Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pada kegiatan Kongres Umat Islam untuk Indonesia Lestari yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal, Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) KH Ma'ruf Amin, mengajak para ulama dan masyarakat luas, khususnya umat Islam, untuk turut berperan aktif menjaga dan mencegah kerusakan lingkungan.
“Saya mengimbau para tokoh ulama serta umat Islam, diharapkan berperan aktif untuk dapat menyampaikan isu-isu terkait kerusakan lingkungan. Untuk kemudian kita melakukan aksi-aksi yang lebih nyata,” ujar KH Ma'ruf Amin saat memberikan pidato kunci, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (29/7).
Imbauan di atas disampaikan karena Wapres menilai bahwasanya perintah menjaga lingkungan sudah dipaparkan dalam Islam.“Oleh karena itu, umat Islam wajib menghindari tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan (al-fasad) di bumi, baik yang menyangkut kerusakan fisik (fasad maddi), maupun kerusakan non fisik (fasad maknawi),” terangnya yang dilansir dari laman wapresri.go.id.
.png)
Sehingga, mengingat krusialnya masalah kerusakan lingkungan, Wapres menambahkan prinsip “menjaga lingkungan” sebagai bagian dari tujuan syariat Islam (maqasidus-syariah) yang sejauh ini baru ditetapkan 5 prinsip oleh para ulama, yakni menjaga agama (hifzhuddin), menjaga jiwa (hifzhunnafs), menjaga akal (hifzhul-aql), menjaga keturunan (hifzhun-nasl), dan menjaga harta (hifzhul-maal).
“Menurut hemat saya ini perlu penambahan 2 hal lagi yaitu menjaga keamanan dan kedamaian (hifzhul amni wassalam) dan menjaga lingkungan (hifzhul-bi’ah),” paparnya.
Di samping itu, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar juga mengapresiasi Kongres Umat Islam Untuk Indonesia Lestari yang berisi banyak kebermanfaatan tersebut. "Pada Jumat yang berkah, sambil kita menunggu detik-detik pergantian tahun baru ini, kembali kita mencatat sebuah sejarah, pada hari ini di Masjid Istiqlal kita melakukan sebuah acara yang luar biasa hingga dihadiri Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin," ungkapnya.
Dalam mendukung kelestarian lingkungan, KH Nasaruddin Umar juga menjabarkan bahwasanya Masjid Istiqlal juga sudah berupaya mengambil peran aktif dalam menjaga lingkungan. Misalnya saja dikelolanya panel surya yang ada di dak lantai dua Masjid Istiqlal, membentang lurus dari sisi menara menuju arah kiblat. Terdapat juga air siap minum yang berteknologi reverse osmosis Arsinum dapat memproses air mentah menjadi air siap minum.
.png)
"Alhamdulillah, Istiqlal dalam 43 programnya, salah satu di antaranya juga kita melakukan penghijauan," papar KH Nasaruddin Umar.
Sebagai informasi, Kongres Umat Islam untuk Indonesia Lestasi digagas sejumlah kolaborator untuk mendiskusikan dan menjawab tantangan perubahan iklim yang memicu berbagai anomali cuaca. Para kolaborator yang terdiri dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), DPP UGM, LSM Purpose, dan Harian Republika telah menyelenggarakan inisiasi ini sejak Februari.
Setelah melalui serangkaian penelitian, diskusi antarorganisasi Islam lintas entitas dan para pihak terkait, serta mendengarkan dan menyerap masukan dari para peserta, Kongres Umat Islam untuk Indonesia Lestari menyampaikan tujuh poin ajakan kepada seluruh kalangan umat Islam di Indonesia dalam rangka mencapai Indonesia Lestari.
Adapun ketujuh poin ajakan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perubahan iklim global telah lama berlangsung. Krisis yang ditimbulkannya pun nyata terjadi. Tetapi hal itu masih belum dipahami dan disikapi dengan optimal oleh umat Islam. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang strategis dan sejalan dengan pemahaman dan kepentingan umat melalui berbagai kajian keislaman.
2. Pemuka agama Islam dan tokoh Muslim harus mengambil peran terdepan dalam upaya pendalaman substansi kajian keislaman, komunikasi dan edukasi kepada umat. Tujuannya adalah untuk menegaskan irisan antara krisis iklim dengan iman dan keagamaan secara konsisten.
3. Perubahan iklim telah berdampak terhadap seluruh sektor kehidupan masyarakat, sehingga memerlukan solusi berdasarkan nilai-nilai Islam, berakar pada kearifan lokal dan dilakukan secara sistematis, sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal.
(1).png)
4. Diperlukan kolaborasi yang kuat antar umat Islam untuk melakukan inisiatif serta mendukung kebijakan nyata yang bertujuan mengatasi perubahan iklim, melalui kemitraan bersama pemerintah dan sektor lain.
5. Kelompok rentan seperti anak muda dan perempuan harus didorong untuk memainkan peran kepemimpinan dalam mengelola dan mengorganisasikan solusi perubahan iklim.
6. Dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, harus dilakukan pendayagunaan pembiayaan syariah dan dana sosial keagamaan lainnya (misalnya infaq, shodaqoh, dan wakaf).
7. Institusi keagamaan Islam, mulai dari masjid hingga lembaga pendidikan Islam (termasuk pondok pesantren), harus mengembangkan wawasan dan perilaku ramah lingkungan dan menyediakan ruang-ruang strategis untuk mengembangkan kajian, inisiatif, implementasi, dan inovasi bagi umat Islam agar terlibat aktif dalam aksi perubahan iklim.
Hadir dalam acara ini, Wakil Ketua Umum MUI, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Wakil Bendahara Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, Pemimpin Redaksi Republika, serta jajaran pejabat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.