Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Subuh Istiqlal: Pentingnya Khusyuk dalam Shalat

Admin 13 Nov 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Drs. KH. Dzulfattah Yasin, MA

Sudahkah kita merenungi betapa melimpahnya nikmat Allah subhanahu wa ta'ala? Hal ini diingatkan oleh Allah SWT di surah Ar- Rahman yang diulang 31 kali. Allah SWT berfirman, 

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Artinya: “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?”. (Q.S Ar- Rahman [55])

Pada hakikat-Nya, Ar- Rahman yang berarti Maha Pengasih berlaku untuk seluruh makhluk Allah SWT baik beriman maupun kafir dan Ar-Rahim, Maha Penyayang, khusus nikmat yang diberikan untuk orang-orang beriman. “Nikmat Allah yang diberikan kepada orang beriman adalah ketika diwajibkan shalat lima waktu karena shalat merupakan sarana berdialog kepada Allah subhanahu wa ta'ala,” terang KH. Dzulfattah

Kiat Shalat Khusyuk

Shalat yang kita laksanakan setiap hari, shalat fardu maupun sunnah. Harus sejalan dengan pelaksanaan shalat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Rasulullah SAW berkata agar melaksanakan shalat dengan tenang dan tumaninah, jangan terburu-buru agar khusyuk. Allah  SWT berfirman, 

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ

Artinya: Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin” (QS. Al- Mu’Minun [23]: 10)

Sifat orang-orang yang beriman adalah orang yang shalatnya khusyuk, setelah itu shalat karena malu kepada-Nya. Maka demikian, shalat asal-asalan tidak ada maknanya di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.

Orang yang khusyuk adalah yang mencurahkan hatinya hanya tentang shalat. Hal yang tidak ada kaitannya dengan shalat, maka diabaikan. Apabila seseorang mau khusyuk, dari wudhu sudah dipersiapkan. Karena itu, langkah pertama untuk menghadap Allah SWT adalah dengan kehadiran hati kita. 

Selain itu, sifat paham atau mengerti ucapan, sehingga jiwa dapat memahami makna dalam shalat. “Ketika kita mengucapkan “Allahuakbar”, paham makna bahwa Allah Maha Besar dan jiwanya mengatakan tidak ada yang besar selain Allah SWT,’ tambah KH. Dzulfattah 

Kita juga diharuskan memahami ilmu dalam ibadah, agar diterima oleh Allah SWT. Batasan untuk seseorang belajar itu tidak ada. Dan di atas orang berilmu, masih ada yang berilmu hingga bermuara pada Allah SWT. Sebagaimana Allah berfirman di dalam surah Al- Qur’an: 

…وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

Artinya: “...dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui” (QS. Yusuf [12]: 76)

Kekhusyukan kita akan dinilai oleh Allah SWT dengan memahami tartil bacaan, seperti contoh dalam membaca Al-Fatihah yang tidak boleh sembarangan karena mempengaruhi sahnya shalat.

Selanjutnya, merasakan kehadiran Allah SWT. KH. Dzulfattah mengibaratkan seperti ketika bertemu dengan atasan atau orang penting, yang di mana kita harus berpakaian rapi, begitupun dengan menghadap Allah SWT. “Dalam khusyuk, kita hadirkan Allah SWT seolah-olah langsung menghadap-Nya,” tambahnya. 

Pandangan ketika shalat hanya menghadap ke bawah, yaitu ke tempat sujud. Jika tidak mampu khusyuk dalam shalat, disarankan untuk memejamkan mata. 

Sebagai penutup kajian, KH. Dzulfattah mengingatkan untuk istiqomah menerapkan khusyuk dalam beribadah. Karena dalam hidup ini, hanya Allah SWT yang mampu memberikan solusi terbaik dari persoalan yang kita hadapi. Allah Ta’ala berfirman, 

…وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مَخۡرَجًا ۙ‏ وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ​ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ​ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا‏

Artinya: “ …Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu” (QS. At- Talaq [65]: 2-3)

Selalu menghadap ke Allah SWT sebagaimana dalam firmannya: 

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

Artinya: "Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS. Al-Baqarah  [2]:45)

(TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.