Oleh : Drs. KH. Imam Addaruqutni, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Marilah tak henti-hentinya kita bersyukur kehadhirat Allah SWT atas karunia-Nya berupa Din al-Islam, keimanan, kesehatan serta di atas semua itu adalah taqdir bahwa kita sebagai manusia dengan segala citra kelebihannya di tengah berbagai makhluk Allah semesta.
Dalam sedikit kesempatan ini marilah kita juga naikkan doa kiranya para penggagas, pendiri, para pemangku tanggung jawab serta termasuk kita semua yang meramaikan dan memakmurkan masjid nasional ISTIQLAL ini diberikan rahmat, keberkahan, dan kemudahan jalan hidup di dunia dan akherat kelak.
Saat ini kita berada di hari-hari dan malam-malam dalam puluhan terakhir dari Ramadhan. Di antara berita al-Qur’an tentang peristiwa sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah turunnya Lailatu’l Qadr yang disebut oleh al-Qur’an sebagai Malam Kemuliaan.
Di antara pertanyaan yang muncul adalah apa Lailatu’l Qadr yang diturunkan sebagai anugerah bagai kaum beriman dan bagaimana menggapainya?
Kemuliaan Malam Lailatu’l Qadr
Al-Qur’an, Surah ke-97 al-Qadr adalah surah utama yang menerangkan apa Lailatu’l Qadr serta kemuliaannya yang oleh para ulama Tafsir (al-Mufassirun) berkait dengan tiga surah lainnya (S. 2, al-Baqarah:185; S. 8, al-Anfal: 41; dan S. 44 al-Dukhan: 1-6). Al-Imam Abiy Muhammad Sahl bn Abdillah al-Tustari, mengatakan bahwa Lailatu’l Qadr itu adalah malam di mana rahmat (kasih-sayang) Allah dilimpahkan kepada para hamba-Nya (Tafsir al-Tustari, hlm. 200).
Dalam kitab Tanwiru’l Miqbas min Tafsir ibn ‘Abbas (hlm. 515) dijelaskan juga bahwa keutamaan/kemuliaan malam Lailatu’l Qadr adalah bahwa perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang pada momen malam itu bahkan nilai kebaikannya itu lebih baik dari kebaikan yang dilakukan selama lebih dari 1000 bulan di luar Laikatu’l Qadr. Karena itulah menggapai kemuliaan Lailatu’l Qadr itu sangat dianjurkan sehingga umat beriman berusaha menggapainya.
Menggapai Kemuliaan Malam Lailatu’l Qadr
a. Ibadah Zhahirah
Intensifikasi seluruh peribadatan selama Ramadhan. Keterpanggilan untuk penggiatan (intensifikasi) peribadatan selama Ramadhan ini tampak sangat nyata, seperti, intensitas umat Islam dalam shalat yang meningkat. Di samping shalat fardhu lima waktu ditambah dengan shalat sunnah rawatib sebelum atau sesudah shalat fardhu.
Malem hari juga masih dianjurkan shalat qiyam Ramadhan atau tarawih. Nabi dan para sahabat malahan mengurangi tidur karena lebih memilih tilawah/tadarrus al-Qur’an. Para sahabat bahkan sering mengkhatamkan al-Qur’an beberapa kali selama Ramadhan secara sendiri maupun, terutama, atau saling menyimak hafalan al-Qur’annya antar-sesama sahabat.
Rasulullah sendiri diriwayatkan sebagai menghabiskan Sebagian waktunya untuk mengkhatamkan tilawah al-Qur’an dengan disimak oleh Malaikat Jibril. Di samping itu, Ramadhan juga merupakan bulan berkah/kedermawanan sehingga umat Islam pada zaman Nabi beramai-ramai bersedekah, berinfaq, dan juga menunaikan zakat.
Semua amalan ini (shalat, bersedekah, zakat) tampak nyata oleh mata, sehingga amal ibadah yang pelaksaannya ini disebut ibadah zhahirah atau ibadah demonstrative atau yang pelaksaannya terlihat oleh mata khalayak bahkan sebaiknya dilaksakan secara berjamaah. Bahkan Allah mengundang agar dalam bersedekah dan berinfaq sebaiknya juga biarkan untuk tampak secara publik sekalipun akan tetapi bukan dimaksudkan riya’, bukan dalam rangka ingin mendapatkan pujian atau sanjungan dari khalayak atau orang lain.
Allah mengingin agar semakin bersemangat meramaikan sedekah. Firman Allah, S. 2 al-Baqarah: 271
اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka hal itu baik sekali. (Akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Selain zakat fitrah yang ditunaikan pada Ramadhan atau batas akhirnya sebelum dilaksanakannya shalat Id al-Fithri, fenomena semangat bersedekah dengan berbagai cara seperti berbagi bingkisan ifthar/buka puasa di masjid-masjid atau mushalla untuk para jamaah, di berbagai tepian jalan raya untuk para musafir pejalan kaki atau pengendara, infaq jariyah serta zakat mal/harta kekayaan seringkali teringat justru pada saat Ramadhan tiba. Melimpahnya berbagai paket bingkisan kedermawanan (tabarruat) ini turut memastikan bahwa Ramadhan adalah bulan berkah atau Syahrun Mubarakun atau Ramadhan Karim sebagai bulan mulia sekaligus bulan yang penuh kedermawanan karena melimpahnya rizqi.
b. Ibadah Khafiyyah
Jika ibadah shalat, amal sedekah, dan zakat merupakan di antara ibadah zhahirah, maka shaum atau puasa Ramadhan termasuk Ibadah Khafiyyah yang berarti ibadah yang sejatinya hanya Allah dan hamba yang bersangkutan saja yang tahu.
Meskipun puasa itu di antaranya mencegah makan dan minum pada waktu yang dimaklumi, akan tetapi seseeorang yang kedapatan hanya tidak makan dan tidak minum tidak berarti bahwa yang bersangkutan sedang berpuasa. Begitu juga, dengan mengatakan kepada khalayak bahwa dia berpuasa juga tidak menjamin bahwa yang bersangkutan sedang berpuasa.
Itulah sebabnya, maka sebagai Nabi Muhammad bahwa Allah berfirman dalam al-Hadits al-Qudsy: الصيام لي وأنا أجز به puasa itu (dapat dilakukan memang) untuk-Ku dan Aku akan membalasnya.
c. Niat Ikhlas di Hati karena Allah
Kedua macam ibadah zhairah/zhahiriyyah dan khafiyyah tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh suatu factor yang sama, yaitu keikhlasan niyat (kata hati) bahwa ibadah itu dilakukan hanya semata-mata karena dan untuk Allah SWT (مخلصا نيته لله تعالى). Niyat inilah yang akan menjadi identitas sebenarnya dari suatu atau setiap amal/amalan ibadah kita semua. Dari Umar bn Khattab beliau mendengar Nabi bersabda:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
Bahwa sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan (H.R. Buchari, no.1 dan H.R. Muslim, no. 1907).
Sepuluh Hari terakhir
Sebenarnya setiap malam dari malam-malam Ramadhan adalah malam-malam kemuliaan, dalam arti karena malam Lailatu’l Qadr itu adanya dan terjadinya hanya di suatu malam di bulan Ramadhan. Mauhammad Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk lebih intens dalam menjaga malam-malam di puluhan terakhir dan terutama di malam-malam hitungan ganjil dari malam 21, 23, 25, 27, dan 29 dengan probabilitas tertinggi kemungkinan turun Lailatu’l Qadr.
a. berbagai amalan dzikrullah dilakukan intensif; tadarrus; i’tikaf (berdiam diri di masjid) dengan mengucapkan kalimah tayyibah Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbu’l ‘afwa fa’fu ‘anniy (اللهم إنك عفوعفوكريم تحب العفو فاعف عني).
b. Bersikkap tawakkal (pasrah kepada Allah secara progresif kreatif) bukan fatalistic (pasrah pesimistik), kepada Allah kita menyembah dan kepada-Nya kita mohon pertolongan untuk segala hal dalam hidup ini.
c. Usahakan dapat mencapai NIAT yang Ikhlas dalam hati. Ini mudah diucapkan akan tetapi sangat tidak mudah dilaksanakan. Jika seseorang mampu membulatkan keikhlasan niyatnya, insya Allah dia akan menemukan kekhusu’an dan kesunyian jalan menuju Yang Paling dituju, yaitu Allah SWT. (FAJR/Humas dan Media MAsjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.