Jakarta, www.istiqlal.or.id – Rasulullah SAW merupakan sosok uswah bagi kita semua agar kita menjadi seorang mukmin yang kuat, hebat, istiqamah, dan sabar dalam menjalankan segala aktivitas yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wata'ala, serta dalam menjaga diri agar tidak melaksanakan kemaksiatan kepada-Nya.
Kita semua juga tahu bahwa manusia tidak akan luput dari yang namanya musibah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,.” (QS. Al-Baqarah [2]:155)
Dr. H. Taufiqurrahman, MA., dalam renungan fajar di Lantai Utama Masjid Istiqlal menjelaskan, bahwa tiap manusia akan melewati yang namanya musibah. Allah subhanahu wata'ala akan memberi manusia cobaan-cobaan yang berbentuk dengan al-anfus. Misalnya kesehatan ataupun ekonomi yang menurun.
Tidak hanya cobaan secara individu, Allah subhanahu wata'ala juga memberikan cobaan yang sifatnya global, seperti bencana alam berupa banjir, gempa, ataupun sunami.
Musibah atau ujian akan memiliki nilai-nilai tersendiri di hadapan Allah subhanahu wata'ala. Bagi kita semua sebagai hamba Allah, tentunya hal pertama yang kita hadapkan untuk diri kita ketika mendengar kalimat musibah adalah bagaimana caranya kita selalu bisa mengambil hikmah dari musibah yang ada di dalam kehidupan kita.
Pada dasarnya ketika musibah itu Allah turunkan ke muka bumi ini, Allah menjelaskan kepada kita bahwa kadang kala musibah itu diakibatkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu)”. (Asy-Syūrā [42]:30)
Tetapi Allah menutup ayat tersebut dengan kalimat وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ. Allah memberikan maaf, Allah menurunkan sifat rahmahnya kepada orang-orang yang terkena musibah. Kenapa Allah memaafkan? Tentunya ini ada proses di mana ketika misalkan seseorang dikani musibah kemudian orang tersebut menyadari bahwa musibah itu adalah hasil dari perilaku dia, maka dia akan dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala.
Terkadang di antara kita ketika diberikan musibah oleh Allah masih banyak yang bertanya, “Apa kesalahan saya? Apa dosa yang saya lakukan? Dan kenapa bisa seperti ini?”
Kehidupan itu rahasia dari Allah subhanahu wata’ala, hanya Dia yang tahu, begitu juga kematian yanya diketahui oleh-Nya, tiada satupun manusia yang tahu dimana dirinyaakan mati. Begitu pula ketika kita menghadapi sebuah musibah, tidak akan pernah ada yang tahu selepas musibah ini, apa yang akan terjadi di kehidupan kita.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk bersabar dan menerapkannya dalam perilaku, karena pada dasarnya itu akan mengurangi efek psikologis dari hantaman musibah yang diterima. Saat manusia diberikan musibah dan dia merespon dengan mengeluh, dia tidak akan berpikir bahwa di balik musibah tersebut pasti ada hikmah.
Sebuah karangan kitab dari Syekh Ramadhan Al-Buthi di dalam kitabnya Min Sunnalillahi fi ’Ibadih, beliau menyatakan bahwa setidaknya ada dua hikmah dari musibah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu:
1. Sadar Bahwa Kita Adalah Hamba Allah
Pertama, pada hakikatnya manusia itu adalah hamba yang dimiliki. Pemilik manusia adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Maka ketika manusia sadar bahwa dia adalah seorang yang dimiliki oleh Tuhan semesta alam, maka dia akan sadar apapun yang menimpa kepada diri dia, baik itu musibah, kebahagian, tentunya pada hakikatnya sudah ditetapkan oleh Allah.
Maka ketika kita pertama kali diberikan musibah, ungkapan yang harus kita kedepankan sebagai seorang mukmin yaitu نَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,.
Kalimat itu bukan saja harus diucapkan oleh lisan, tapi harus direnungi oleh kalbu kita. Syekh Ramadhan Al-Buthi mengatakan bahwa manusia itu sendiri mau tidak mau harus menjalani kenyataan yang dia hadapi di dunia ini sesuai dengan takdir yang Allah tentukan karena pada dasarnya kita tahu bahwa semua pilihan Allah itu dalah pilihan yang terbaik.
Bisa jadi yang kita cintai itu tidak baik untuk kita, dan bisa jadi musibah yang menderak kita itu adalah sesuatu yang baik di mata Allah.
2. Menyadari Kehidupan Adalah Tempatnya Cobaan
Kedua, hikmah dari musibah menurut Syekh Ramadhan Al-Buthi adalah sesungguhnya manusia itu harus mengetahui dan mengiktikadkan di dalam dirinya, bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang disebut dengan darut taklif (pembebanan atau kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan).
Dunia ini tempatnya cobaan, semakin orang itu bersabar, maka semakin kuat keimanannya. Jika di dunia ini disebut darut taklif maka di akhirat disebut dengan darul jaza. Akhiratlah tempat yang akan membuat kita memanen segala amal kita.
Maka ketika dihadapakan oleh musibah, yakinkan bahwa musibah ini adalah sebuah ujian untuk menguji keimanan kita, kesabaran kita. (NADIEN/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.