Jakarta, www.istiqlal.or.id - Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menghadiri kegiatan peringatan Isra Mi'raj 1443 H Nabi Muhammad SAW dalam rangka menjadi pembicara di Masjid Assamawi Markas Besar TNI Angkatan Udara (Mabes TNI AU), Jakarta, Senin (21/3).
Acara yang berlangsung secara khidmat dan turut diikuti ratusan anggota TNI ini, diisi dengan pemaparan tausiah berupa hikmah perjalanan Rasulullah SAW saat Isra Mi'raj yang membuahkan perintah shalat lima waktu bagi seluruh umat muslim.
Pada tausiahnya, KH Nasaruddin menyampaikan, terdapat limpahan hikmah dari seluruh kehendak dan ketetapan Allah SWT. Di antaranya merupakan peristiwa Isra Mi'raj. "Isra Mi'raj merupakan peristiwa melangit untuk membumikan perintah Allah SWT berupa shalat lima waktu."
.jpeg)
Dari firman-Nya pada QS. Al-Isra [17] ayat 1, kita ketahui bahwasanya peristiwa Isra Mi'raj dilakukan pada malam hari, keadaan dengan suasana yang penuh keteduhan, kekhusyukan dalam mengadukan segala hal serta memohon seluruh harap kepada-Nya. "Malam bisa berarti gelap, tapi malam dalam syair Bahasa Arab bisa menjadi arti keheningan, kekhusyukan, ketenangan, keteduhan, dan kesyahduan," ungkap KH Nasaruddin.
Lebih jauh menyelami QS. Al Isra, surat tersebut diapit oleh dua surat yang juga memiliki makna mendalam. Di antaranya QS. An-Nahl dan QS. Al-Kahfi. "Ketiga surat tersebut tidak bisa dipisahkan. QS An-Nahl berisi ayat-ayat yang menerangkan kecerdasan intelektual, QS Al-Isra berisi ayat-ayat tentang kecerdasan emosional, dan QS. Al-Kahfi memaparkan ayat-ayat kecerdasan spiritual," papar Imam Besar Masjid Istiqlal.
.jpeg)
Kenapa QS. Al-Isra dapat disebut sebagai surat yang menerangkan kecerdasan emosional? KH Nasaruddin menyebutkan hal tersebut didasari pada firman-Nya yang diawali dengan kata 'Subhana'. "Semua surat Al-Qur'an yang diawali dengan 'subhana', pasti tidak bisa kita jangkau dengan akal, melainkan (pada akhirnya) hanya bisa kita yakini."
Dari landasan keyakinan kepada Allah SWT tersebut, kita dapat lebih mudah berprasangka baik terhadap segala kehendak-Nya. "Jangan karena kita tidak tahu maksud atau hikmah terhadap suatu kejadian yang menimpa, kita menjadi berprasangka buruk kepada Allah SWT. Sucikan pikiran kita agar dapat berprasangka baik kepada-Nya."
"Jangan salah paham jika hal yang kita minta ditolak, karena pasti ada hikmah terbaik dari-Nya. Tidak ada sesuatu yang buruk dari kehendak-Nya," pesan KH Nasaruddin.
Jalaluddin Rumi juga pernah berkata, "Apalah arti sebuah cangkir untuk menampung samudra."
.jpeg)
Dari perkataan Jalaluddin Rumi tersebut, KH Nasaruddin berpesan untuk tidak menafsirkan peristiwa Isra Mi'raj dengan hanya menggunakan akal melalui terjemahan. "Jangan tafsirkan perjalanan Isra Mi'raj Rasulullah SAW dengan terjemahan yang kita temui, karena Bahasa Arab sangat luas maknanya. Sejatinya pada peristiwa ini seluruhnya merupakan kehendak Allah SWT, jadi jangan kita perdebatkan baju apa yang dipakai, kendaraan seperti apa yang digunakan, karena itu sudah termasuk kehendak-Nya," tambah KH Nasaruddin.
"Jangan hanya menyuguhkan terjemahan (dari ayat yang difirmankan-Nya) tanpa memperdalam agama, hal itu bisa menyesatkan orang lain. Perdalam pelajaran agama agar Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita," jelas KH Nasaruddin.
.jpeg)
Dari perintah shalat lima waktu yang Allah SWT tetapkan kepada Rasulullah SAW untuk ditegakkan oleh seluruh umat muslim juga memiliki keistimewaan. Pertama, dari perintah Allah SWT tersebut kita juga bisa ketahui bahwasanya Rasulullah SAW sangat menyayangi umatnya, meskipun dalam dakwahnya, beliau tetap menemui ragam ujian.
"Sebelum peristiwa Isra Mi'raj, Rasulullah SAW mencapai duka yang puncak karena kehilangan istrinya, Khadijah ra., dan pamannya, Abu Thalib. Setelah Allah SWT berangkatkan beliau menuju sidratul muntaha, Rasulullah tidak lantas memilih untuk menetap, melainkan beliau kembali ke bumi untuk menyampaikan perintah shalat lima waktu yang ditetapkan Allah SWT."
"Seandainya Rasulullah SAW tidak turun saat beliau Mi'raj, kita tidak sampai di sini hari ini. Rasulullah SAW merupakan sosok yang bijaksana, dia tidak egois dengan hanya memikirkan dirinya sendiri," jelas KH Nasaruddin.
Berikutnya, KH Nasaruddin juga berpesan untuk dapat menyelaraskan jiwa dan raga setiap melaksanakan shalat. "Peringatan Isra Mi'raj ini semoga bisa mentransformasikan shalat 'bumi' menjadi shalat 'langit', (maksudnya adalah) tidak hanya menyertakan raga kita dalam shalat, melainkan juga jiwa. Mari kita meningkatkan kualitas shalat agar Allah SWT bisa mengantarkan kita kepada rida-Nya," pungkasnya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.