Oleh: Ust. H. Muzakir Abdurrahman, SQ.MA
Kajian Renungan Fajar yang disampaikan Ustadz Muzakir Abdurrahman, di Masjid Istiqlal menggugah hati. Membahas tentang hakikat ujian dalam kehidupan, tausiah ini diawali dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ankabut ayat 2–3,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَيُفۡتَـنُوۡنَ
Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2).
Setiap ibadah yang dilakukan dengan keikhlasan, ujar Ustaz Muzakir, akan berbuah pahala berlipat ganda.
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Artinya: “Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang berdusta,” (QS. Al- Ankabut: 3).
Ayat ini menjadi landasan penting mengenai ujian sebagai bukti keimanan bahwa setiap orang beriman pasti akan diuji. Keimanan bukan sekadar pengakuan, melainkan pembuktian. “Melalui ujian, Allah SWT melihat siapa hamba-hamba-Nya yang benar-benar percaya kepada-Nya,” terang Ustadz Muzakir.
Makna Ujian dalam Hidup
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 155–157, dijelaskan bentuk-bentuk ujian yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ ١٥٥
Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” ( QS. Al-Baqarah: 155).
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” ( QS. Al-Baqarah: 156).
أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌۭ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۭ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ ١٥٧
Artinya: “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS. Al-Baqarah: 157).
Berdasarkan ayat di atas, Ustadz Muzakir menekankan pentingnya memahami bahwa musibah bukanlah tanda murka Allah, melainkan bentuk kasih sayang-Nya untuk menguji keikhlasan dan kesabaran.
“Tidak ada manusia yang ingin hidup dalam ketakutan, kekurangan, atau kehilangan. Namun, di balik setiap cobaan, selalu ada hikmah yang besar,” tuturnya.
Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ayub
Memahami ujian merupakan sarana Allah subhanahu wata’ala dalam menguji keikhlasan dan kesabaran hamba-Nya, Ustadz Muzakir menuturkan kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang diuji dengan perintah menyembelih putranya yaitu, Nabi Ismail ‘Alaihissalam.
Setelah menunggu puluhan tahun agar dikaruniai anak, Allah subhanahu wata’ala justru menguji Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dengan perintah yang setelahnya menjadi wujud ujian cinta dan keimanan yang sejati.”
Dengan penuh kepasrahan, Nabi Ibrahim Alaihissalam melaksanakan perintah Allah SWT tanpa ragu. Kesabaran dan keteguhan hatinya menjadi teladan bagi seluruh umat manusia hingga kini.
Begitu juga dengan kisah Nabi Ayub ‘Alaihissalam, yang sabar dan bersyukur dalam menghadapi cobaan berat setelah sebelumnya dikaruniai kekayaan melimpah.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Shad ayat 41:
وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَـٰنُ بِنُصْبٍۢ وَعَذَابٍ
Artinya: “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana." (QS. Shad: 41)
Nabi Ayub tidak pernah mengeluh berlebihan, bahkan menyebut penyakitnya sebagai “sedikit cobaan” (binusbin wa ‘adzab). “Inilah adab seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Ia tidak menuntut, hanya memohon dengan rendah hati,” ucap Ustadz Muzakir.
Firman Allah SWT dalam QS. Shad ayat 45:
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًۭا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَـٰهُ صَابِرًۭا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌۭ
Artinya: “Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah),” (QS. Shad: 45).
Kesabaran yang Tidak Terhitung Pahalanya
Mengenai kesabaran, Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 10:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas,” (QS. Az-Zumar: 10).
Dari firman Allah SWT tersebut kita dapat memahami bahwa pahala bagi orang-orang yang sabar tidak bisa diukur dengan hitungan manusia. Kesabaran dalam menghadapi ujian, kehilangan, maupun penderitaan akan berbuah kemuliaan di sisi Allah. “Sabar bukan hanya kata, tapi cermin kekuatan iman dan keteguhan hati,” jelas Ustaz Muzakir.
Doa untuk Keteguhan Iman
Ustadz Muzakir mengajak jamaah untuk senantiasa berdoa agar diberikan kekuatan dan keteguhan iman dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Ustadz Muzakir mengutip doa yang sering dibaca Rasulullah SAW:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Ustadz Muzakir menutup dengan harapan agar seluruh jamaah diberi kekuatan untuk menjadi pribadi yang sabar, tabah, dan penuh rasa syukur. “Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang sabar dan mengumpulkan kita bersama mereka di akhirat kelak. Amin, ya Mujibas-sa’ilin,” pungkasnya sebelum menutup dengan salam. (VISCHA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.