Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Akidah Tauhid dan Ketangguhan Pribadi Muslim

Admin 19 Jan 2024 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. Tgk. Amri Fatmi, Lc, MA


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Saudara seiman yang Allah rahmati Mukmin memiliki akidah yang jelas dan sederhana. Apa yang membedakan insan mukmin dengan yang lain? Keistimewaan pribadi muslim dengan kepribadian siapa saja terletak pada keimanan yang khusus. Pada akidah tauhid yang unik.

Apa akar dasar keimanan itu? "Maka ketahuilah sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah." Meyakini dengan pengakuan hati bahwa Allah Maha Esa, Tunggal, Qadim, Maha pencipta dan apapun tidak ada yang menyerupai-Nya.

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Artinya : “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. al-Baqarah : 163).

Al-Quran sangat konsisten dan tegas menyebutkan keesaan Allah. Mulai dari surat pembukaan hingga surat an-Naas tidak ada kesamaran apalagi pemudaran akan keesaan Allah. Dalam setiap ayat yang memaparkan berbagai permasalahan, pasti terkandung makna tauhid secara tersurat atau tersirat. Ajaran tauhid itu tersipul dalam kalimah La ilaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah).

"Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".

Karena keesaan itu keniscayaan logika, maka bukan saja manusia selaku hamba yang diminta mengakui kenyataan itu, tetapi Allah sendiri menyatakan diriNya-lah Tuhan, Ia adalah Esa adanya. Firman-Nya: "Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".

Selanjutnya al-Quran memaparkan bagaimana para malaikat dan para ilmuwan bersaksi dan menyatakan keesaan Allah: Malaikat dan orang yang berilmu, bahwa tiada Tuhan selain Allah. FirmanNya: "… Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".

Mukmin yang meyakini akidah tauhid yang simpel ini adalah pribadi yang rendah hati dan memiliki pola pikir yang benar. Sebaliknya mereka yang tidak meyakini tauhid adalah orang yang sombong, tidak mengikuti akal pikirannya. Allah berfirman : "Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong".

Mukmin adalah Manusia Milik Pencipta.

Dalam Akidah Tauhid, mengakui pencipta dan manusia sebagai ciptaan Allah adalah landasan dasar. Landasan ini membedakan jauh antara manusia yang tidak memiliki asal usul mulia dengan muslim yang bersumber dari asal-usul penciptaan. Dia bukan berasal dari amoeba atau dari unsur sel sederhana materi, tapi berasal dari ciptaan Allah yang maha sempurna dari tanah dan Ruh. Paduan dua hal ini menjadikan dia sebaik-baik penciptaan.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. at-Tin : 4).

Dengan akidah tauhid akan satu pencipta yang telah menciptakan asal-usul manusia yang mulia ini, seorang muslim memiliki harga diri yang agung dan mempesona. Dia berada di Alam tapi dia berbeda jauh dengan alam ini. hukum alam tidak bisa menguasainya, justru dia yang berpotensi menguasai hukum alam. Dimuliakan di atas jagad oleh Allah di atas semua makhluk.

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

Artinya : “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. al-Isra' : 70).

Mukmin Memiliki Visi Misi Hidup Jelas

Dengan akidah tauhid, muslim meyakini telah diciptakan pencipta lalu pencipta telah menjadikannya untuk sebuah misi yang jelas pula. Tidak untuk sia-sia.

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya : “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. al-Mu'minun : 115).

Allah telah menggariskan misi besar penciptaan manusia: khalifah memakmurkan bumi secara terus menerus, turuntemurun, beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati. Allah berfirman :

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. al-Baqarah : 30).

Akankah sama pribadi dan kualitas hidup mereka yang memiliki tujuan jelas dalam hidup dengan mereka yang tidak memiliki tujuan akhir? akankah sama mereka yang membawa misi besar dalam hidup dengan mereka yang hidup hanya untuk kepentingan pribadinya? Amatlah jauh berbeda. Itulah muslim yang bertauhid.

Mukmin Memiliki Kemerdekaan Hidup

Panglima Islam Rib’iyu bin ‘Amir ketika penaklukan imperium Persia, di depan raja Rustum Persia berujar : “Allah telah mengutus kami untuk memerdekakan manusia dari penyembahan manusia untuk penghambaan pada Allah semata.

Inilah misi raya Islam di jagad ini, dan semua negeri. Ini pula tujuan Islam dalam setiap pertempuran atau pun dalam perdamaian. Pembebasan manusia dari penjajahan manusia adalah akidah inti Islam. Karena kemulian manusia itu adalah nilai mutlak selaku ciptaan Allah yang paling istimewa.

Akidah dalam bahasa Arab berasal dari kata al-‘Aqd, yang bermakna ikatan/tali yang kuat. Secara materi, jalinan itu dikatakan kuat kalau ia tidak akan terlepas. Begitu juga jalinan akidah dalam konteks maknawi antara seorang mukmin dan yang diyakininya. Kalau benar keyakinan itu tidak akan terlepas,terikat kuat, maka keyakinan itu baru bisa dikatakan akidah.

Inti dasar akidah dalam Islam adalah tauhid. Istilah tauhid bermakna meyakini bahwa Allah itu Esa dan tidak ada sama sekali sekutu baginya (Muhammad Abduh, Risalah Tauhid:13). Maka akidah tauhid murni seorang muslim dengan Allah adalah ikatan kuat yang menjadikannya nya hamba bersimpuh hina hanya di depanNya semata. Tidak di hadapan yang lain.

Sementara syirik sebagai lawan tauhid, adalah keyakinan manusia yang menuntutnya sebagai hamba hina dan rendah di depan apa saja. Karena akidah syirik meminta manusia tunduk dan hina pada banyak objek yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa terhadapnya. Bukankah itu menunjukkan simbol kedungu-an manusia, kehinaan dan kehilangan jati diri?

Penghambaan pada objek selain Allah dan penyerahan keyakinan pada berbagai keinginan yang tak terkontrol, menjadikan kehidupan tidak akan terarah, paradoks dan mematikan. Ibarat menjadi budak bagi banyak majikan dengan perintah beragam. Inilah yang Allah jelaskan dalam firmanNya QS. az-Zumar : 29.

Ayat ini menegaskan menjadi hamba Allah yang satu, kehidupan menjadi merdeka, bebas dan nyaman.

Lepas dari Keterjajahan

Menurut Ulama Besar kontemporer Mesir, Syeikh Muhammad Al-Ghazali (1998), ada dua faktor yang menjadikan pribadi terjajah dan terjerat hina dalam kehidupannya ; takut terhadap rezeki dan ajal. Demi bertahan hidup, menghindari mati. Aneh, padahal kedua faktor ini, Allah sama sekali tidak memberikan peran manusia dalam menentukannya (QS. al-Muluk : 20-21).

Seseorang yang menderita ketakutan pada dua faktor penjajah itu, ia siap menyembah siapa saja dan bertekuk di depan apa saja, berbuat macam cara menghindari ancaman. Ia terpaksa bertahan dengan tersiksa dan penderitaan batin yang memilukan. Hidupnya siap diinjak dan takut dibentak oleh bunyi suara misalkan “dipotong gajimu” atau “putus kerjamu”.

Kemana tauhid murni yang menjadikan hidup mulia dan harga diri agung dan tinggi di depan siapa saja? padahal engkau hamba Allah yang Agung, yang menjamin segala sesuatu bagimu.

Pribadi yang siap dengan konsekuensi hidup

Seorang Mukmin yang bertauhid meyakini takdir hidup yang telah di gariskan Allah. dengan takdir ini, dia akan bersemangat berusaha karena tidak akan ada penyesalan di akhir. Karena semua tergariskan dalam takdir di akhir nanti.

Disinilah muslim diajarkan Allah bertawakkal dari awal dalam semua daya upayanya. Bertawakkal adalah memasrahkan diri sedari awal kepada Allah dengan meyakini bahwa Allah akan menetapkan segalanya sesuai usaha. dengan demikian dia akan menadapat ridha Allah dalam semua usahanya. Allah berfirman :

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Artinya : “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. at-Taubah : 51)

Dalam segenting apapun kondisi yang dihadapi, seorang mukmin akan tidak gentar, walau semua manusia mengerubunginya, dengan tawakkal pada Allah dia menikmati kondisi dengan damai dan tentram jiwa. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 173 - 174.

Muslim dengan tauhidnya, meyakini Allah yang menjalankan dan mengurus segala urusannya, akan berubah menjadi pribadi yang tangguh dan cerdas. Tidak akan hilang ingatan dan akal. Coba perhatikan sabda Rasulullah SAW:

إن الله يلومُ على العجز، ولكن عليكَ بالكيس، فإذا غلبك أمر فقل: حسبي اللهُ ونعمَ الوكيلُ. (أبو داود والنسائي)

Bukankah dengan iman pada takdir Allah seseorang lebih cerdik dan tidak kehilangan akal pikiran dan semangat? Ini resep iman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu juga seorang mukmin meyakini bila diberikan kekuasaan pada dirinya, ditinggikan derjatnya atau jabatannya di sisi manusia, itu semua dari Allah. sewaktu-waktu kapan saja bisa dilucuti dan turun jabatannya dalam sekejap mata. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 26.

Begitu juga saat kita merasa dan mendapatkan rahmat Allah dengan harta dan aset berlimpah dalam kehidupan, menjadi penguasa modal di suatu saat, Allah yang membagikan itu dan menitipkan itu sementara waktu. Betapa sulit dan mengkhawatirkan kalau suatu saat kekuasaan modal dan kapital itu lenyap dari tangan kita, akan sepertii apakah pribadi itu? Mukmin bertauhid meyakini firman Allah (QS. az-Zukhruf : 32).

Akidah tauhid menjadikan seseorang tetap stabil dalam segala kondisi dan nasib yang dialaminya. Pribadi yang yakin akan rahmat Allah yang berlimpah, Dia yang maha adil mengatur dan menganugerahi nikmat-Nya pada semua hamba-Nya.

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“Katakanlah, siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus : 31)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.