Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Kebersihan Hati Bekal Kebahagiaan Dunia Akhirat

Admin 17 Jan 2025 Warta Istiqlal

( Intisari Khutbah Jum’at , 17 Rajab 1446 H / 17 Januari 2025 M )
Oleh : Dr. Ahmad Zain Sarnoto
 

Jakarta, www.istiqlal.or.id – Hadirin jamah Jumu’ah rahimakumullah. Alhamdullillah, puji Syukur ke hadirat Allah subhanahuwata’ala yang telah memberikan nikmat dan karunia kepada kita semua, diantara nya  berupa  Kesehatan, kesempatan, juga kenikmatan hati yang selalu dimudahkan untuk beribadah dan dijauhkan dari segala penyakit. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi  wassalam. beserta keluarganya, para sahabatnya serta kaum Muslimin dan Muslimat hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah Jumu’ah rahimakumullah.

Mengawali khutbah di siang yang penuh barakah ini, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas takwa adalah dengan menjaga hati dari hal-hal yang merusak dan menjauhkan diri dari penyakit hati.Hati adalah sumber penggerak kebaikan yang dapat memacu kita untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda :


أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
 

Artinya : “ ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak rusak pula seluruh jasad. Ketauhillah bahwa ia adalah hati (jantung) (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Hadist di atas dapat dimaknai dari dua hal ; Pertama sebagai jantung ( Bahasa arab : qalb ) dalam tubuh manusia. Jantung berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah . Jantung pula yang bertugas menyalurkan nutrisi ke seluruh tubuh dan membuah sisa metabolisme tubuh . Jantung yang normal adalah pangkal jasmani yang sehat. Sebaliknya,Ketika jamntung mengalami gangguan ,maka  terganggu pula Kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kedua , disebut dengan “hati”. 

Hati memang tak kasat mata  tapi pengaruhnya kepada setiap gerak-gerik manusia amat menentukan. Ia tempat berpangkalnya niat. Dalam Islam, hati merupakan sesuatu yang paling pokok. Ibarat jantung, rusaknya hati berarti rusaknya tiap perilaku manusia secara keseluruhan. Maksud dari hadist Rasulullah tentu lebih pada pemaknaan yang kedua ini.

Hadirin jamaah Jumu’ah rahimakumullah.

Setiap manusia pasti ingin Bahagia dan menikmati kebahagian bahkan bila perlu selamanya. Pakar psikologi menyebutnya dengan kondisi psikologis yang positif; ditandai oleh tingginya kepuasan terhadap masa lalu,tingginya Tingkat emosi positif , dan rendahnya Tingkat emosi negative.

Sayangnya, untuk mencapai kondisi Bahagia itu,kita sering terjebak pada makna “Bahagia” yang cenderung hedonis materiallistiik. Bahagia yang diukur dengan banyaknya materi (uang,deposito,property dlln). Bahagia yang sebatas di dunia tetapi tidak sampai di akhirat. Makna Bahagia seperti ini tentu sajja semu. 

Al-quran meyenbut fenomena Bahagia tersebut sebagai kenikmatan dunua yang sedikir ( mataa’un qaliil) atau bahaia yang semu (sementara), bukan kenikmatan hakiki yang abadi. Tentang kenikmatan duniawi , Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dijadikan indah pada ( pandangan ) manusia kecintatn pada hal-hal yang diinginkan (nafsu) yaitu Wanita -wanita ,anak -anak, dan harya yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, Binatang Binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia;dan di sisi Allah-lah tempat Kembali yang baik ( surga )” ( QS. Ali Imran : 14 )

Kecintaan pada materi duniawi acap kali membuat hati buta tentang makna kebahagian sejati. Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulum al-Din, hati yang bersih (suci) merupakan sumber berbagai perilaku positif atau akhlak terpuki. Hati yang berish menjadi lokomotif dari semua gerakan positif tangan,kaki,mata, telinga, pikiran,hingga jiwa. Inilah hati yang selalu ilah hati yang selalu mengajak pada kebenaran dan kebajikan, sekaligus menolak kebatilan dan kemungkaran. Inilah hati yang berbahagia, yang akan mendatangkan bahagia di dunia dan akhirat. Mengenai hati yang bersih, Allah menyebutkan kata qalbun salim dalam Al-Quran surah Asy-Syu‘arā':

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُون  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya : “Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna (hari kiamat), kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih)” (QS.26 : 87-89).

Hadirin jamaah Jumu’ah rahimakumullah.

Sebagai upaya menjaga kebersihan hati dalam kehidupan, diperlukan usaha maksimal dengan menghindari sifat buruk dan melakukan perbuatan yang baik sebagai ciri orang yang bertaqwa sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Āli Imran ayat 134 - 135 :


الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ 
 

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”.

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ 
 

Artinya : “Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(nya)” (QS. Imran : 135).

Dari paparan ayat Al-Qur’an yang mulia di atas, setidaknya ada 6 (enam) hal yang perlu dilakukan sebagai upaya menjaga kebersihan hati;

1. Memiliki Kepedulian
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤ ayat tersebut menjelaskan sifat orang yang bertakwa, diantaranya adalah orang yang selalu menafkahkan hartanya baik dalam keadaan berkecukupan maupun dalam keadaan kesempitan (miskin), sesuai dengan kesanggupannya.

Dalam Islam, sedekah adalah amalan ibadah yang sangat dianjurkan. Sedekah dapat diartikan sebagai pemberian sebagian harta atau bantuan kepada orang lain yang membutuhkan, tanpa mengharapkan imbalan. Manfaat sedekah diantaranya adalah membantu melembutkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Ahmad 2 : 263)

2. Menahan Emosi
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ “Orang yang menahan amarahnya”. Biasanya orang yang memperturutkan rasa amarahnya tidak dapat mengendalikan akal pikirannya dan ia akan melakukan tindakan-tindakan kejam dan jahat sehingga apabila dia sadar pasti menyesali tindakan yang dilakukannya itu dan dia akan merasa heran mengapa ia bertindak sejauh itu. Allah menjelaskan bahwa menahan amarah itu suatu jalan ke arah takwa. 

Orang yang benar-benar bertakwa pasti akan dapat menguasai dirinya pada waktu sedang marah. Dalam Islam, menahan emosi merupakan salah satu tuntunan yang dianjurkan. Menahan emosi dapat membawa banyak keutamaan, seperti mendapatkan pahala, terhindar dari neraka, dan mendapatkan ridha Allah subhanahu wata'ala. Kemampuan menahan amarah juga merupakan cerminan dari hati yang bersih dan lembut.

3. Memaafkan Kesalahan Orang Lain
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ Orang yang memaafkan kesalahan orang lain”. Memaafkan kesalahan orang lain sedang kita sanggup membalasnya dengan balasan yang setimpal, adalah suatu sifat yang baik yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Mungkin hal ini sulit dipraktekkan karena sudah menjadi kebiasaan bagi manusia membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi bagi manusia yang sudah tinggi akhlak dan kuat imannya serta telah dipenuhi jiwanya dengan ketakwaan, serta bersih hatinya, maka memaafkan kesalahan itu mudah saja baginya.

4. Berbuat Baik
يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ  “Orang yang berbuat baik”. Berbuat baik termasuk sifat orang yang bertakwa maka di samping memaafkan kesalahan orang lain hendaklah memaafkan itu diiringi dengan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan. Berbuat baik bagi orang beriman penting karena merupakan salah satu indikator utama keimanan. Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dan tulus akan mendatangkan keberkahan dan ridha Allah.

Kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. al-Zalzalah: 7-8). Terkadang, manusia ragu untuk berbuat baik kepada sesama karena merasa kebaikannya tidak cukup bernilai. 

Namun, sebenarnya sebuah kebaikan tetaplah kebaikan dan lebih baik dari beribu keburukan. Allah menyatakan hal ini melalui firman-Nya dalam surat Al-Mā'idah ayat 100, “Katakanlah (Muhammad), Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu”.

5. Memperbanyak Dzikir
ذَكَرُوا اللّٰهَ “Memperbanyak dzikir”. Zikir sangat penting bagi orang beriman karena dapat memperkuat iman dan mendekatkan diri kepada Allah. Zikir juga dapat membantu mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan kesabaran. Dalam Islam, zikir merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan dan ditekankan untuk dilakukan secara rutin. Tujuan dari zikir adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala, meningkatkan kesadaran diri dan keimanan, serta menguatkan hati dan pikiran

6. Memperbanyak Istighfar: 
فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ “Memperbanyak istighfar“. Istighfar penting bagi orang beriman karena merupakan cara untuk memohon ampun kepada Allah, menghapus dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Istighfar juga salah satu upaya untuk menarik rezeki. Sebab tidak menutup kemungkinan perbuatan dosa yang dilakukan manusia dapat menghalanginya mendapatkan rezeki. 

Keempat, mendapatkan rahmat Allah. Seseorang akan mendapatkan rahmat Allah jika segera memohon ampunan dengan beristighfar. Istighfar, atau memohon ampun kepada Allah, adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. 

Dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan kita pentingnya memperbanyak istighfar untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan. Salah satu ayat yang menekankan hal ini adalah Qur'an Surat Hud ayat 52 : "Dan (Hud berkata), 'Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling (dari-Nya) dengan berbuat dosa"

Ayat ini mengajarkan bahwa dengan memperbanyak istighfar dan bertobat, Allah akan memberikan kita banyak keberkahan, baik secara jasmani maupun rohani. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, Kebersihan Hati menjadi Bekal Kebahagiaan Dunia dan Akhirat, dengan berusaha melakukan 6 hal; 

1) memiliki kepedulian, 

2) mampu menahan emosi, 

3) memaafkan kesalahan orang lain, 

4) menjadi orang baik, 

5) memperbanyak dzikir, 

6) memperbanyak istighfar. 

Demikian khutbah ini disampaikan, semoga uraian singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin. (Luthfiah/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.