Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Zuhur Istiqlal: Mengenal Allah

Admin 14 Jan 2026 Warta Istiqlal

Prof. Dr. K. H. Bambang Irawan, MA.
Kitab Risalah Al-Qusairiyah fi Ilmi Tasawuf
 

Ukuran kemuliaan seorang hamba dilihat sejauh mana dia bisa mengenal penciptanya, merasakan kehadiran-Nyadi dalam hatinya. Merasakan sesuatu yang mendamaikan, menenangkan. Orang yang belum sampai ke level ini harus mulai belajar melalui guru.  

أَيَّ شَيْءٍ وَجَدَ مَنْ فَقَدَ الله أَيَّ شَيْءٍ فَقَدَ مَنْ وَجَدَ الله

"Apa yang ditemukan oleh orang yang kehilangan Allah? Dan apa yang hilang dari orang yang telah menemukan Allah?"

Orang yang tidak mau belajar mengenal Allah hidupnya sia-sia, tanpa makna dan tak bernilai. Orang yang sudah kehilangan Allah, kenikmatannya didapat dari selain Allah dan mengandalkan selain Allah. Orang yang kehilangan Allah adalah orang yang tidak dapat apa-apa di dunia sampai akhirat.

Orang yang sudah mendapati Allah tidak bisa merasa kehilangan. Karena Allah tak bisa dibandingkan. Allah Maha Penentu hidup dan takdir, tak bisa  dibandingkan dengan selain Allah. Bila seseorang sedih karena kehilangan sepatu, dan tiba-tiba digantikan dengan istana, tentu tak akan sedih, karena sepatu yang hilang tidak sebanding dengan istana megah. Terlebih  urusan dengan zat yang paling  dicintai. Tidak pernah disebut orang merasa
kehilangan dunia ini kalau dia sudah mendapati Allah.

لا بيسويان أبدا

Tidak sama orang yang mendapati Allah dengan orang yang kehilangan, sampai kapan pun. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam secara fisik sama dengan yang lain  bahkan sama seperti Abu Jahal, tetapi dalam hal mengenal Allah lebih dari itu. Rasulullah menyebutkan bahwa  Allah tidak melihat jasad, tetapi yang dilihat adalah  hati, karena hati adalah tempat bersemayamnya kerinduan kepada Allah. 

 "مَنْ وَجَدَ اللهَ وَجَدَ كُلَّ شَيْءٍ، وَمَنْ فَقَدَ اللهَ فَقَدَ كُلَّ شَيْءٍ"

Barangsiapa mendapati Allah, maka ia menemukan segala sesuatu. Dan barangsiapa kehilangan Allah, maka ia kehilangan segala sesuatu." 

Orang yang benar-benar kaya, adalah yang mendapati Allah. Sebaliknya,  yang kehilangan Allah berarti kehilangan segalanya. Tanda mengenal Allah adalah sering menyebut nama Allah. Agar semakin mengenal Allah, maka mulailah banyak memanggil nama-nama-Nya. 

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. QS. Al-A’raf/7: 180.

Seluruh nama-nama ini Allah langsung Yang Menamakan. Tentu ini adalah sesuatu yang  yang luar biasa. Bila orang  beriman belum bisa menjadikan nama-nama Allah ini sebagai terapi semangat, kebahagiaan, obat dari kegalauan, kekusutan dan kemarahan, berarti belum layak dikatakan sebagai hamba yang mengenal Allah.

Bila kita sering mengulang-ulang, "Ya 'Aziz, ya 'Aziz, ya 'Aziz, wahai Engkau Yang Maha Mulia, ya Allah." "We become what we think about most of the time, " kita menjadi apa yang kita pikirkan sebagian besar waktu. Kita akan menjadi seperti apa yang sering kita katakan berulang-ulang. Dengan mengatakan  berulang-ulang, "Ya 'Aziz, ya 'Aziz." Allah akan mengatakan, "Hambaku suka memujiku maka aku berikan kemuliaan kepada yang sering mengucapkan itu."

Fal 'izzatu lillahi jamian, kemuliaan adalah milik Allah. Bila Allah Anugerahkan kemuliaan kepada hamba-Nya, tidak ada yang bisa mencegahnya. Mengucapkan ya 'Aziz, bukan sekedar memuji Allah. Dengan itu, Allah Muliakan kita, Menjaga lisan dan pergaulan kita, ke manapun kita pergi. Itulah sebab Rasulullah, manusia yang paling kenal Allah, banyak memanggil-manggil Allah.

Bila kita beriman kepada Allah namun  belum bisa menjadikan nama-nama Allah sebagai terapi semangat, kebahagiaan, terapi dari kegalauan, kekusutan dan marahan, berarti belum layak dikatakan sebagai orang yang mengenal Allah.

Harus dimulai dari diri  sendiri agar Allah Memberikan kepantasan untuk kita. Jangan mengeluarkan kata-kata yang mengecilkan diri sendiri dan penuh pessimisme. Tidak boleh mengkhawatirkan masa depan, tidak yakin bisa membayar hutang,  takut  akan terus mengalami kesulitan ekonomi, takut  penyakit tak bisa sembuh dan mengutuk diri sepanjang hari.

Jangan sampai membaca la haula wala quwwata illa billah dan juga Hasbiyallah wa ni'mal wakil ni'mal maula ni'man nashir, tetapi dari lisan masih keluar ungkapan  yang membuat merana, duka nestapa dan kesedihan dan terus diulang-ulang. Maka kita mohon ampun kepada Allah, jika sering seperti ini.

Tidaklah seorang hamba diuji dengan sesuatu yang lebih berbahaya daripada popularitas, ketenaran. Imam Ghazali seorang guru besar bahkan rektor di perguruan tinggi Nizamiyah diBaghdad itu karyanya banyak sekali. Pada titik tertentu dia mengatakan, "Sudah cukup bagiku menjadi rektor. Aku mau menulis. Aku takut jabatan ini mengganggu aku."

Ibrahim bin Adam, seorang raja dengan kemegahan singgahsana dan dihormati, meninggalkan istananya, hidup dalam mencari berkhalwat dengan Allah. Itu adalah gambaran  para wali Allah. Mereka bisa bertahan merasakan di dampingi oleh Allah dan istiqamah di jalan Allah, karena:

1. Mereka melihat.  sadar betul bukan sekedar tahu tapi sadar sesadar-sadarnya. Dunia ini sementara. Yang mau kebahagiaan yang abadi jangan mengandalkan yang sementara.

2. Mereka melihat Allah lebih dekat dari segalanya.

Siapapun yang mengenal Allah kecil baginya segala sesuatu selain Allah. Maka orang yang kenal Allah akan selalu stabil. Siap menghadapi ujian seberat apapun,  rida hatinya karena dia sadar semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Menurut Imam Ghazali, bagi orang yang mengenal Allah maka ringan baginya kehilangan apapun di dunia ini. Kehilangan selain Allah, seperti jabatan,  pangkat,  orang yang paling dicintai ringan baginya. Yang kenal Allah tidak sibuk mencari kebahagiaan di luar diri, karena kebahagiaan ada di dalam diri.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.