Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Zuhur Istiqlal: Keajaiban Perkara Orang Beriman

Admin 11 Sep 2025 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kajian ini disampaikan oleh KH Abu Hurairah Abd. Salam, terambil dari kitab Riyadus Shihin. Kitab Riyadus Shihin sangat terkenal sekali ditulis oleh salah seorang ulama yang bernama Al-Imam al-Hafiz Al-Faqih Yahya  atau Abu Zakaria Muhyiddin Ibnu Syaraf an-Nawawi atau biasa dipanggil dengan Imam an-Nawawi. Salah satu kitab karya beliau yang monumental dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. 

Hampir semua negara itu menerjemahkan kitab ini ke dalam bahasa mereka masing-masing. Kitab ini dianggap sebagai paling masyhur yang dimiliki oleh kaum muslimin di dunia setelah Al-Qur'an. Setelah mushaf Al-Qur'an adalah kitab Riyadus Shihin. 

Hadis ini membahas bab yang ketiga tentang sabar, hadis yang ketiga dari bab ini. Diriwayatkan oleh Suhaib Ibnu Sinan. Biografi Shuhaib bin Sinan Shuhaib bin Sinan ar-Rumi merupakan sahabat Nabi yang masuk ke dalam assabiqun al-awwalun (golongan orang-orang yang awal masuk Islam). 

Suatu ketika datang orang-orang Romawi menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk Shuhaib. Setelah ditawan, Shuhaib dijualbelikan sebagai budak dari satu saudagar ke saudagar lain. Ia menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remaja di Romawi sebagai budak. Akibatnya, dialeknya pun sudah seperti orang Romawi.

Sehingga ia mendapat nisbat “ar-Rumi” dan memiliki nama kunyah “Abu Yahya”. Pengembaraannya yang panjang sebagai budak akhirnya berakhir di Makkah. Majikannya yang terakhir membebaskan Shuhaib karena melihat kecerdasan, kerajinan, dan kejujuran Shuhaib. Bahkan, sang majikan memberikan kesempatan kepadanya untuk berniaga bersama. Dari sinilah ia menjadi saudagar yang sukses dan kaya raya.

Setelah dipulangkan atau setelah selesai ditahan oleh tentara Romawi, beliau tinggal di kota Makkah dan mengucapkan kalimah syahadat di depan Nabi menjadi pendukung orang-orang pertama ya termasuk assabiquunal awwalun atau bersama dengan Abu Bakar dan sahabat-sahabat lain.  Suhaib Ar-Rumi nasibnya sama dengan Ammar Ibnu Yasir, mendapatkan intimidasi penyiksaan dari kafir Quraisy waktu itu. 

Tetapi beliau sangat pandai mencari nafkah dengan cara berdagang. Orang Makkah itu terkenal dengan pedagang karena daerahnya sangat tandus, tidak seperti di Madinah terkenal dengan pertanian. Makkah ini mengandalkan perdagangan, karena waktu itu sebelum zaman  Nabi memang kota Makkah sudah dikunjungi oleh orang-orang Arab yang ada di sekitar kota Makkah untuk berhaji. Haji mereka berbeda dengan haji yang kita sekarang. Ssaat berkumpul berkumpul itulah penduduk asli kota Makkah itu melakukan perdagangan.

Suhaib Ibnu sukses dalam perdangan. Pada saat Nabi hijrah ke Madinah, beliau beberapa kali berusaha ingin menyusul namun ditahan oleh orang-orang Makkah, kafir Quraisy Makkah pada saat itu. Ketika Suhaib ingin berangkat hijrah ke Madinah. Beliau ditahan oleh kafir Quraisy dan diancam untuk menggagalkan rencananya hijrah. Suhaib berkata, "Apa yang kalian inginkan dari saya? Kalau kalian menginginkan harta, silakan ambil semua harta saya. Asal kalian melepaskan saya untuk hijrah ke Madinah.”

Karena memang yang diinginkan, setelah diberikanlah harta itu. Dan beliau pun berangkat ke Madinah dengan apa yang melekat di badannya saja. Pada saat Khalifah Umar Ibnu Khattab Amirul Mukminin, khalifah yang kedua meninggal wafat beliau menjadi imam masjid di Madinah. Beliau yang memimpin salat kaum muslimin di Madinah sampai terpilihnya Utsman Ibnu Affan menjadi khalifah yang ketiga. Jadi, Suhaib Arrumi ini adalah kaum muslimin dari kaum Muhajirin, orang yang berhijrah ke Madinah.

Dari Abu Yahya Suhaib Ibnu Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Ajaban apa biasanya diterjemahkan ajaban ini sungguh menakjubkan, Ajab. 
Menunjukkan menunjukkan kekaguman, takjub. Bisa diterjemahkan dengan: sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Perkara orang yang beriman, urusan orang yang beriman sangat menakjubkan. Semua urusan atau perkara orang 
semuanya baik, bagus. 

Apapun keadaannya, kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan, ataupun sebaliknya penderitaan, kegagalan, kebangkrutan, kemiskinan, kesusahan, kegalauan, kesulitan, semuanya baik, semuanya bagus. Hal ini hanya dialami oleh orang yang beriman dan tidak dialamai oleh yang tidak. Kalaupun orang yang tidak beriman mendapatkan urusannya sukses, hal itu bukan kebaikan, apalagi kalau urusannya gagal.

Urusan orang beriman, kesuksesan maupun kegagalan itu dianggap baik. Perkara seperti ini, bahwa semua urusannya akan menjadi baik baginya tidak akan terjadi atau dialami oleh seseorang kecuali orang yang beriman. Beriman menurut para ulama adalah iman kamila orang, keimanan yang sempurna. 

Kalau iman sudah sempurna, maka segala urusan adalah kebaikan, walaupun yang dialami adalah keburukan.
Bagi orang beriman dengan iman yang sempurna, maka keburukan itu adalah kebaikan. Kemudian Apabila orang beriman ditimpa  kesenangan, kebahagiaan dan kesuksesan, dia akan bersyukur maka itu yang lebih baik baginya, dan apabila dia ditimpa kegagalan ditimpa kesusahan, mendapatkan kesusahan, mendapatkan kesengsaraan, kemiskinan, dan ketidakberuntungan   maka akan bersabar dan itu lebih baik. Senjata orang-orang beriman  dalam kehidupan di dunia ini hanya ada dua, yaitu: syukur dan sabar.

Kalau ditimpa kebahagiaan, kesuksesan, senjatanya syukur.
Pelajaran yang bisa kita ambil daripada hadis ini:
1.  Bahwasanya hidup ini adalah ujian dan ujian itu dapat berbentuk kebaikan maupun keburukan. Senjatanya  Syukur.
2. Bagaimana menyikapi kebaikan dan keburukan yang kita terima dengan benar. Kita harus bersikap bijak, bersikap baik. Allah Subhanahu wa taala tidak mungkin menguji kita dengan keburukan yang kita tidak bisa pikul.
3. Cara terbaik untuk menyikapi ujian adalah dengan menguatkan keimanan.Kita harus memperkuat keimanan kita agar yang kita hadapi semuanya dianggap baik, semuanya yang terbaik.

4. Berdasarkan keimanan, jika seorang diuji dengan kebaikan, dia akan bersyukur dan jika diuji dengan keburukan, dia akan bersabar. Ciri-ciri orang yang bahagia, Apabila dia diberi kesuksesan, kebaikan dia bersyukur dan apabila dia diuji dengan keburukan dia akan sabar dan apabila dia berbuat dosa, berbuat maksiat, dia akan langsung istigfar. 
Jama’ah diajak untuk begitu sadar telah dosa dan maksiat agar tidak berputus asa. Pintu Allah terbuka segera bertaubat. Tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Semua dosa dan maksiat pasti diampuni oleh Allah subhanahu wa taala.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.