Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Memerangi Perilaku Korupsi dengan Akhlaq dan Integritas dalam Beragama

Admin 06 Dec 2024 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Mohammad Mahfud MD, SH, SU, MIP
(Guru Besar Fak. Hukum Universitas Islam Indonesia - Yogyakarta)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Mari bersyukur ke hadhirat Allah subhanahu wata'ala yang terus memberkahi dan merahmati kita sehingga kita dapat hadir untuk beribadah di hari Jumat dan penuh berkah di Masjid Istiqlal ini. Sebagai khathib saya akan penuhi tuntunan tentang rukun khuthbah salat jumat yakni menasihati kita untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'ala. Dari begitu banyak dalil yang berkaitan dengan ajakan bertaqwa ini saya akan menukil tiga ayat Al-Qur’an berikut ini. 
Pertama, Qur'an Surat Ali Imran ayat 102 :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. Āli ‘Imrān [3]:102.

Kedua, Qur'an Surat At- Thalaq ayat 2 - 3 :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَ جًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْسِبُ... (٣)

Artinya : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya (dari kesulitannya) dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan atau cara yang tidak terduga”. Aṭ-Ṭalāq [65]:2 – 3.

Ketiga, Qur'an Surat Al-Ra’d ayat 28 :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
أَ لاَ بِذِ كْرِٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ (٢٨)

Artinya : “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (damai)”.

Maksud ayat-ayat tersebut bisa dikemukakan dalam satu rangkaian penjelasan bahwa Allah memerintahkan kepada kita agar dalam hidup ini kita selalu bertaqwa dan jangan sampai mati kelak melainkan dalam keadaan muslim (damai dan berserah diri).

Bagi orang-orang yang bertaqwa diberi jaminan oleh Allah untuk mendapat solusi atau jalan keluar atas kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi. Bertaqwa berarti selalu mengingat atau berdzikir kepada Allah sehingga mengendalikan diri agar selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. 

Orang-orang yang selalu berdzikir atau berpedoman kepada perintah Allah akan menjadi tenang dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat, sebaliknya orang-orang yang ingkar dan selalu berbuat dosa akan mendapat nestapa atau siksaan yang biasanya disebut neraka. 

Yang sering keliru adalah pemahaman bahwa surga dan neraka itu hanya ada di alam akhirat sehingga banyak yang melanggar ajaran kebaikan dari agama karena mereka tidak meyakini atau ragu tentang alam akhirat. Maka di dalam al Qur’an (QS. Al-Baqarah, ayat 4) disebutkan bahwa orang-orang bertaqwa adalah orang meyakini tentang akan datangnya hari akhirat. 

Banyak juga di antara kita ini yang menunda untuk menempuh jalan taqwa dengan alasan masih muda dan pada saatnya, sesudah tua, akan bertaubat. Ada juga yang sengaja berbuat dosa asalkan tidak diketahui orang lain di dunia sebab urusan akhirat adalah urusan nanti saja. Haruslah diingat bahwa surga dan neraka bukan hanya ada dan dirasakan di akhirat. 

Kebahagiaan dan penderitaan itu banyak bisa dirasakan juga di dunia sebagai akibat dari perbuatan kita. Itu jika ukurannya adalah ketenangan dan ketenteraman hati. Coba lihat, betapa banyak orang kaya raya dan mempunyai kedudukan tinggi tetapi hidupnya hampa atau menderita karena mereka tidak menjaga hidupnya agar selalu berbuat benar dan baik sesuai perintah Allah. 

Banyak orang besar dan atau yang kaya raya yang hidupnya serba tak tenteram bahkan ketakutan seperti takut ditangkap aparat, diperas oleh orang, diancam orang, dirinya keluarga ditimpa masalah – masalah besar, sehingga dihantui oleh kesedihan, kecemasan dan rasa tidak aman. 

Sebaliknya sangat banyak orang biasa yang hidupnya pas – pasan, bahkan tempat tinggal pun sangat sederhana, hanya mengontrak rumah kecil, atau menumpang tetapi hidupnya tenteram, selalu dalam kedamaian dan senyum dengan tawakal, anak-anaknya tidak menyulitkan atau mempermalukannya, bahkan banyak yang sukses karena mendapat beasiswa yang bergengsi dan berprestasi tingkat nasional, bahkan tingkat dunia sehingga meskipun tidak kaya dan tidak mempunyai kedudukan penting, tetapi hidupnya tenang dan bahagia, jauh dari kecemasan dan ketakutan-ketakutan.

Berbuat dosa dan makan jenis makanan yang haram akan membawa neraka dan siksaan, bukan hanya di akhirat kelak seperti bisa pahami dari ungkapan: “Setiap yang tumbuh, dikonsumsi, dan dilakukan secara haram niscaya akan akan menimbulkan neraka para pelakunya”.

ما نبت من حرام فا لنا ر احق به

Kunci dari semua itu adalah taqwa dan tawakal karena sikap, perilaku, perbuatan dan konsumsi makanan yang baik dan halal akan menjaga kita dari kesulitan sesuai dengn janji Allah yang akan memberi jalan keluar dan rezeki dari cara yang tidak bisa kita perkirakan. Sedangkan bagi mereka yang ingkar dan selalu berbuat dosa akan ditimpa oleh derita atau nestapa.

Di dalam Islam ada narasi tentang “akibat atau balasan” bagi orang-orang yang bertaqwa atau yang dzalim. Misalnya narasi aqibah lil muttaqien seperti di dalam Qur'an Surat Al-Qashash ayat 83. 

Jika ditanyakan apa saja jenis-jenis taqwa maka jawabannya, sungguh sangat banyak jalan menuju taqwa, hampir semua segi kehidupan menghdapkan manusia untuk memilih jalan taqwa atau jalan ingkar dan kufur. Kitab suci Al-Qur’an, misalnya, disebut sebagai kitab yang menjadi pedoman bagi orang-orang yang taqwa dengan narasi hudan lil muttaqiin.

Di dalam Al – Qur’an ada perintah, larangan, anjuran, ancaman hukuman dan pahala yang disertai dengan kisah-kisah perjalanan ummat manusia sebagai contoh muculnya uqubah-uqubah (akibat – akibat) bagi perbuatan baik dan perbuatan jahat. Kitab suci Al-Qur’an dilengkapi dengan Sunnah Nabi yang mencakup perkataan (sabda-sabda dalam hadits), perbuatan (yang harus dicontoh), dan taqrir (membiarkan atau mendiamkan sesuatu) atas yang dilakukan oleh para sahabat. 

Diantara sangat banyaknya jalan untuk bertaqwa tersebut ada hal yang mungkin konstekstual dan dapat saya sebut dalam kesempatan ini, yakni, menghindari dan melawan korupsi. Sudah menjadi temuan dan kesimpulan umum bahwa masalah utama yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah lemahnya penegakan hukum, ketidakadilan, dan maraknya korupsi. Kita tidak bisa membantah ini karena hal tersebut menjadi temuan berbagai lembaga di dunia dan sering dinyatakan oleh para pejabat kita sendiri. 

Ada yang mengemukakan bahwa masalah utama yang dihadapi oleh bangsa ini adalah kemiskinan, ketidaksejahteraan, rendahnya mutu dan tingkat pendidikan, kurangnya lapangan kerja, dan sebagainya. Tetapi ketahuilah bahwa penyebab dari masalah-masalah besar itu adalah maraknya korupsi yang ditopang oleh lemahhya penegakan hukum dan keadilan. 

Kemiskinan, pengangguran, rendahnya mutu dan tingkat pendidikan, kesenjangan ekonomi yang mencolok, ketidaksejahteraan, stunting, maraknya judi online, dan lain-lain itu berpangkal atau bersebab utama dari maraknya korupsi dan lemahnya penegakan hukum serta ketidakadilan. Identifikasi yang demikian sudah berkali-kali dinyatakan oleh Presiden dan para pejabat lainnya serta oleh akademisi.

Oleh sebab itu mari kita berkerja keras untuk membangun dan menyelamatkan negara dan bangsa kita untuk memberantas korupsi melalui penegakan hukum dan keadilan. 

Upaya memerangi atau memberantas korupsi bukan hanya menjadi kewajiban Pemerintah tetapi juga menjadi kewajiban kita sebagai warga masyarakat. Sebab praktik korupsi yang kita hadapi bukan hanya dilakukan oleh pejabat melainkan juga muncul dalam perilaku warga masyarakat karena kesewenang wenangan dan hedonisme yang bersumber dari kesombongan dan congkak. 

Harus diketahui bahwa “istilah korupsi” bisa diberi arti konvensional dan non-konvensional. Korupsi konvensional lebih dikaitkan dengan keriteria yuridis atau hukum, yakni, “memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi” dengan “cara melanggar hukum”, dan “merugikan keuangan negara”. 

Tetapi, meskipun tidak langsung merugikan keuangan negara, penyuapan dan gratifikasi dkategorikan sebagai korupsi. Kalau ada perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tersebut maka secara yuridis hal tersebut dikategorikan sebagai korupsi dengan ancaman hukuman yang berat sebagai kourpsi konvensional yang biasanya melibatkan pejabat negara atau pemerintahan. 

Sedangkan korupsi non-konvensional (biasa disebut perilaku koruptif) bisa dan banyak dilakukan oleh warga masyarakat biasa seperti kita. Bentuknya adalah keangkuhan, hedonisme, flexing (foya-foya), penindasan, pengkastaan status, dan kesewenang-wenangan di kalangan warga masyarakat sendiri.

Dengan demikian, jika kita berbicara tentang perang dan pemberantasan korupsi maka bukan hanya menyangkut pejabat resmi melainkan juga menyangkut warga masyarakat seperti kita. Tepatnya bukan hanya menyangkut korupsi konvensional tetapi juga menyangkut korupsi non-konvensional seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat biasa. 

Ingatlah bahwa penyuka korupsi non-konvensional (misalnya kesombongan dan flexing) itu bisa menjadi pelaku korupsi konvensional jika yang bersangkutan mempunyai jabatan atau kelebihan tertentu di tengah-tengah Masyarakat sehingga korupsinya dilakukan melalui “kolusi” dengan pejabat resmi. Untuk mengatasi korupsi serta lemahnya penegakan hukum dan keadilan itu harus dimulai dari kesadaran untuk bertaqwa sesuai dengan tuntunan agama kita. 

Kesadaran untuk bertaqwa itu harus disertai juga dengan keyakinan bahwa surga (kebahagian, ketenteraman, dan kedamaian) bukan hanya ada di alam akhirat tetapi juga bisa diraih di dunia dengan ketaqwaan. Sebaliknya neraka atau derita seperti takut, gelisah, terkucil, dan lain-lain bisa dialami dan mengancam siapa saja yang suka melanggar tuntunan akhlaq atau tata kehidupan yang baik. 

Ada tuntunan standar untuk melakukan kebaikan yang bisa menuntun ke keselamatan kita, yakni, meniru sifat-sifat wajib bagi Nabi dan Rasul yakni sifat shidq (jujur), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas, penuh perhitungan). Dalam Bahasa sehari-hari, meskipun tidak mencakup keseluruhan, sifat wajib bagi Nabi dan Rasul ini sering disebut integritas. 

Integritas adalah citra diri yang terefleksi dalam perilaku sehari-hari, yakni, citra jujur, bisa dipercaya, konsisten, dan berkomitmen yang menyatukan prinsip akhlaqul karimah sehingga selalu menyelaraskan perilaku dengan moral dan etika. Marilah kita tegakkan akhlaqul karimah dengan menunjuk – kan integritas diri untuk memerangi dan memberantas korupsi. (CTR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.