlambat. Karena sesungguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”

Mengais rezeki dengan cara-cara yang baik akan menjauhkan dari permusuhan dengan manusia dan kan mendapatkan ridha Allah! Keridhaan Allah dan kerelaan manusia ini akan mengantarkan  hidup menjadi tenang, tenteram dan penuh berkah.

Nabi SAW bersabda:

«إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا»
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)

Al-Ghazali berkata:

“Tidak ada amal yang diterima jika berasal dari harta haram. Ia seperti menanam benih di tanah yang kering.”

Jangan kotori rezeki kita dengan cara-cara kotor: gratifikasi akademik, manipulasi laporan, plagiarisme riset. Halal bukan sekadar status hukum, tapi kesucian niat dan proses.

Ibn ‘Athaillah berkata:

“Bukanlah rezeki itu apa yang dikumpulkan, tapi apa yang mencukupimu dan menghubungkanmu dengan Tuhanmu.”

Rezeki yang berkah bukan hanya yang besar nilainya, tapi yang cukup dan membawa ketenangan. Ia menghidupi tubuh sekaligus menyirami hati. Berapa banyak orang bergelar tinggi namun tak pernah tenang tidur malamnya? Berapa banyak profesor, tapi keluarganya porak-poranda?

3. Rezeki harus Mengalir Kepada Orang Lain

Nabi SAW bersabda:

«خيرُ الناسِ أنفعُهم للناسِ»
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Dalam hadits lain disebutkan: 

   مَا أَحْسَنَ عَبْدٌ الصَّدَقَةَ إِلَّا أَحْسَنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْخِلَافَةَ عَلَى تِرْكَتِهِ   

Artinya: “Tidaklah seorang hamba memperbaiki sedekahnya kecuali Allah memperbaiki pengganti atas harta yang masih dimilikinya.” (HR Ibnu al-Mubarak).
Jalaluddin Rumi berkata: “Jangan kamu jadi budak roti, tapi jadilah pencari makna dari setiap rezeki yang diberi.”

Demikian pula Hasan Al-Bashri berkata:“Tidak ada rezeki yang lebih baik daripada hati yang tulus, tangan yang memberi, dan ilmu yang bermanfaat.”

4. Bertaubat dari segala perbuatan dosa.

Perbuatan  dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rezeki dari pelakunya, maka, taubat dan istighfar merupakan salah satu faktor yang dapat mendatangkan rezeki dan keberkahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya:

 

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (Hud berkata): “Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa“. [al-Qur’an surat Hûd ayat 52].

Rezeki yang berkah adalah rezeki yang mengalir, bukan yang mengendap di rekening ataupun di asset yang dimiliki. Rezeki yang mengalir hadir dalam beasiswa yang menyelamatkan mahasiswa miskin, dalam jurnal yang menjadi solusi masyarakat, dalam pengabdian yang menyalakan harapan di pelosok negeri.

Rezeki yang berkah bukan hanya tentang jumlah harta, melainkan juga melibatkan kesehatan, ketenangan batin, dan kebahagiaan. Umat Muslim diajarkan untuk bersyukur, bertaqwa, dan berserah diri hanya kepada Allah. Dengan melakukan amalan-amalan yang dianjurkan oleh Islam, diharapkan umat Muslim dapat meraih rezeki yang berkah, dan hidup dalam keberkahan yang selalu diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Marilah  kita tingkatkan kualitas hidup kita dengan meraih keberkahan, menjadikan Islam sebagai panduan utama dalam setiap aspek kehidupan kita. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua dan menjadikan kita sebagai umat yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

Saatnya kita kembali menata niat. Kita bukan sekadar pencari rezeki, kita adalah penjemput berkah. Bukan hanya mencari nafkah, tapi menjemput rahmat-Nya. Mari kita periksa sumber rezeki kita. Apakah ia membawa kita lebih dekat pada Allah? Ataukah ia justru menenggelamkan kita dalam kelalaian dan kesombongan? 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.