Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Pendidikan Multi Dimensi sebagai Pondasi Menjadi Khalifah Seutuhnya

Admin 20 May 2022 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. KH. Saifuddin Zuhri, M.Ag

 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Penciptaan manusia dengan tugas utama sebagai Khalifah Fil Ardh meniscayakan kekuatan intelektual sosial dan spiritual. Oleh karena itulah penempatan manusia di muka bumi dibekali dengan 3 perangkat utama; Akal, Hati/Qalbu dan Wahyu. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Mulk ayat 23,

قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Katakanlah, “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur” (QS. Al-Mulk/67: 23).

Pendengaran dan penglihatan merupakan indera utama yang mengumpulkan informasi dan data dari alam sekitar untuk diteruskan kepada akal untuk diproses. Kemudian fu’ad yang merupakan bentuk mufrad dari af ’idah adalah hati nurani yang menyaring dan mengawasi keputusan-keputusan dari akal logika. Kemudian Allah menegaskan bahwa wahyu yakni al-Qur’an sebagai hidayah dan penyelamat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Al-Qur’an menajadi rambu terakhir dan final atas keputusan dan kesimpulan akal dan hati. Allah berfirman dalam kaitan dengan tujuan al-Qur’an hidayah bagi manusia yang berisi penjelasan-penjelasan hidayah dan pembeda. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى ...لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah/2: 185).

Akal membimbing manusia untuk menundukkan alam sehingga menjadi fasilitas untuk ketenangan, kesenangan dan kemudahan hidupnya. Dengan bantuan akal manusia mampu mengolah hamparan bumi, samudra nan luas bahkan angkasa dan luar angkasa, semuanya untuk kemanfaatan bagi manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur`an Al-Jatsiyah ayat 13,

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: “Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir” (QS. Al-Jatsiyah : 13).

Terbukti saat ini, kita dapat menjelajahi dan menikmati hasil bumi dan keragamannya dari berbagai pelosok bumi. Penguasaan angkasa memungkinkan pergerakan nan cepat dari satu tempat ke tempat yang lain. Bahkan penempatan satelit di luar angkasa telah menyatukan komunikasi dan informasi global. Apa yang terjadi di belahan bumi sebelah barat dapat diketahui dan disaksikan di belahan bumi sebelah timur dalam hitungan detik. Akal membawa manusia mampu mendayagunakan potensi laut air bahkan udara untuk memproduksi listrik yang saat ini telah menjadi kebutuhan pokok umat manusia.

Namun, dibalik keistimewaan dan keluarbiasaan akal, ternyata kehidupan manusia tidak mampu ditenangkan dan dibahagiakan semata oleh akal.

Nafsu serakah dan angkara murka dari jiwa jiwa yang kering telah menghantarkan sebagian manusia untuk mengeksploitasi, memonopoli bahkan merusak hamparan alam raya yang indah ini. Polusi dan sampai kian menjadi momok yang siap menerjunkan umat manusia ke derajat yang serendah-rendahnya lebih rendah dari binatang ternak. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Rum ayat 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum : 41).

Dari sinilah kemudian Allah SWT membekali manusia dengan qalbu dan fu'ad. Qalbu yang jernih ibarat cermin sekaligus radar. Ia dapat menangkap sinyal-sinyal langit berupa gambar llham dan rusyd petunjuk dari Allah SWT. Hati dan nurani manusia membimbing untuk mencintai dan menyayangi sesama. Hal mana tidak terjangkau oleh akal yang hanya selalu bermain dalam dunia logika. Jikalau akal lebih banyak menghitung untung dan rugi dalam bertindak bahkan bergaul.

Qalbu hati dan nurani mampu mengajak untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan. Qalbu menjadikan dirinya wadah untuk keikhlasan, rasa syukur dan Ridha. Maka tidak jarang dan tidak mengherankan bila kita bertemu dengan seseorang yang secara akademis tidak berpendidikan tinggi. Mungkin pola pikir yang dimiliki sangat sederhana, namun sepanjang waktu ia memberikan senyuman yang tulus. Tidak terdapat raut ambisi atau sedih atau kecewa di raut wajahnya. Ini disebabkan dalam dirinya terdapat wadah qalbu hati yang kaya, lapang, dan Ridha.

Sebaliknya, dalam kondisi qalbu yang tidak fungsional disebabkan pengabaian disebabkan dominasi akal tanpa hirau atas isyarat isyarat hati. Saat-saat dimana qalbu nya yg berharga dibiarkan kusam, keruh, kotor dan hitam maka kebahagiaan dan ketenangan akan menjauh darinya. Hidup yang dipenuhi fasilitas dan kemewahan menjadi tidak berarti. Rumah yang luas dan kendaraan mewah yang seharusnya memunculkan kesyukuran justru berasa sempit. Nabi SAW sudah mengingatkan, dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

Artinya: “Ingatlah. Sesungguhnya dalam jasad ini terdapat segumpal daging. Jikalau dia baik maka baiklah seluruh jasad. Jikalau dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ingatlah. dia itu adalah qalbu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendampingi akal dan qalbu manusia. Sebagai wujud nyata bimbingan langsung dari Allah SWT, maka diturunkan lah Wahyu tertulis berupa kitab yang berisikan Kalam Allah. Dalam hal ini Al-Qur'an Al-Karim menjadi kitab Pamungkas sebagai pelengkap penyempurna atas kitab-kitab dan Kalam Allah SWT yang diturunkan sebelumnya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an surat Al-Maidah ayat 48,

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

Artinya: “Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan” (QS. Al-Ma'idah : 48).

Bagi umat Islam, akal yang baik belum lah cukup. Kekuatan dan superioritas intelektual tidak dan belum mampu membawa manusia kepada derajat dan fungsi Khalifah. Berlandaskan akal saja masih rentan membawa kehancuran dan pertumpahan darah sebagai dulu yang dikhawatirkan malaikat. Manusia perlu mengasah dan memperhalus emosional atau qalbunya. Sehingga ia memilih damai dibandingkan perang. rela untuk berbagi tanpa berhitung untung rugi. sampai di sini, hampir hampir kehidupan ideal terpenuhi.

Sayangnya, beragama tidak cukup hanya baik untuk diri sendiri dan orang lain. Sebagian manusia mungkin menganggap bahwa tujuan hidup tidak lain adalah untuk menjadi baik berbuat baik. Tidak perlu mempercayai atau beriman kepada Zat Yang Maha Menciptakan. Tidak perlu ada tatacara peribadatan. Tidak perlu ada ada yang halal dan haram. Tidak perlu zikir, tidak perlu doa. Hal-hal semacam inilah yang tidak dijangkau akal maupun rasa manusia. Ia harus datang dari dan bimbingan langsung dari Allah SWT, melalui kalam-Nya dan penjelasan Rasul-Nya. Di sini pengetahuan dan pengamalan akan perintah-perintah, laranganlarangan, dan petunjuk dari wahyu menjadi kunci.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى ...لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah/2: 185).

Tiga kekuatan utama yang telah disebutkan, yakni akal, qalbu, dan wahyu merupakan perangkat yang harus dimiliki untuk mencapai manusia seutuhnya. Untuk mendapatkan dan memenuhi 3 kriteria khalifah ini, maka mau tidak mau, suka tidak suka, diperlukan dan dibutuhkan program dan perencanaan yang matang terstruktur dan berkesinambungan. Unsur-unsur dan poin substansi dan pondasi kemampuan akal, qalbu, dan wahyu harus menajadi unsur utama dalam pendidikan.

Para pakar, alim ulama, dan umara kita telah berjibaku, bahu membahu untuk merumuskan kebijakaan nasional tentang pendidikan. Lahirnya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang kemudian disertai dengan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, Undang-Undang tentang Pesantren dan seperangkat peraturan-peraturan terkait sebagai turunannya patut kita apresiasi dan dukung dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Namun tidak boleh dilupakan. Bahwa di sana ada peran serta dan peran aktif dari masing-masing individu khususnya kita sebagai umat Islam, untuk mensinergikan perangkat-perangkat aturan formal itu dengan alur untaian hidayah disampaikan Allah melalui Kalam-nya dan penjelasan Rasul-Nya yang mulia. Karena betapapun canggih sistem yang dibuat manusia, ia akan selalu lekang ditelan zaman. Ia membutuhkan pembaruan di setiap jangka waktu tertentu. Karena manusia berubah, dan alam pun berubah. Sedangkan prinsip-prinsip umum dan pokok yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis adalah abadi dan langgeng.

Proses pendidikan yang diisyaratkan al-Qur’an sejatinya dimulai sejak manusia di alam rahim. Dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 172,

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A'raf/7: 172)

Dalam tafsir Ibn katsir disebutkan bahwa ayat ini menceritakan bahwa Allah SWT, telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbi mereka untuk mengadakan persaksian atas diri mereka bahwa Allah adalah Tuhan dan Pemilik mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Sebagaimana Allah SWT menjadikan hal tersebut di dalam fitrah dan pembawaan mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Artinya: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," (QS. Ar-Rum/30: 30)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya:

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Riwayat lain menyebutkan: dalam keadaan memeluk agama ini (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau searang Majusi, seperti halnya dilahirkan hewan ternak yang utuh, apakah kalian merasakan (melihat) adanya cacat padanya?”

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Himar bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, yang artinya:

Artinya: Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak), kemudian datanglah setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah Aku halalkan kepada mereka."

Ayat 172 Surah al-A’raf ini mengisyaratkan bahwa selain proses pertumbuhan janin secara fisik di alam rahim, ternyata spritualitasnya telah dibentuk berupa iqrar tauhid. Selanjutnya pasca kelahirannya maka peran orang tua dan lingkungan menjadi penting dalam pembentukan diri dan kepribadian sang anak.

Penguatan kapasitas intelektual telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW, dengan sabdanya “tuntutlah ilmi walaupun ke negeri Cina”. Tentu ilmu yang dimaksud bukanlah ilmu tentang qalbu apalagi wahyu. Melainkan ilmu teknologi. Dalam berbagai ayat juga ditegaskan perintah untuk meneliti unta, langit, gunung dan bumi. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Ghasyiyah ayat 17-20,

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ

Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan?. Dan kepada langit, bagaimana ia ditinggikan?. Dan kepada gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?. Dan kepada bumi bagaimana ia dihamparkan?”

Sembari menguatkan akal logika dengan mempelajari ayat-ayat kauniyah, maka penguatan qalbu menjadi hal yang sangat penting. Penguatan qalbu, rasa, dan emosi dilakukan dengan sosialisasi, kebersamaan, dan pergaulan yang ramah dan adil. Di sini seseorang belajar untuk menghargai, menghormati, tenggang rasa, menjaga perasaan orang lain. Pendidikan nurani dilakukan dengan latihan menahan diri.

Penguatan kapasistas yang ketiga adalah spiritualitas. Tahapan yang tidak boleh dilupakan manusia untuk menjadi khalifah seutuhnya adalah kedekatannya dengan Sang Maha Pencipta. (FAJR/Humas dan Media Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.