Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Idul Adha 1446 H: Menebar Cinta Kasih Melalui Ibadah Kurban

Admin 06 Jun 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag, Ph.D

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, di pagi hari raya Idul Adha yang penuh berkah, Khatib berwasiat untuk selalu meningkatkan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal manusia adalah dengan takwa. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ ۝

Artinya: Berbekalah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, hari raya Idul Adha selalu menjadi rekonstruksi sejarah masa lalu. Sejarah kehidupan figur-figur agung para kekasih Allah, yaitu figur Nabi Ibrahim a.s., sang anak hebat Nabi Ismail a.s., dan figur Ibu luar biasa, Siti Hajar. Mereka menunjukkan ketaatan dan ketundukan total kepada Allah subhanahu wata’ala. Ketika perintah Allah datang kepada Nabi Ibrahim a.s. untuk menyembelih puteranya, beliau tidak ragu, tidak menawar dan tidak mengeluh. Begitu pula Nabi Ismail a.s. yang dengan penuh keyakinan dan tawakal berkata:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (As. As-Saffat: 102)

Dan ketika Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya membuktikan keteguhan dan ketulusan mereka dalam menerima ujian Allah SWT. Lalu Allah mengganti Ismail a.s. Dengan seekor hewan kurban, seperti firman-Nya:

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

Artinya: “Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (As Ash-Shaffat: 107)

Peristiwa ini mengandung pesan bahwa Allah SWT tidak menginginkan darah dan daging, melainkan ketaatan, keikhlasan dan ketakwaan. Itulah sebabnya ibadah kurban menjadi simbol pengorbanan spiritual dan sosial yang besar, yang senantiasa kita peringati setiap Idul Adha.

Tidak hanya Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., tetapi juga Siti Hajar, seorang perempuan mulia yang menunjukkan keikhlasan, tawakal dan pengorbanan luar biasa demi menjalankan perintah Allah SWT. Siti Hajar ditinggalkan di padang pasir yang gersang bersama bayi kecilnya, Ismail. Namun tidak sedikit pun ia berputus asa.

Ia berlari dari Shafa ke Marwah, tujuh kali, dalam pencarian air. Pengorbanan, kesabaran dan keyakinan Siti Hajar membuahkan keajaiban: air zamzam yang memancar hingga kini, menjadi sumber berkah bagi jutaan manusia.

Sungguh pengorbanan Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ismail a.s., dan Siti Hajar menjadi pelajaran penting tentang ketaatan tanpa ragu, keikhlasan tanpa pamrih dan perjuangan tanpa putus asa.

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, ibadah kurban bukan hanya seremonial penyembelihan hewan. Di balik itu ada nilai-nilai spiritual dan sosial. Kurban adalah bentuk aktualisasi dari cinta kasih. Cinta kepada Allah yang ditunjukkan dengan ketaatan, dan cinta kepada sesama manusia yang ditunjukkan melalui berbagi. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al Hajj ayat 37:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ  كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.”

Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dalam Tafsir An-Nur menjelaskan, keridhaan Allah subhanahu wata’ala tidak akan diperoleh dengan daging kurban yang disedekahkan, bukan pula dengan darah yang ditumpahkan. Tetapi yang sampai kepada Allah subhanahu wata’ala adalah amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas. Berkurban dengan menyembelih hewan kurban tidak akan meraih ridha Allah subhanahu wata’ala , kecuali apabila dilakukan dengan niat yang baik dan keikhlasan yang sempurna.

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, di tengah kondisi masyarakat yang masih menghadapi kesulitan ekonomi, ibadah kurban menjadi sangat relevan. Sebagian besar daging hewan kurban disalurkan kepada kaum fakir, miskin, yatim dan kaum lemah secara ekonomi. Dari sinilah kita memahami bahwa Islam bukan hanya mengajarkan hubungan vertikal antara manusia dan Allah, tetapi juga hubungan horizontal antara manusia dan sesamanya.

Agama hadir sebagai pedoman moral yang mendorong para hartawan agar memiliki empati dan kepedulian yang akan menciptakan harmoni sosial serta memunculkan doa kebaikan untuk para dermawan. Karena setiap amal kebaikan akan kembali kepada pelakunya dalam bentuk kebaikan pula. Hal ini bisa dilihat dari Dua Sisi:

Pertama, dampak positif yang dirasakan di dunia. Seseorang yang memperlakukan orang lain dengan baik akan mendapatkan penghormatan dan simpati. Ketika ia tertimpa musibah, orang-orang di sekitarnya akan menunjukkan empati dan turut membantu. Bahkan sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Sya’rawi, orang yang terbiasa berbagi rezeki, saat mengalami kesulitan akan dirasakan kehilangannya oleh banyak orang dan mereka turut bersedih serta memberikan bantuan dan mengirimkan untaian doa terbaik.

Kedua, amal baik di dunia menjadi bekal pahala dan kunci menuju surga di akhirat. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 272:

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Artinya: “Bukanlah kewajibanmu (Nabi Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, (manfaatnya) untuk dirimu (sendiri). Kamu (orang-orang mukmin) tidak berinfak, kecuali karena mencari rida Allah. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi.”

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, suasana shalat Idul Adha berjamaah menggambarkan kebersamaan antara mereka yang mampu dan tidak mampu. Seluruh lapisan masyarakat muslim menyatu dalam suasana kebahagiaan. Yang mampu akan berbahagia karena berbagi kenikmatan dengan berkurban dan yang tidak mampu juga berbahagia karena merasakan kenikmatan daging kurban.

Oleh karena itu, Allah mensyariatkan kurban di hari raya Idul Adha agar seluruh lapisan masyarakat muslim dapat bergembira di hari raya tersebut.

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, dalam konteks membangun bangsa dan negara, semangat kurban adalah semangat kolektif. Para pemimpin dituntut untuk rela berkorban demi kepentingan rakyat, berkorban waktu, tenaga, bahkan kenyamanan pribadi demi membangun negeri ini menjadi negeri yang adil dan makmur. Kepemimpinan bukan soal kekuasaan, tapi tentang keberanian menanggung beban demi orang lain. Inilah pemimpin sejati yang mampu meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. Rakyat pun tidak boleh hanya menjadi penonton. Setiap dari kita memiliki peran. Jika setiap lapisan masyarakat rela berkorban dan memberikan yang terbaik sesuai perannya, maka visi Indonesia emas akan terwujud.

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, pesan kurban semakin relevan dengan kondisi bangsa kita yang sedang berjuang mewujudkan Indonesia Emas 2045, sebuah visi besar menuju negara maju yang adil, makmur dan beradab. Fondasi menuju Indonesia Emas adalah generasi sehat dan cerdas. Oleh karena itu, gagasan tentang makan bergizi gratis untuk anak-anak Indonesia bukan hanya program pemerintah, tapi sejatinya merupakan bagian dari nilai-nilai Islam. Ibadah kurban mengajarkan kita untuk memberi makan kepada yang lapar, memperhatikan asupan gizi bagi saudara kita yang kekurangan.

Bayangkan jika semangat kurban ini menjadi budaya, orang-orang kaya berbagi bukan hanya setahun sekali, tetapi terus menerus dalam berbagi bentuk program sosial seperti makan bergizi gratis di sekolah,  batuan pangan dan dukungan gizi Ibu hamil dan anak-anak. Itulah wujud konkret dari cinta kasih sosial Islami. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: tidaklah mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya. (HR. Bukhori)

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, program makan bergizi gratis bisa menjadi bagian dari semangat kurban nasional, di mana pemerintah, para pemimpin dan masyarakat luas bersatu dalam mewujudkan anak-anak Indonesia yang kuat, sehat dan cerdas. Sebab hanya dengan generasi unggul kita bisa meraih Indonesia Emas. Inilah pengorbanan kolektif yang menjadi ruh pembangunan yang berkeadilan dan generasi yang unggul.

Pengorbanan kolektif merupakan implementasi dari semangat gotong royong dan saling membantu menjadi kunci utama mewujudkan kemajuan negeri tercinta. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Maidah ayat 2:

عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam melakukan dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Ma'idah : 2)

Gotong royong dalam Islam bukanlah konsep baru. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh; jika satu bagian merasa sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya

Rasulullah SAW bersabda,

“Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Dan Rasulullah SAW (mendemonstrasikan dengan) menyilangkan jari jemari.” (HR. Bukhori)

Sebagai saudara, orang Islam mempunyai kewajiban menjaga saudaranya dari segala bentuk keburukan baik yang berdampak secara fisik dan bersifat duniawi, maupun secara mandi dan ukhrawi.

Prinsip ini mendorong kita untuk tidak bersikap individualis dan apatis terhadap kondisi sosial di sekitar kita. Kita harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat. Jika ada tetangga kita yang masih lapar, anak-anak yang putus sekolah, atau saudara-saudara kita yang tertinggal dari segi ekonomi, maka itu adalah tanggung jawab kita bersama. Dalam semangat kurban dan gotong royong, semua pihak harus terlibat, ulama, cendekiawan, petani, nelayan, buruh, guru, ASN, pengusaha, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Masing-masing memiliki peran dan kontribusi untuk membangun bangsa.

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah, Selain berkurban untuk dalam negeri, Indonesia berperan dalam perdamaian dunia, sebagaimana tertuang dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, vakni ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Hari ini, berbagai ketegangan poltik dan peperangan tengah berkecamuk baik dikawasan Eropa, Timur Tengah hingga Asia Selatan dan berdampak luas pada keamanan global. Ketegangan ini bukan hanya menyebabkan korban jiwa, tetapi juga instabilitas politik di kawasan global. Untuk itu, ketegangan dan konflik ini perlu segera diakhiri.

Allah SWT sangat memuji seseorang yang mampu mewujudkan perdamaian. Bahkan Rasulullah saw menyebut, pahalanya melebihi shalat, zakat, dan sedekah.

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ، وَالصَّدَقَةِ قَالُوا: بَلَى قَالَ: " إِصْلَاحَ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْخَالِقَةُ (رواه ابوداود)

"Maukah jika aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah? para sahabat menjawab: Tentu ya Rasulullah. Beliau bersabda: 'Mendamaikan orang yang sedang berselisih. (karena) rusaknya orang yang berselisih adalah mencukur (amal kebaikan yang telah mereka kerjakan).' (HR Abu Daud).

Maka, seorang muslim sejati hendaknya senantiasa aktif sebagai penyeru perdamaian, penengah konflik, pemberi solusi (problem solver) dalam konflik, dan menjadi bagian dari unsur pemersatu umat. Umat Islam bukanlah pembuat konflik (problem maker), bukan penyulut api permusuhan, bukan pula pengadu domba antar kelompok. Itu sama sekali bukan dari ajaran Islam yang cinta perdamaian. Ajaran Islam juga melarang umatnya menggunakan cara-cara kekerasan dalam dakwah.

Islam bukanlah agama yang mengajarkan ekstremisme, radikalisme, apalagi terorisme. Perdamaian merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Islam yang harus terus kita pertahankan.

Kita memiliki tanggungjawab moral untuk meningkatkan peran aktif dalam mendukung terciptanya perdamaian global secara konkret dan berkelanjutan melalui penguatan diplomasi dan advokasi politik.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah. Akhirnya, marilah kita jadikan momentum Idul Adha ini sebagai titik tolak untuk memperkuat semangat persatuan dan kesatuan untuk ketahanan keluarga, ketahanan Negara dan perdamaian dunia. Mari kita kobarkan kembali semangat pengorbanan dan cinta kasih Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jadikan ibadah kurban tahun ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebagai pengingat bahwa membangun negeri membutuhkan ketulusan, kerja sama, dan pengorbanan dari semua pihak.

Kita yakin, dengan semangat kurban dan gotong royong, kita bisa bersama-sama mewujudkan Indonesia Emas dan penuh berkah. Semoga Allah meridhai setiap langkah kita, menerima amal ibadah kita, dan memberikan keberkahan kepada negeri yang kita cintai ini. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.