Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Islam yang Menenteramkan Penuh dengan Kedamaian

Admin 25 Mar 2022 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah SWT. Kita wajib bersyukur masih diberikan kesehatan, kekuatan dan hidayah oleh Allah untuk menunaikan kewajiban kita selaku muslim, shalat berjamaah jum’at di masjid kebanggaan kita, Masjid Istiqlal.

Kehadiran kita tentu menjadi perwujudan komitmen tersendiri, bahwa kita sedang menuju kehadirat-Nya. Dialah sumber dari segala sumber kehidupan, kedamaian dan kebahagiaan. Kitapun berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Shalawat dan salam kita peruntukkan kepada junjungan kita Nabiyuna Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membimbing kita menuju Islam yang menenteramkan, yang membahagiakan dan Islam yang penuh kedamaian, seperti yang menjadi tema kita pada kesempatan ini, yakni “Islam Yang Menenteramkan Penuh dengan Kedamaian”.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah. Semoga keimanan kita tetap terjaga dan selalu dikaruniai ketenteraman, kebagiaan dan kedamaian oleh Allah subhanahu wata'ala, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Fath ayat 4, artinya sebagai berikut.

Artinya: "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Fath/48 : 4)

Secara substantif ayat ini bermakna bahwa Allah subhanahu wata'ala yang akan memberikan ketenangan ketenteraman ke dalam hati orang-orang yang beriman untuk menambah keimanan mereka dan bahwa ketenteraman, ketenangan dan kedamaian dimaksud akan bisa dirasakan qalbu kita, bukan di ‘aqal kita, apalagi di fisik kita.

Meskipun tanda-tanda ketenteraman dan kedamaian dimaksud bisa terpancar melalui ‘aqal dan fisik kita, sehingga ada ungkapan dalam al-Qur’an dan al-Hadits, seperti: “qalbun salim”, “‘aqlussalim”, dan “jismussalim”. Kenapa hanya orang-orang mukmin yang akan dikaruniai ketenangan oleh Allah subhanahu wata'ala?

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at rahimakumullah. Allah subhanahu wata'ala menciptakan manusia sebagai makhluq terbaik yang dikaruniai banyak potensi dan kelebihan. Hal tersebut termaktub dalam firman-Nya pada surat At-Tin ayat 4, artinya sebagai berikut.

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tîn/95 : 4)

Selain secara fisik diciptakan dalam bentuk yang terbaik, Allah subhanahu wata'ala juga masih melengkapi kelebihan non-fisik, seperti “’aql”. “qalbu” dan “ruh”. Jika potensi dan kelebihan ini disyukuri, dirawat dan dibina secara baik maka akan dimungkinkan manusia meraih  keunggulan, serta mencapai impian sejati, seperti kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian hakiki.

Karena itu, potensi fisik harus dijaga dengan berolahraga dan asupan makanan-minuman yang halalan thayyiban. Potensi ‘aql, harus dijaga dengan intens membaca, akses ilmu dan pendidikan sehingga memahami ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah.

Demikian juga dengan potensi ‘qalbu, harus dijaga agar mampu mengapresiasi keimanan, keislaman dan keihsanan. Dengan kata lain, fisik manusia sebagai karya terbaik Allah subhanahu wata'ala.

Adapun dengan karunia ’aql, Allah subhanahu wata'ala memberi kita kemampuan berpikir kreatif dan dengan karunia qalbu, Allah subhanahu wata'ala memberi kita kemampuan menangkap dan mengekspresikan keimanan, keislaman dan keihsanan. Potensi qalbu inilah yang sering menimbulkan persimpangan pandang antara filsafat barat dan filsafat timur.

Filsafat barat kurang menghargai potensi qalbu, sedang filsafat timur kurang mengoptimalkan potensi ’aql. Islam tentu menghendaki agar semua potensi kita dikembangkan secara seimbang sehingga memiliki potensi utuh sebagai manusia. Islam menghehendaki  pengembangan yang utuh, bukan parsial, karena pengembangan yang parsial hanya akan menyebabkan terjadinya split personality (kepribadian belah), seperti:

(a) fisik sehat dan kuat, tetapi ’aql lemot karena tidak memperoleh akses ilmu dan pendidikan yang layak,

(b) ’aql cerdas dan pandai karena memperoleh masukan ilmu dan pendidikan yang memadai, tetapi fisik lemah dan sakitsakitan karena kekurangan gizi, olahraga dan pengobatan, atau

(c) fisik dan ’aql baik, namun qalbu tidak berfungsi karena refleksi keimanan, keislaman, dan keihsanan lemah, atau singkatnya, kesadaran keagamaannya lemah.

Jika potensi-potensi tersebut bisa dikembangkan secara utuh, insyaAllah kita akan bisa merasakan nikmatnya mujahadah kepada Allah subhanahu wata'ala, karena hidup kita pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan panjang menuju ke hadirat-Nya.

Allah SWT adalah tujuan hidup kita, Dia adalah sumber kebahagiaan sejati yang penuh dengan kedamaian. Karakteristik yang seperti inilah yang diharapkan mampu memahami Islam secara komprehensif, Islam yang menenteramkan dan penuh kedamaian.

Karakteristik seperti inilah yang diharapkan mampu memahami islam wasathiyah dan mewujudkannya dalam pemikiran dan gerakan keislaman dan kebangsaan menuju masa depan penuh ketenangan dan kedamaian. Semua ini harus dimulai dari pendidikan. Sudah waktunya dilakukan reorientaasi pendidikan. Pendidikan tidak boleh hanya verbalistik berupa kata-kata, wacana, yang hanya menjadi konsumsi kognisi, konsumsi ‘aql semata.

Pendidikan selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah sejatinya yang bisa menjadikan ‘aql menjadi “‘aqlussalim”, qalbulah yang akan menjadikan fisik menjadi “jismussalim”. Keutuhan dan keunggulan seperti inilah yang harus mendasari kehidupan generasi kita, intelektual atau spiritual, sehingga generasi kita terus berprestasi dan memiliki kesadaran bahwa perjalanan kita adalah menuju hadlirat-Nya, untuk menggapai ridla-Nya, sehingga Allah subhanahu wata'ala berkenan mencurahkan ketenteraman dan kedamaian yang sejati.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allâh SWT. Kesimpulan dari khutbah yang telah disampaikan di awal tadi, yakni:

Pertama, bahwa impian kita untuk memahami dan mewujudkan Islam yang menenteramkan penuh dengan kedamaian adalah impian yang bisa kita wujudkan jikalau kita mampu mensyukuri karunia Allah subhanahu wata'ala. Diantara karunia itu adalah fisik kita sebagai ciptaan terbaik, itupun masih Allah lengkapi kelengkapan non fisik, seperti “’aql”, “qalbu” dan “ruh”.

Kedua, bahwa kesadaran untuk dapat memahami dan mensyukuri karunia dengan baik perlu melalui pendidikan, dan reorientasi pendidikan menjadi pilihan utama. Pendidikan, selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu, karena qalbu itulah yang bisa mengantarkan ‘aql menjadi “‘aqlussalîm”, qalbulah yang bisa mengantarkan fisik menjadi “jismussalîm”.

Reorientasi seperti ini diharapkan agar generasi mendatang bisa meraih impiannya yang hakiki, seperti ketenteraman, kedamaian dan kebahagiaan hidup, karena hanya qalbu yang bisa merasakan.

Ketiga, bahwa kita berkewajiban terus mendukung tumbuhnya pemahaman dan perwujudan Islam yang komprehensif, Islam yang menenteramkan dan mendamaikan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa pemahaman dan perwujudkan Islam wasathiyah menjadi pilihan utama, karena akan menampilkan wajah Islam yang moderat, Islam yang adil, dan Islam yang penuh dengan kedamaian. Allah subhanahu wata'ala menyatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 143, artinya sebagai berikut.

Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al-Baqarah/2 : 143). (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.