Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Mewujudkan Kepribadian Muslim Sebagai Insan Kamil

Admin 27 Nov 2023 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. KH. Musyfiq Amrullah, Lc, M.Si
(Pengasuh Pondok Pesantren At-Tawazun, Subang, Jawa Barat)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kaum Muslimin jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia. Kami selaku khatib memberikan pesan kepada diri kami dan para jama’ah untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata'ala dengan melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah.

Dalam pandangan agama Islam, manusia merupakan entitas yang unik. Keunikannya terletak pada wujudnya yang multidimensi. Manusia mempunyai keunggulan-keunggulan dibanding dengan makhluk lainnya. Sehingga dengan keunggulan-keunggulan tersebut diangkatnya manusia sebagai khalifah di bumi seperti yang Allah firmankan dalam Qur'an Surat al-Baqarah ayat 30 :

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”

Karena manusia merupakan makhluk berfikir yang menggunakan bahasa sebagai medianya, manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan untuk bersosial sehingga dapat mengembangkan peradaban, manusia juga mempunyai keluesan sifat yang selalau berubah melalui interaksi pendidikan.

Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna dan paling baik struktur tubuhnya (ahasani taqwîm), maka setiap individu harus mengupayakan secara maksimal agar memiliki tingkat spiritualitas yang baik pula. Sebab kalau tidak, maka akan mengalami degradasi. Meluncur ke bawah ke strata yang lebih rendah dari hewan melata. Maka kesempurnaan struktur tubuh yang dimiliki akan tidak berarti apa apa jika tidak dibarengi dengan tingkat spiritualitas yang tinggi. Hal ini bisa dipahami dari firman Allah Qur'an Surat at-Tin ayat 4 - 6 :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ (4) ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ (5) اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ (6)

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) kecuali orangorang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Taqwim. Ar-Raghib al-Asfahani pakar bahasa al-Qur’an berpendapat bahwa kata taqwim dalam ayat ke empat dari Surat atTin ini mengisyaratkan tentang keistimewaan manusia dibanding binatang (dan makhluk lainnya) yaitu dengan diberikan kelebihan akal, pemahaman, dan bentuk fisik yang tegak dan lurus. Maka kalimat Ahsan at-Taqwim menunjukan kesempurnaan fisik dan psikis yang sebaik-baiknya. Maka dengan kelebihan ini manusia dapat melaksanakan fungsinya dengan sebaik mungkin.

Maka seharusnya kita sebagai umat manusia bisa memahami dari anugrah Allah yang diberikan kepada umat manusia ini, yang berbentuk kesemprnaan fisk dan psikis untuk dapat menjaganya dengan berusaha secara kontinyu memelihara dan menumbuh kembangkannya. Menjaga fisik bisa dengan meberikan asupan makanan dan suplemen yang yang bergizi yang cukup dan menjaga kesehatan dengan baik.

Psikis manusia manusia bisa memeliharanya dan menumbuh kembangkan dengan memberikan ajaran-ajaran agama (keimanan dan ketaqwaan) dan juga pendidikan yang baik.jika hal ini semua terpelihara dengan baik, maka manusia akan dapat memberikan kemanfaatan yang besar kepada umat manusia dan alam semesta lainnya. Dengan demikian akan dapatlah gelar sebagai Al-Insan Al-Kamil.

Namun jika kelebihan/keistimewaan yang Allah berikan kepada manusia ini tdk terjaga dengan baik dan tidak ditumbuh kembangkan maka manusia dapat terjerumus menjadi manusia yang hina dan merugi baik di dunia dan diakhirat. Itulah makna yang didapat dari ayat yang kelima dari surat ini :

ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ

Artinya : “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).

Kata asafala (اَسْفَلَ) dalam bahasa Arab, dalam berbagai derivasinya bermakna rendah, anatonim tinggi. Mulanya untuk menunjukan gambaran setiap tempat yang rendah. Tapi kemudian berkembang dalam bentuk metafor yang menunjukan kerendahan martabat hina dan tidak terhormat.

Tugas Manusia

Manusia yang diamanahi oleh Allah sebagai Abdullah (hamba yang mengabdi kepada Allah) dan sebagai khalifatullah fil ardh (sebagai pemakmur dan pengelola bumi beserta isinya). Ini merupakan konsekwensi logis atas kesediaan manusia memangku Amanah Allah, yang sebelumnya amanah tersebut ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, mereka semuanya tidak berani untuk menerimany karena takut akan resiko yang didapat jika mereka khianat akan amanat tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam Qur'an Surat al-Ahzab ayat 72 :

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Sebagai pemangku amanah wajar apabila diberi berbagai keistimewaan hidup. Yang dilengkapai dengan berbagai instrumen pada dirinya untuk memudahkan dalam menunaikan tugas tugas yang dibebankan, seperti, fitrah, ruh, indra, akal, kalbu, dan juga nafsu. Jika instrumen-instrumen ini di gunakan dan dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan petunjuk yang diarahkan oleh Allah subhanahu wata'ala. Maka label dzalum (kedzaliman) dan jahûl (kebodohan) akan tererduksi bahkan tereliminasi dengan sendirinya.

Sebaliknya, jika instrumeninstrumen tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik maka label dzalum (kezaliman) dan dan jahul (kebodohan), akan melekat pada dirinya. Jika kita amati keadaan dunia sekarang ini dirasakan oleh sebagaian besar umat manusia, adanya pengelolaan alam semesta yang tidak berimbang dalam menggunakan instrumen-instrumen tadi. Sehingga terjadinya kerusakan-kerusakan alam semesta. Nafsu manusia yang tidak terkendali seringkali mengorbankan ekologi dan lingkungan hidup manusia.

Tugas kehambaan kepada Allah dan kekhalifahan tidak dilakasanakan sebagaimana mestinya, disebabkan antara lain karena munculnya manusiamanusia modern, yang ditandai dengan ilmu pengetahuan. Kita tidak bisa mengingkari bahwa ilmu pengetahuan dan tekhnologi ikut berperan merusak akal sehat umat manusia. Sehingga lupa kepada Tuhan dan tanggung jawab yang diembannya. Ini semua sebuah cerminan kelemahan struktural, moderenisme fisika mekanistik, industrialisasi, ketimpangan kelas, ras dan gender yang yang mendominasi terhadap kehidupan di alam modern ini sehingga menurun tajamnya nilai spiritual manusia, bahkan hampir hilang dari dirinya.

Krisis spiritual ini ditandai dengan banykanya kecemasan, keresahan, kegelisahan, keterasingan (anomali) pada diri manusia, dan kehilangan eksistensi dalam jati dirinya. Sebagai umat manusia harus bijak untuk bisa kembali melihat potensi-potensi yang Allah berikan kepada manusia dan tugas-tugas apa yang seyogyanya dilakukan. Termasuk didalamnya meminimalisir potensi-potensi negatif yang dapat membahayakan kehidupan umat manusia dan alam semesta, baik yang lahir dari nafsu syaithaniyah dan bahimiyyah yang tak terkendali yang terkadang dikemas dengan selimut sain dan tekhnologi.

Kebijakan tersebut sangat diperlukan oleh manusia agar terciptanyanya ekosistem yang seimbang. Dari sinilah sangat diperlukan Al-Insan al-Kamil (manusia sempurna) untuk menjaga keharmonisan alam semesta ini. Al-Insan Al-Kamil Insan kamil menurut Abd Karim al-Jilli (w. 832 H/1428 M) adalah manusia yang pada dirinya tercermin nama dan sifat Allah secara utuh, serta memiliki pengetahuan untuk mencapai tingkat kesadaran tertinggi menuju Allah Subhnahu Wata’ala.

Al-Jilli berpendapat bahwa untuk menanggulangi krisis spiritual tersebut adalah dengan cara tajalli dan serta mengasah daya rohani yaitu hati, akal. Wahm, Tahannuts (meditasi) pikiran, fantasi, dan jiwa. Tujuh daya rohani tersebut harus dilatih dan dilakukan secara kontinyu (istiqamah) sehingga jiwa dan raganya bersih dan suci dari segala akhlak tercela. Hal tersebut seharusnya dilakukan oleh kita semua agar dapat mengaktualisasikan hingga manusia itu mampu menembus hakikat Nabi Muhammad. Karena di alam semesta ini hanya ada satu insan kamil yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun, manusia biasa juga bisa menggapai insan kamil. Karena insan kamil akan terus muncul pada setiap zaman disesuaikan dengan kebutuhan zaman, karena insan kamil adalah hakikat dari segala sesuatu yang ada.

Namun menurut Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar bahwa pengertian insan kamil tidak sesederhana seperti yang selama ini dipahami kalangan ulama, yaitu manusia teladan dengan menunjuk figur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagi para sufi, insan kamil adalah lokus penampakan (madzhar) diri Tuhan paling sempurna, yang meliputi nama-nama dan sifatsifatnya. Allah subhanahu wata'ala memilih manusia sebagai makhluk yang memiliki keunggulan atau ahsani taqwim (ciptaan paling sempurna) menurut istilah al-Qur’an. Disebut demikian karena diantara seluruh makhluk Allah hanya manusialah yang paling siap menerima nama-nama dan sifat-sifat Allah. Makhluk lainnya hanya bisa menampakkan bagian bagian tertentu saja.

Bisa dilihat misalnya dengan mineral, tumbuh tumbuhan, bahkan malaikatpun belum dapat mewadahi semua nama dan sifat Allah. Imam Al-Ghazali (w. 505 H/1111 M), seorang filsuf dan teolog Islam abad pertengahan, meletakkan dasar-dasar pemahaman tentang insan kamil dalam karyanya yang terkenal, "Ihya Ulumuddin" atau "Revival of Religious Sciences." Menurutnya, insan kamil adalah individu yang mencapai ketaqwaan yang tinggi dan keselarasan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Ketaqwaan ini melibatkan aspek spiritual, moral, dan sosial.

Seorang insan kamil berusaha untuk menyatukan dirinya dengan Allah dan memiliki akhlak yang mulia. Ibnu Arabi (w. 1202 H/1240 M), seorang sufi dan filosof besar, membawa dimensi mistik dalam konsep insan kamil. Baginya, manusia sempurna adalah individu yang mencapai kesatuan dengan alam semesta dan menyadari keberadaan Ilahi di dalam dirinya. Ibnu Arabi berbicara tentang "wilayah manusia," di mana manusia menyatu dengan Tuhan dan mencapai pemahaman yang mendalam tentang makna keberadaan. Insan kamil, menurutnya, adalah puncak dari evolusi spiritual dan pemahaman manusia.

Imam Al-Rabbani (w. 1034 H/1624 M), yang dikenal sebagai Mujaddid Alf Thani, menitikberatkan pada kesempurnaan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mengajarkan bahwa insan kamil adalah individu yang tidak hanya memiliki dimensi spiritual yang kuat, tetapi juga mampu menjalani kehidupan dunia dengan seimbang. Kesempurnaan dalam hubungan sosial, keadilan, dan tanggung jawab terhadap sesama adalah bagian integral dari konsep insan kamil menurut Imam Al-Rabbani.

Kesimpulan

Dalam pandangan agama Islam, manusia dianggap sebagai entitas yang unik dan memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan keunggulan ini, manusia diangkat sebagai khalifah di bumi, sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Baqarah/2:30.

Keunikan manusia terletak pada wujudnya yang multidimensi, memungkinkan untuk bersosial dan mengembangkan peradaban. Manusia, sebagai makhluk berfikir dengan bahasa sebagai medianya, memiliki motivasi dan kebutuhan untuk bersosial. Interaksi pendidikan menjadi kunci dalam mengembangkan keluwesan sifat yang selalu berubah. Namun, sebagai makhluk yang memiliki struktur tubuh yang sempurna, setiap individu juga diharapkan untuk mencapai tingkat spiritualitas yang baik. Firman Allah dalam Qur'an Surat at-Tin ayat 4 - 6 menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, namun manusia dapat terdegradasi jika tidak menjaga dan mengembangkan tingkat spiritualitasnya. Kesempurnaan struktur tubuh harus disertai dengan tingkat spiritualitas yang tinggi.

Konsep taqwîm, seperti dijelaskan oleh Ar-Raghib alAsfahani, menunjukkan keistimewaan manusia dalam akal, pemahaman, dan bentuk fisik yang tegak. Oleh karena itu, manusia diharapkan untuk menjaga kesempurnaan fisik dan psikisnya dengan memberikan asupan makanan bergizi, menjaga kesehatan, dan mengembangkan aspek spiritual melalui ajaran agama dan pendidikan yang baik.

Jika manusia berhasil menjaga dan mengembangkan kelebihannya dengan baik, ia dapat memberikan manfaat besar kepada umat manusia dan alam semesta. Sebaliknya, jika tidak, manusia dapat terjerumus menjadi makhluk yang hina dan merugi. Oleh karena itu, menjaga dan mengembangkan anugerah Allah kepada manusia adalah tugas penting agar manusia dapat mencapai gelar sebagai Al-Insân Al-Kamil, manusia yang sempurna. Wallahu a’lam bi shawab.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.