Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Pilihan: Memaksa Penafsiran Al-Qur'an

Admin 16 Jan 2023 Warta Istiqlal

Oleh : DR. Budi Utomo, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pada pembukaan Surah Al-Baqarah Al-Qur'an menjelaskan tiga golongan manusia dalam menerima hidayah. Yaitu:

1. Mukminin; percaya yang ghaib, mendirikan shalat dan berderma dengan hartanya

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ ٣

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka," (QS. al-Baqarah/2: 3)

2. Kafirun; tidak beriman walaupun sudah diberi peringatan, terkunci hatinya dari hidayah

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ٦

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman." (QS. al-Baqarah/2: 6)

3. Munafqun: mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendak menipu Allah dan orang beriman

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ ٨

Artinya: "Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang mukmin." (QS. al-Baqarah/2: 8)

Saat ini ada fenomena dimana sebagian orang mengklaim bahwa mereka adalah pemilik otoritas atas penafsiran makna Al-Qur'an dalam urusan tertentu. Yang paling kelihatan adalah pemaksanaan bentuk pemerintahan tertentu untuk dijalankan masyarakat muslim, sehingga orang yang tidak bersesuaian dengan idenya dianggap tidak loyal dengan Islam dan umat Islam, bahkan anti Islam.

Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah digeruduk dan disudutkan dengan penghakiman melalui sepenggal ayat إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّ (QS.Yusuf/12:40): hukum itu hanya milik Allah. Kalimat itu benar, tetapi menjadikannya alat untuk meneror orang yang tidak seideologi politik dengannya adalah kejahatan. Menurut Khalifah: kalimatul haq uridu biha albathil, retorika untuk membela kebathilan dengan kalimat kebenaran.

Seandainya hari ini ada yang mempolitisasi ayat untuk tujuan politik praktis, maka hakekatnya adalah pengulangan kejadian di atas. Apakah para penyihir ayat ini mau beriman dengan pemahaman yang dijelaskan berdasarkan sumber dari para ulama mu'tabar yang kompeten? Mereka akan terus ngotot dan punya banyak argumen untuk menentangnya karena merasa sudah mewakili Tuhan. Bahkan mencari cara agar para penentang idenya bisa dikafirkan masyarakat luas.

Jangan sampai cacat logika membinasakanmu hingga nekat membunuh umat Islam bahkan diri sendiri dengan cara keji. Cacat logika membuat orang mati konyol merasa sebagai syuhada, kelompok jumud dan dungu merasa sebagai ulama intelek.

Sebuah running text di televisi memuat berita turunnya harga saham di bursa saham membuat crazy rich merosot nilai asetnya. Iklan minuman sehat mengajukan pertanyaan, mengapa jerapah lehernya panjang, dijawab dengan "karena makanannya ada di atas." Faktanya: resesi dunia dan krisis ekonomi akut telah menyebabkan lesunya ekonomi, hal ini berimbas pada bisnis, termasuk bisnis saham. Para pebisnis di bidang saham yang nilai sahamnya merosot jelas nilai asetnya menjadi berkurang.

Namun lesunya bursa saham itu adalah sebagai penanda atau indikator bukan merupakan sebab. Begitu juga, fakta bahwa jerapah berleher panjang menjadikannya lebih nyaman untuk mengambil makanannya dari tumbuh-tumbuhan tinggi yang bisa diraihnya dengan mudah. Jadi pertanyaan yang diajukan seharusnya: Mengapa jerapah mengambil makanan dari tumbuhan yang tinggi? jawabannya karena lehernya panjang.

Begitu juga sunnatullah yang disebutkan dalam Al-Qur'an, bahwa keimanan dan ketakwaan penduduk negeri merupakan syarat dibukakannya pintu keberkahan langit dan bumi, sehingga masyarakatnya bisa aman,damai, bahagia, sejahtera dalam kehidupan di masyarakat, sampai pada keadaan ideal termasuk dalam pemerintahan mereka. Sebagaimana dalam Al-Qur'an disebutkan;

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ ١٥

Artinya: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk : 15)

Sehingga memaksakan keadaan aman damai dan ideal untuk bisa menjadikan masyarakat beriman dan bertakwa itu adalah cacat logika. Jangan karena alat, lupa alat lupa tujuan. Pilih mana, masyarakat yang beriman dan bertakwa dengan kondisi pemerintahan yang terus berproses menuju ideal, atau memaksakan formalisasi syariah padahal masyarakatnya belum berproses? Untuk memudahkan imajinasi, apakah Republik Islam Iran sudah mewakili Islam ideal dalam bernegara?

Sebelum masuk tahun-tahun politik yang rentan dengan fitnah, setiap warga muslim negara Indonesia hendaklah membaca sejarah dengan utuh, dengan sudut pandang yang benar.

Agama ini tidak cukup hanya bermodal semangat dan doktrin. Harus dengan cakrawala berpikir, sudut pandang yang luas dan kecerdasam tingkat tinggi. Jangan mudah mengkafirkan orang atas nama teks Al-Qur'an, sebab yang berlaku, jika ternyata yang dikafiran itu benar maka hukum kafir itu kembali kepada yang menuduhkan.

Punya kepedulian kepada umat, punya pandangan politik yang kritis untuk kemjuan umat memang baik, tetapi harus cerdas. Sepintar-pintar siasat itu harus dengan ilmu, bukan memaksa dengan kata, "pokoknya". Apalagi dengan kata, "kalau ente nggak setuju berarti ente kafir dong...?" Rabbi zidni 'ilman warzuqniy fahman. Aamiin.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.