Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Qabla Jumat: Doa Nabi Ibrahim Untuk Kota Makkah

Admin 14 May 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. KH. Muchlis M. Hanafi, MA 


 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam menguraikan ayat-ayat haji kita dapat menggunakan tiga pendekatan atau dapat kita sebut dengan tafsir bil ma'ani asulasiah atau tiga lapisan makna. Pertama, kita akan mencermati ayat-ayat itu secara zahir, makna bahasanya, sebab nuzulnya, dan lain sebagainya. 

Lalu kita akan menangkap makna batilnya yang biasa dilakukan oleh kaum sufi dalam bentuk tafsir isyari sufi, karena sebagaimana dinyatakan dalam satu hadis dan dikuatkan oleh beberapa pandangan ulama bahwa Al-Qur’an itu memiliki makna zahrun wa batnun maksudnya adalah ada makna zahir dan makna batin. 

Kemudian yang ketiga, kita akan merenungkan, melakukan refleksi atau mentadaburi ayat-ayat tersebut sehingga terpikirkan oleh kita aksi apa yang harus kita lakukan setelah kita memahami ayat-ayat tersebut. Dengan tiga pendekatan ini, kita sudah dapat menguraikan ayat yang ada dalam surah Al-Baqarah ayat 125 yang berbunyi :

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ 

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!" (QS. Al Baqarah ayat 125)

Ayat ini berbicara tentang bagaimana Allah SWT menjadikan kota Mekkah menjadikan Ka’bah sebagai tempat kembali manusia, sebagai tempat yang aman, lalu diperintahkan kita untuk menjadikan makam Ibrahim sebagai tempat shalat. Lalu diperintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk mensucikan Ka’bah Baitullah dan mempersiapkannya bagi orang-orang yang ingin melakukan thawaf, melakukan shalat, dan lain sebagainya.

Lalu kita akan mempelajari ayat ke 126 yang masih terkait dengan ayat tadi. Oleh karenanya, di permulaan ayat 126 ini diawali dengan و (wau) huruf athof

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ۝١٢٦

Artinya : “(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Jadi ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya masih terkait dengan Nabi Ibrahim AS. Ada banyak pendapat mengenai Nabi Ibrahim dilahirkan, namun pendapat terkuat itu dari kalangan sejarawan yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim dilahirkan di Kota Ur al-Kaldaniyah. Kalau di dalam perjanjian lama itu disebutkan Ur Kasdim, yang sekarang berada di Irak, di selatan Kota Baghdad, di selatan Mesopotamia, ke arah tenggara sekitar 300 km, itu merupakan tanah kelahiran Nabi Ibrahim. 

Dari Kota Ur Kasdim yang berada di Irak itu, Nabi Ibrahim kemudian bertolak ke Kota Haran dan dari Haran bergerak ke Palestina lalu kemudian ke Mesir ditemani oleh Nabi Luth. Nabi Luth merupakan putra dari kakaknya atau keponakannya. Lalu di Mesir, Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Hajar setelah sebelumnya menikah dengan Sarah dan tidak mempunyai anak. Dari Mesir itulah lahir Nabi Ismail AS. Setelah dari Mesir kembali ke Palestina dan dari Palestina bersama Nabi Ismail pergi ke Mekkah, itulah alur perjalannya.

Mekkah saat itu adalah kota yang tandus, belum terdapat apa-apa. Maka dari situ, Nabi Ibrahim mendoakan kota Mekkah yang terdapat di surah Al-Baqarah ayat 126. Nabi Ibrahim mendoakan :

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ

Artinya : “…Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan)…” (QS. Al-Baqarah ayat 126)

Konon ketika beliau berdoa, malaikat langsung memindahkan sebongkah tanah dari negeri Syam ke Mekkah yang ditaruh di Thaif. Maka Thaif itu sekarang menjadi kota yang subur sekali dan tidak jauh dari Mekkah. Tetapi bukan hanya sebatas di Thaif karena jika kita melihat Kota Mekkah sekarang walaupun Kota Mekkah tidak mempunyai kebun, ladang sawah dan lain sebagainya. Tapi dengan datangnya jutaan manusia ke sana, makanan menjadi berlimpah, segala jenis makanan apapun ada, buah-buahan, sayur-sayuran, dan lain sebagainya. Jadi walaupun tidak mempunyai lahan pertanian tetapi berkat doa Nabi Ibrahim rezeki tidak terputus, rezeki berlimpah dalam bentuk makanan. 

Dalam doanya, Nabi Ibrahim memberikan catatan agar yang diberi rezeki adalah khusus untuk orang yang beriman saja karena Nabi Ibrahim ingin memberi pelajaran dan mengingatkan kita bahwa keimanan itu harus melandasi sebuah negeri. Jadi, Nabi Ibrahim mendoakan Kota Mekkah yang pertama agar aman, aman dari serangan musuh dan aman dalam arti penduduknya tentram, bahagia, tidak ada rasa cemas dan rasa takut. 

Kemudian yang kedua agar diberi kecukupan pangan. Secara ekonomi, dua hal ini sangat luar biasa dan menggambarkan visi Nabi Ibrahim dalam membangun Kota Mekkah. Nabi Ibrahim memohonkan dua hal yakni rasa aman dan kecukupan pangan karena memang kunci orang bahagia adalah negara makmur karena dua hal tersebut. 

Makanya di dalam surah Al-Quraisy, kita diminta untuk beribadah kepada Tuhan yang memberikan kita dua hal, yang telah membebaskan orang dari kemiskinan kelaparan dan memberikan rasa aman. Karena jika orang merasa perutnya tercukupi, rasa aman itu terjaga, tidak dizalimi, merasa ada keadilan, maka itu sudah cukup membuat orang bahagia dalam satu negeri, tidak perlu mencari kekayaan. 

Maka di sini stabilitas itu menjadi penting, kalau negara sedikit-sedikit itu kacau maka tidak akan bisa tenang, tidak akan bisa membangun. Orang bisa membangun kalau ada stabilitas, stabilitas itu didukung oleh rakyatnya jika mereka tidak terintimidasi, apapun keinginannya tercukupi sehingga tidak perlu adanya demo.

Nabi Ibrahim memberikan catatan bahwa kemakmuran satu negeri, kebahagiaan penduduk sebuah negeri itu akan dicapai dengan landasan iman. Iman itu yang harus menjadi dasar. Maka dalam ayat lain dikatakan dalam surah Al-A’raf ayat 96 :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf ayat 96)

Jadi keimanan itu harus menjadi pondasi dalam membangun masyarakat dan dalam membangun sebuah negeri. Catatan ini juga diberikan oleh Nabi Ibrahim di dalam surah Al-Baqarah ayat 124 :

وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًاۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ ۝١٢٤

Artinya : “(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”

Maka di sini, dalam doa Nabi Ibrahim meminta agar diberikan rezeki, rasa aman untuk orang yang beriman saja. Karena sebelumnya, Nabi Ibrahim diajarkan bahwa untuk orang zalim tidak boleh apalagi yang kafir karena sebagai bentuk ‘ta’adduban’ kepada Allah. Namun, jawaban Allah tidak disangka, Allah berkata bahwa orang kafir juga dapat rezeki dari Mekkah. 

Maka sampai sekarang kita melihat orang mendapatkan manfaat dari Mekkah itu bukan hanya yang muslim, bukan hanya yang beriman. Jadi, manfaat dari Kota Mekkah, manfaat dari orang yang berhaji dan umrah dirasakan oleh semua, ini menunjukkan bahwa Allah SWT itu rahmatnya maha luas dan Dia tidak membeda-bedakan dalam memberi rezeki, Allah tidak membeda-bedakan hamba-Nya, yang penting dia berusaha dan tidak pernah mengeluh. 

Jangan pernah mengeluh jika ada orang yang rajin beribadah tapi rezekinya tidak berlimpah dibandingkan dengan orang yang tidak rajin beribadah namun rezekinya melimpah karena itu bisa jadi orang-orang yang tidak shalat, kafir, zalim diberi rezeki terus menerus oleh Allah bukan dalam bentuk pujian, bukan dalam bentuk mengangkat derajatnya tapi dalam bentuk istidraj. 

Maka di sini dikatakan bahwa Allah akan memberi kesenangan sedikit kemudian Allah akan jebloskan dia ke neraka. Kebaikan yang Allah berikan kepada seseorang itu bukan berarti tanda ridha kepadanya, belum tentu karena Allah memuliakannya, karena dalam salah satu ayat dikatakan :

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ

Artinya : “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".” (QS. Al-Fajr ayat 15)

Maka yang bisa kita simpulkan dari doa Nabi Ibrahim adalah bahwa kunci kemajuan sebuah negara adalah ketika kita berhasil membangun dan menciptakan rasa aman dan ketika semua kebutuhan masyarakat dan penduduk negeri itu tercukupi dan yang tidak kalah pentingnya adalah pondasi utama dalam membangun sebuah negeri adalah beriman kepada Allah dan hari akhir, karena dengan iman dan takwa itu Allah SWT akan membukakan kepada kita keberkahan dan kebaikan yang berlimpah dari langit dan bumi dan dari segala penjuru.

Mudah-mudahan kita semua dapat menangkap pesan-pesan dari ayat ini dan ayat ini masih bersambung kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ketika keduanya membangun Ka’bah. Dan di surah Al-Baqarah ayat 127,128 dan 129 Nabi Ibrahim juga memberikan contoh kepada kita bagaimana ketika membangun Ka’bah dan Nabi Ibrahim mengiringi Ka’bah dengan doa, jadi membangun negeri itu tidak bisa dilepaskan dari doa-doa orang yang salah. (Shabrina/HUMAS MEDIA MASJID ISTIQLAL)



 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.