Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Nusantara dalam Keindahan Akhlak Islam

Admin 10 Mar 2023 Warta Istiqlal

Oleh: KH. A. Husni Ismail, M.Ag - Imam Rawatib Masjid Istiqlal

 

اَلْحَمْدُ للّٰهِ الْمَحْمُوْدِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ حَالِ اَهْلِ الضَّلَالِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، جَبَلَهُ ربُّهُ عَلَى جَمِيْلِ الْفَعَالِ، وَكَرِيْمِ الْخِصَالِ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ خَيْرَ صَحْبٍ وَآلٍ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَحُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَآلِ

Bersyukur karena kita dikaruniai iman dan islam dan tinggal di Indonesia yang kaya raya, kekayaan alam yang melimpah ruah di daratan dan di lautan bahkan di udara. Bahkan negeri ini dijuluki sekeping taman surga di bumi. Keberagaman suku bangsa, bahasa, ras, agama, budaya dan adat istiadat yang terbingkai indah dalam kesadaran ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, keindahan persatuan dan kebersamaan dalam sekian banyak keberagaman.

Bersyukur karena Allah subhanahu wata'ala telah dan masih menakdirkan kita hidup rukun, damai dan tenteram, saling hormat menghormati, tenggang rasa, gotong royong, toleran dan seiring sejalan, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul.

Sungguh gambaran indah tentang keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa kita ini adalah salah satu gambaran realitas sosial yang termaktub dalam Al-Qur'an surat al- Hujurat ayat 13 :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti” (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Kita semua berasal dari kakek nenek atau ayah ibu yang sama, setelah itu berkembang biak menjadi berbagai suku bangsa agar saling kenal mengenal, berkasih sayang, cinta mencintai, saling menunjukkan identitas diri dan mengakui entitas yang lainnya, menjalin kehidupan harmonis di tengah-tengah sekian banyak perbedaan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dunia mengenal bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ramah, bila menyapa dengan penuh kesantunan, wajah wajah cerah penuh keteduhan dan kebersahajaan. Gambaran keluhuran keadaban kita, terukir indah dalam sejarah penerimaan ajaran Islam yang damai oleh nenek moyang kita, yang dibawa pendakwah islam awal. Sungguh Islam diterima dengan baik tanpa ada peperangan, pertentangan dan pertikaian.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa kiblat peradaban dunia Islam, saat ini ada di Indonesia. Betapa Islam rahmatan lil’alamin dan muslim yang berbudi pekerti luhur dan akhlakul karimah telah menjadi watak asli mengakar dalam kepribadian bangsa Indonesia.

Tidak kurang para ulama Timur Tengah, bahkan dalm khutbah dan ceramah mereka, memberi pengakuan akan hal ini. Mereka menyebut Indonesia sebuah negera yang teramat jauh dari Arab, dari pusat ke-Islaman, terletak di penghujung dunia, sanggup mengaktualisasikan ajaran Islam yang santun, ramah, toleran dan masyarakat Indonesia berakhlak mulia.

Dalam pergaulan umat manusia yang berbeda agama sekalipun, interaksi yang mesti dilakukan adalah jangan menonjolkan sikap merasa paling benar sendiri. Walaupun kita meyakini bahwa iman kita yang paling benar namun dalam interaksi sosial kemasyarakatan dengan berlainan akidah dan anutan, Allah menganjurkan bersikap toleran, mengalah demi sebuah perdamaian dan kerukunan.

Kita semua bersaudara. Dengan saudara seiman/kita sama dalam Rukun Iman dan Rukun Islam walau berbeda dalam sebagian kecil pemahaman tentang teks Al-Qurán dan Hadist. Terhadap saudara sebangsa dan setanah air, kita ditakdirkan hidup bersama dalam negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasar pada konstitusi yang sama. Begitu pula kepada saudara sesama anak cucu Adam, sejatinya saling menghormati dan memuliakan.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ ٧٠

Artinya : “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik  dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. al-Isra’ /17: 70)

Sungguh Kami (Allah) telah menetapkan anugerah kemuliaan pada seluruh manusia anak Adam, baik dari ras dan suku bangsa apapun. Itulah sebabnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menghormati sekelompok orang Yahudi pengantar jenazah. Berdirinya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut diprotes oleh sahabat-sahabatnya karena yang diantar itu bukan jenazah orang Islam. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merespon keberatan sahabatnya tersebut dengan ungkapan, alaisat nafsan, bukankah jenazah itu juga manusia atau anak cucu Nabi Adam alaihis salam, yang mesti kita muliakan karena Allah telah memuliakannya.

Kesempatan lain Sahabat bertanya:

سُئل رَسُو لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ عَنْ اَكْثَرِ مَا يُدْخلُ ا لنَا سَ ا لْجَنَّةَ، فَقَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ ا لْخُلُقِ

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang amal perbuatan yang banyak memasukkan orang ke dalam surga, maka beliau menjawab: Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik” (HR. Turmudzi dari Abu Hurairah).

Dalam kesempatan yang lain, dihadapan sahabatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّا نًا ، و إنَّما بُعِثْتُ رَحْمَةً

Artinya : “Sungguh saya diutus bukan untuk melaknat dan memaki (seseorang atau suatu kaum), akan tetapi aku diutus untuk menebar rahmat dan kasih sayang” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Sabdanya pula dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin Amr bin Ash, terjemahnya: Sungguh dosa besar adalah seseorang mencaci maki ayahnya. Sahabat bertanya:Bagaimana mungkin seseorang memaki ayah kandungnya?Maka Nabi menjawab: “seseorang mencaci ayah orang lain menjadi penyebab orang lain itu membalas mencaci makiayahnya.

Bahkan lebih lanjut, Islam melarang mencaci maki agama dan Tuhan orang lain kerena mereka akan membalas mencaci maki Tuhan kita. Hal ini tergambar dalam al-Qur'an Surat al-An’am [6] ayat 108 :

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٠٨

Artinya : “Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am [6]: 108)

Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 6 :

وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗ ۗذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَ ࣖ ٦

"Jika seseorang di antara orang-orang musyrik ada yang meminta pelindungan kepada engkau (Nabi Muhammad), lindungilah dia supaya dapat mendengar firman Allah kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui." (QS. At-Taubah/9: 6).

Apabila ada orang musyrik yang memohon perlindungan kepadamu maka berilah perlindungan, hingga mereka mendengar kalimat Allah. Tafsiran dari memperdengarkan kalimat Allah adalah memperlihatkan keindahan dan kesantunan ajaranIslam.

Mari semua kita menjadi juru dakwah yang mendakwahkan keindahan Islam dengan beraklakul karimah, karena inilah inti dari diutusnya Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (SABNA-FTR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.