Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Berkurban Untuk Bangsa dan Negara

Admin 21 Jun 2024 Warta Istiqlal

Oleh: Prof Dr Abdul Mu'ti M.Ed ( Sekretaris umum pimpinan pusat Muhammadiyah)


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, pada kesempatan salat Jumat yang mulia dan berbahagia ini khatib marilah kita senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, beriman, dan bertaqwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan semua  perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan segenap kemampuan sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taghabun:16,

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: "Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. at-Taghabun:16)

Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan senantiasa berusaha  mencari dan menempuh jalan yang mendekatkan diri kita kepada Allah. Di dalam Alquran surat Al-Maidah: 35 Allah subhanahu wata'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung." (QS. Al-Maidah: 35)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Salat Jumat kali ini kita laksanakan masih dalam suasana Idul Adha dan Ibadah haji. Kita baru saja menunaikan ibadah qurban dengan menyembelih hewan qurban dan membagikannya kepada sesama dengan penuh rasa cinta dan niat yang tulus ikhlas karena Allah. Semoga seluruh ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Saat ini, saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji baru saja menyelesaikan lontar jumrah dan rangkaian rukun, wajib, dan sunnah-sunnah haji.

Kita doakan ibadah mereka maqbul dan mabrur. Mereka yang wafat di saat haji semoga mendapatkan tempat terbaik di surga, jannatun naim.  Yang kembali ke tanah air mendapatkan pencerahan, menjadi manusia baru yang bersih dari segala dosa, mereka tidak hanya berubah, tetapi menjadi agen perubahan untuk memperbaiki diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Sidang Jumat rahimakumu Allah

Ibadah qurban dan haji merupakan Syariat Islam yang memiliki kaitan sangat erat dengan Nabi Ibrahim AS beserta keluarga, isterinya, Hajar AS, dan putranya, Ismail AS.

Haji dan qurban merupakan ibadah yang mendidik umat Islam menjadi manusia yang memiliki sifat-sifat utama dengan beribadah kepada Allah secara hanif, tulus, lurus, dan istiqamah, terus menerus sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS.

Kita meneladani kehidupan dan kepribadian Ibrahim AS, kekasih Allah (Khalilullah) dan bapak para nabi (abul anbiya). Kita meneladani perjuangan dan pengorban  Nabi Ibrahim AS dalam membangun bangsa dan negara, Makkah al-Mukarramah.

Sebagaimana dikisahkan di dalam Alquran, Nabi Ibrahim dan keluarganya diperintahkan oleh Allah untuk hijrah dari Palestina ke Mekah. Sebuah kawasan di lembah yang tandus, gersang, dan sunyi seperti tidak ada kehidupan. Alquran menyebut kawasan itu dengan bakkah, linangan air mata.

Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Qasasul Anbiya mengisahkan bagaimana kehidupan Ibrahim dan keluarga yang penuh dengan linangan air mata. Sebagai seorang suami, Ibrahim harus berbagi kasih sayang dengan istri pertamanya, Sarah yang berdiam di Palestina. Dan, untuk itu, dengan hati sangat berat, Ibrahim meninggalkan Hajar dan putranya, Ismail AS yang masih sangat belia.

Bagi Hajar sangat berat hatinya ditinggal oleh suaminya, Ibrahim. Tapi ia berusaha tetap tabah, tegar, dan sabar karena menyadari bahwa yang dilakukan oleh Ibrahim bukanlah sikap tidak bertanggung jawab tetapi demi mematuhi perintah Allah.

Sidang Jumat rahimakumu Allah

Ibrahim adalah seorang ayah yang sangat mencintai keluarganya, seorang pemimpin yang berusaha semaksimal mungkin, segenap kemampuan, segala daya untuk memajukan bangsa dan negaranya.

Alquran mengisahkan bagaimana Ibrahim dan keluarganya membangun Ka'bah serta kehidupan baru di Mekah. Memang tidak mudah, tetapi mereka tetap optimistis, pantang menyerah. Karena tanggung jawab, cinta, dan cita-cita membangun bangsa dan negara, Ibrahim senantiasa berdoa kepada Allah agar negeri Mekah dan warganya menjadi negeri yang maju secara ekonomi, makkur dan sejahtera secara material, aman, damai, dan sentosa, serta warganya beriman dan bertaqwa.

Sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Baqarah:126,  Ibrahim berdoa:

اِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ


Artinya: (Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah:126)

Karena cinta dan tanggung jawab memajukan bangsa, Ismail kecil tidak duduk berpangku tangan dan hanya bermanja-manja. Ismail menemani, menyemangati, dan membantu ayahnya, Ibrahim, membangun Ka'bah.    

Sebagaimana kita lihat sekarang, di dekat Ka'bah terdapat situs yang disebut Hijir Ismail yang berarti pangkuan Ismail. Lambat laun, Mekah menjadi kawasan yang makmur dan aman. Semuanya adalah berkat ikhtiar, perjuangan, dan pengorbanan Ibrahim beserta keluarga. Sebagaimana disebutkan di dalam surat Ibrahim: 35, Nabi Ibrahim berdoa:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ

Artinya: (Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Sidang Jumat yang dirahmati Allah

Dari kisah Nabi Ibrahim dan ayat-ayat yang disebutkan di atas,  terdapat lima pelajaran yang berkaitan dengan model ideal bangsa dan negara serta tanggung jawab pemimpin dan warga negara.

Pertama, negara ideal adalah negara yang berlandaskan iman dan taqwa. Negara yang bangsanya beriman dan bertaqwa kepada Allah dengan hanif, lurus, dan  tulus, tidak menyekutukan Allah dengan selainnya.

Kedua, negeri yang makmur tercukupi kebutuhan material, sejahtera dan bahagia secara lahiriah.

Ketiga, negeri yang aman damai, bebas dari rasa takut, tertib, tenteram, dan sentosa; tata tenterem karta rahasia.

Keempat, pemimpin yang bertanggung jawab serta mencintai bangsa dan negaranya. Pemimpin yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, keluarga, dan kroni, tetapi senantiasa berusaha berbuat yang terbaik untuk negeri.

Kelima, warga negara yang berpartisipasi aktif, turut serta, dan mengambil prakarsa untuk memajukan bangsa dan negara. Warga negara yang tidak hanya menuntut tetapi berusaha untuk memberi.

Semoga kita mampu meneladani kepribadian dan perjuangan Nabi Ibrahim, mengikuti dan melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Semoga negeri kita tercinta, Indonesia, menjadi negeri yang maju, aman, adil, dan makmur; baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.