(Intisari Khutbah Jum’at, 29 Dzulqa'dah 1445 H / 07 Juni 2024 M)
Oleh : Prof. KH. Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Depok,
Kaprodi Magister Sekolah Pasca Sarjana UIN Jakarta)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wata'ala atas segala nikmat dan karunia-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada kita semua.
Shalawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir nanti.
Khatib tidak lupa berpesan untuk diri khatib dan untuk jamaah sekalian, marilah senantiasa meneguhkan ketakwaan kita dengan sekuat tenaga dengan menjalankan perintah Allah dan menghindari segala larangannya.
Hadirin jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Pada kesempatan yang penuh berkah ini khatib ingin menyampaikan tema khutbah yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai khalifatullah fil ardh, tapi seringkali kita mengabaikannya, yaitu ajaran Islam tentang memelihara lingkungan hidup.
Kita sebagai umat Islam memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup, karena hal ini merupakan bagian dari amanah yang diberikan Allah subhanahu wata'ala kepada kita sebagai khalifah (mandataris) Allah di muka bumi.
Sebagai khalifatullah fil ardh, manusia menjadi pelaksana pesan pemberi mandat. Allah tidak memberikan mandat ini kepada makhluk lain, juga tidak kepada Malaikat.
Pemeliharaan dan pengembangan bumi hanya dibebankan kepada manusia baik dalam melakukan shalah maupun ishlah serta menghindari lawannya yaitu fasad dan ifsad.
Mari kita sadari bersama betapa besar anugerah Allah dengan menghamparkan bumi dan langit yang menaungi agar kehidupan manusia menjadi nyaman, dan rizki serta kebutuhannya terjamin.
Allah subhanahu wata'ala adalah Rabb 'alamin. Sifat Allah sebagai Rabbal 'alamin tidak saja menciptakan umat manusia, tapi juga menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia termasuk memberikan aneka potensi yang dibutuhkan manusia untuk dapat memakmurkan bumi.
Hadirin jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Jauh sebelum bumi ini dapat dihuni manusia, bumi ini dalam keadaan mati. Kemudian Allah swt menghidupkan dan mempersiapkan bumi ini agar dapat dihuni manusia dan makhluk hidup lain dengan nyaman. Termasuk dalam hal ini adalah mempersiapkan hukum-hukum keseimbangan di dalam alam raya ini.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ
Artinya: "Suatu tanda (kekuasaan-Nya) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus lalu) Kami menghidupkannya dan mengeluarkan darinya biji-bijian kemudian dari (biji-bijian) itu mereka makan." (QS. Yāsīn [36]:33)
Semua yang ada di bumi ini Allah taklukkan dan tundukkan untuk kepentingan manusia. Allah mengaturnya dengan hukum-hukum keseimbangan yang penting untuk ditaati oleh manusia. Allah lah satu-satunya zat yang menundukkan dan menaklukkan alam ini untuk manusia. Allah juga adalah pemilik seluruh wujud yang ada di alam ini.
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ
Artinya: "Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..." (QS. Al-Baqarah [2]:284)
Dengan demikian, tugas kekhalifahan ini bukanlah kepemilikan. Karena itu, manusia tidak boleh berlaku sewenangwenang di bumi dan terhadap bumi. Manusia diminta untuk bermukim di bumi dan memanfaatkannya, tetapi manusia perlu memelihara demi keberlanjutannya bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk generasi masa depan.
Manusia hanya diberi Allah potensi untuk memanfaatkan penaklukan dan penundukan Allah terhadap alam semesta ini atas izin Allah. Manusia tidak boleh berlaku sebagai pemilik dan penakluk alam semesta ini. Manusia juga tidak boleh bersikap angkuh dan merasa diri sebagai penguasa atas makhluk lain di bumi.
Jika manusia mengaku sebagai pemilik dan penakluk, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Mereka akan melakukan eksploitasi tanpa batas. Mereka akan memperlakukan alam raya selayak musuh yang harus ditaklukkan.
Akibatnya, kerusakan alam menjadi tidak terhindarkan. Ini pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia di Barat dimana manusia memposisikan dirinya sebagai penakluk alam semesta ini.
Hadirin jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Tugas kekhalifahan ini menuntut manusia untuk bersahabat dengan alam dan mewujudkan kepada tujuan penciptaannya. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
۞ وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ
Artinya: Kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.357) Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hūd [11]:61)
Pada ayat diatas Allah subhanahu wata'ala memerintahkan bahkan mewajibkan manusia untuk memakmurkan bumi (isti’mar). Memakmurkan bumi berarti membangun bumi sehingga manusia dapat mengambil manfaat dan melakukan aktifitas untuk memperoleh manfaat bumi dan langit tanpa melakukan perusakan.
Allah subhanahu wata'ala menyediakan bahan-bahan yang ada di bumi yang dibutuhkan manusia agar mereka dapat memenuhi setidaknya kebutuhan primernya bahkan kebutuhan sekunder dan tersiernya.
Sayangnya, realitas yang kita hadapi saat ini adalah banyaknya kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia. Penebangan hutan secara liar, pencemaran air dan udara, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah beberapa contoh perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Memelihara kebersihan air dan tidak boros dalam penggunaannya
Air merupakan nikmat Allah yang terbesar dan sangat berharga. Air merupakan sumber utama kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Karena itu keberadaannya harus kita jaga. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
Artinya: "Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman?" (QS. Al-Anbiyā' [21]:30)
Dalam kesempatan yang lain, Allah mengingatkan tentang air ini.
Artinya : “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS. al-Waqi’ah : 68 - 70).
Nabi SAW memberikan peringatan agar kita menggunakan air dengan bijaksana tanpa berlebihan. Pada suatu ketika Nabi menegur sahabat Sa’ad yang menggunakan air secara berlebihan saat berwudhu. Nabi juga melarang untuk tidak mencemari air.
Artinya : Dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Takutlah kalian terhadap tiga hal yang terlaknat; buang air besar di sumber air, tengah jalanan, dan tempat berteduh” (HR. Abu Dawud no. 24).
Menganjurkan untuk menanam tumbuh-tumbuhan
Perhatian Islam terhadap pentingnya pohon dalam kehidupan ini sangat besar. Pohon memberikan manfaat yang sangat penting. Hal ini tidak saja karena pohon dan tanaman menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia, tapi juga menghasilkan makanan yang dibutuhkan manusia dan hewan lainnya.
Pohon-pohon di hutan menjadi tempat tinggal hewan dan satwa lain. Pohon-pohon ini juga mencegah terjadinya banjir dan longsor. Allah subhanahu wata'ala menjelaskan nikmat pohon-pohonan.
Artinya : “Apakah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam? Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang. (Sambil berkata): "Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian", bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa” (QS. al-Waqiah : 63 - 67).
Begitu pentingnya pepohonan ini dalam kehidupan manusia, Allah mengingatkan untuk tidak menebang pohon dengan semana-mena karena sangat membahayakan.
Artinya : “Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik” (HR. Abu Dawud no. 24).
Nabi SAW bahkan melarang menebang pohon walaupun saat peperangan. Jika tidak karena tujuan yang benar, Nabi bahkan melarang keras untuk memotong pohon, apalagi jelas-jelas pohon ini memiliki manfaat yang besar bagi makhluk hidup yang lain.
Artinya : Nabi bersabda “Janganlah kalian memotong pohon karena sesungguhnya pohon itu adalah tempat perlindungan binatang di masa gersang”.
Nabi bahkan mengancam orang memotong pohon yang digunakan tempat bernaung dan tanpa alasan yang jelas dengan balasan api neraka.
Artinya : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Barangsiapa menebang pohon bidara maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka”.
Pada prinsipnya Islam menekankan pentingnya untuk senantiasa menanam pohon (gerakan penghijauan).
Artinya, “Dari sahabat Anas radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu (hasilnya) dimakan oleh burung atau manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya” (HR. Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)
Sedemikian pentingnya menanam pohon sampai-sampai Nabi bersabda:
Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah” (HR. Bukhari dan Ahmad).
Islam juga memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan lahan kosong dengan menanam tanaman. Jangan sampai lahan ini menjadi sia-sia dan tidak produktif.
Artinya : “Siapa yang menggarap tanah yang bukan milik seseorang maka dia lebih berhak atasnya.
Menjaga kebersihan udara
Mungkin ada yang beranggapan bahwa al-Qur’an tidak pernah menyinggung larangan pencemaran udara. Sebab larangan ini sudah termasuk dalam perintah untuk tidak membuat kerusakan di laut dan di darat. Atau pencemaran udara belum terjadi pada masa diturunkan wahyu. Tapi Nabi Muhammad secara khusus mensabdakan agar kita menjaga kebersihan udara. Beliau bersabda:
Artinya: “Janganlah membiarkan api menyala di rumahmu ketika kamu tidur."
Larangan ini mengajarkan kita untuk membatasi pembakaran dan mencegah terjadinya kebakaran. Artinya, umat Islam perlu untuk membatasi pembakaran apapun yang menyebabkan terjadinya polusi udara.
Dengan mengurangi pembakaran akan dapat menjamin kebersihan udara. Demikian ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk menjaga lingkungan hidup. Karena ajaran ini merupakan perintah maka umat Islam wajib melaksanakannya. Bagi yang dapat melaksanakannya maka Allah akan memberikan ganjaran berupa pahala.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.