Foto: Dok. Media Istiqlal

KH. Fathurrahman: Kedamaian Bisa Terwujud, Asal Tujuannya Allah

Admin 04 Apr 2021 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id- "bahwa kedamaian bisa dirasakan setiap umat Islam, jika dalam hatinya selalu dipenuhi dengan rahmat dan kecintaannya kepada Allah" demikian ujar KH. Fatkhurrahman dalam Khutbah di Masjid Istiqlal pada Jum'at,2/4/2021.

Menurut KH Fathurrahman yang juga seorang mursyid Thariqah Al Idrisiyah, Tasikmalaya itu menjelaskan, bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang menjadi ruh di dalam agama Islam, ruh dalam syariat Islam. "Dengan mempelajari ilmu tasawuf, Allah akan penuhi hati setiap orang dengan rahmat dan kasih sayang," jelas KH. Fathurrahman.

"Sehingga tidak ada suatu ruang dalam batinnya untuk membenci orang lain atau suatu kaum, suatu kelompok, apapun dalil dan alasannya. Karena relung batinnya sudah penuh dengan rahmat Allah," tambah KH Fathurrahman.

Memahami makna memenuhi hati dengan rahmat dan kecintaan kepada Allah, KH. Fathurrahman memaparkan bahwa hal itu didasari pada proses yang sangat fundamental, diantaranya pembersihan jiwa dari seluruh penyakit hati. "Keluarkan sifat dalam diri yang didalamnya terdapat sifat yang kontradiktif dengan penghambaanmu kepada Allah."?

"Seperti sifat ujub, takabbur, riya, hasad, cinta kepada dunia, jabatan dan kekuasaan, yang itu semua adalah sifat yang bertolak belakang dengan sifat penghambaan kita kepada Allah," tambah KH. Fathurrahman.

Mengapa hal itu menjadi penting bagi kita yang ingin membersihkan jiwa? Karena menurut KH. Fathurrahman, sejatinya manusia tidak memiliki apapun dalam kehidupan yang fana ini. "Sepenuhnya milik Allah. Rasulullah juga telah mengajarkan pada doa iftitah yang kita baca saat salat, yaitu, 'sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah milik Allah Subhanahu Wa Taala'," ungkapnya.

Saat seorang hamba tetap melibatkan hal yang kontradiktif dalam penghambaan kepada Allah, dampaknya ialah sulit bagi seseorang untuk menghadirkan jiwanya dalam beribadah kepada Allah.? "Karena seorang hamba (hakikatnya) tidak ada apa-apanya dihadapan pemiliknya, Allah Subhanahu wa Taala. Jangankan harta, jiwa dan raganya dimiliki oleh Allah," papar KH Fathurrahman.

"Hati yang bersih akan mampu menghadap Allah, dengan merasakan hadirnya hati kepada Allah. Inilah proses pertama yang dilakukan," lanjut KH. Fathurrahman.

Berikutnya, KH Fathurrahman juga menjelaskan, bahwa selain berupaya dan berusaha membersihkan hati dari segala penyakit hati yang sifatnya kontradiktif dalam penghambaan kepada Allah, kita juga perlu untuk memperindah sikap kita dengan prilaku-prilaku yang terbaik.

"Hati kita perlu didandani dengan sifat-sifat terpuji, dalam ilmu tasawuf disebut maqamat, setiap diri seorang hamba harus maqam dalam jiwanya, dari maqam taubat, bersabar dalam menghadapi masalah, bersyukur dalam menghadapi nikmat Allah, tawakkal dalam segala urusan, zuhud dalam urusan duniawi, dan cinta kepada Allah," jelas KH. Fathurrahman.

Setelah membenahi diri dengan prilaku yang terpuji, disinilah proses yang diharapkan setiap hamba yang selalu ingin dekat kepada-Nya, yaitu Allah akan hadirkan cahaya keyakinan.

"Apabila cahaya keyakinan dalam hati itu? diturunkan Allah, maka hati itu akan bersinar dan bisa menjadi kendaraan atau transportasi di relung jiwa kita untuk mendekat kepada Allah," ucap KH. Fathurrahman.

Jika cahaya keyakinan sudah Allah hadirkan dalam relung jiwa seorang hamba, maka dampaknya akhirat akan terasa lebih dekat. "Di pelupuk matanya selalu ada akhirat, kenikmatan syurga yang abadi ada dalam pelupuk matanya, sampai syurga merindukan hamba tersebut," papar KH. Fathurrahman.

"Akhirat bukan 1000 tahun lagi, Imam Syafi'i Rahimahullah mengatakan, jika cahaya Allah masuk ke dalam jiwa, hakikat kehidupan dunia akan terbuka, lalu dalam benak (dia selalu berpikir bahwa) akhirat adalah hari esok, dan hari ini adalah persiapan dan pembekalan, karena esok adalah perjumpaan kepada Allah, lewat pintu kematian," jelasnya.

"Sehingga dalam menghadapi kehidupan ini, akhirat adalah orientasi dalam hidupnya. karena dalam hatinya, akhirat lebih dekat daripada engkau (dirinya sendiri)," tambahnya.?

Kemudian, KH. Fathurrahman menjelaskan bahwa orang yang disinari hatinya oleh cahaya keyakinan, akan meliat dunia sebagai hal yang fana, tidak kekal, dan hanya sebagai titipan yang sementara.?

Seseorang yang memandang dunia sebagai tempat singgah sementara, bisa lebih amanah dalam mengemban tanggung jawab. "Karena dibalik amanah itu ada pertanggungjawaban, dan kekayaan, kekuasaan, pujian dan jabatan (segala hal perihal dunia), hanya dianggapnya sebagai amanah, sehingga ia akan mengunakannya dengan baik dan sungguh-sungguh, dan hal ini bisa menjadi sarana bekal beribadah kepada Allah," tambahnya.

"Betapa dunia ini adalah sesuatu yang dekat, sebentar, dan waktunya hanya sesaat. Sedang waktu terus berjalan tanpa henti, waktu kehidupan di dunia sungguh cepat, dan waktu yang kita lewati di dunia ini, dalam setiap detiknya adalah yang menentukan nasib kekal kita di akhirat," pesan KH Fathurrahman.

"Sehingga setiap detik dalam hidupnya, akan terus ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menghidupkan kejujuran dalam beribadah kepada Allah, dan menegakkan hak Allah sebagai Zat yang berhak untuk diibadahi. Segala sesuatu di muka bumi ini adalah fana, rusak, dan binasa.Allah-lah yang kekal dan abadi," pungkas KH. Fathurrahman.



Penulis: Nurul Fajriyah

Editor: Nur Khayyin Muhdlor

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.